16. Bisakah cinta ini memiliki sisi baik? (Bagian 3)

Guo Zhi terbaring ditempat tidur dengan selimut membungkus dirinya. Matanya tertutup, dahinya berkerut. Memar ditubuhnya meradang diikuti dengan demam tinggi.

Dia bermimpi buruk. Banyak hal buruk terjadi dimimpinya. Dia ditertawakan semua orang. Dia diejek sebagai orang menjijikkan dan dikatai gay. Orang-orang itu memegang rotan dan mengeroyoknya. Guo Zhi menangis, berteriak kesakitan, meminta orang-orang itu berhenti namun tidak ada yang peduli. Tidak ada yang memikirkan perasaannya. Dimata mereka Guo Zhi begitu menjijikkan. Mereka hanya ingin dia menghilang. Kemana pun ia akan kabur, ia takkan bisa lolos. Dimana ia bisa bebas? Ini dunia mereka. Dunia yang tidak menyediakan tempat untuk orang sepertinya.

Tuhan, kenapa kau memberikannya perbedaan yang hanya akan membuat menderita ini? Yang hanya akan membuatnya merasa menjijikkan?

Guo Zhi terbangun dari mimpi buruknya yang disambut rasa sakit dari tubuhnya. Dia menatap langit-langit. Dia sadar walaupun ia terbangun, mimpi itu tidak akan berhenti mengintainya.

Seperti inikah rasa kesepian karena berbeda dari orang lain? Rasanya diasing semua orang. Kenapa orang lain tidak sepertinya? Kenapa hanya dirinya sendiri? Apa ada orang diluar sana yang juga sama dengannya?

.
.

Zhou Hui dengan perasaan cemas meminumkan obat anti nyeri dan penurun panas. "Guo Zhi, bagaimana keadaanmu? jangan membuat ibu khawatir."

"Jangan cemas, bu. Aku merasa lebih baik." Guo Zhi tersenyum.

"Bagaimana tidak cemas? Ayahmu terlalu keras padamu." Zhou Hui tak tahan untuk mengeluh. "Walaupun ibu tidak memahami sikap ayahmu, kau hanya anak kami satu-satunya. Kami tidak ingin kau terjerumus ke hal yang salah."

"Aku tahu."

"Lupakan itu. Kau masih terlalu muda jadi tak mengerti apa yang kau katakan. Saat kau lebih dewasa nanti, kau akan mengerti kenapa ayahmu semarah itu." 

"Baik, aku akan melupakan semuanya." Guo Zhi berjanji dengan serius pada Zhou Hui.

Guo Yunyong juga sangat cemas namun dia hanya berdiri didepan pintu, menahan diri untuk tak masuk. Dia pikir itu hukuman yang pantas didapat Guo Zhi. Dia berharap anaknya itu menyadari kesalahannya.

Setelah seminggu terbaring ditempat tidur, Guo Zhi akhirnya kembali ke sekolah. Dia tampak tidak berubah dari biasanya. Dia hanya menyembunyikan memar ditubuhnya. Menyembunyikan dirinya yang berbeda jauh didalam hatinya. Tidak tersentuh.
.
.
.

Saat ini Guo Zhi melihat pantulan dirinya dicermin. Air matanya mengalir. Sesuatu yang tersembunyi didalam dirinya akan selalu ada ditubuhnya. Dia melepas pakaiannya dan bekas luka yang buruk kini terlihat.

Apa dia melakukan kesalahan lagi? Apa dia menyukai Shi Xi? Apa dia masih menyukai lelaki? Bekas luka ditubuhnya terasa sedikit sakit. Apakah Shi Xi akan bereaksi seperti kedua orangtuanya? Akankah Shi Xi membencinya?

Begitu banyak hal yang rumit. Ibu, dirinya sudah bertambah besar sekarang namun masih tidak mengerti semua ini.

Seharusnya dia tidak kesini jika tahu hal ini akan terjadi.

Dia tidak seharusnya membuka topi Shi Xi, tidak seharusnya mengenal Shi Xi, tidak seharusnya bersikap baik padanya namun dia lakukan. Karena orang itu adalah Shi Xi.

Dengan jemari bergetar Guo Zhi menyentuh bekas lukanya. Ini salah. Dia sudah berjanji pada orangtuanya bahwa itu kesalahan. Mungkin dia sudah menyadari tetapi tidak berani untuk memikirkannya. Satu kesalahan terjadi lagi.

Dia adalah lelaki, memiliki tubuh yang sama dengan Shi Xi. Alasan sederhana namun itulah kendala terbesarnya.

Tiba-tiba Shi Xi muncul dipantulan cermin, berdiri diambang pintu dan menatapnya diam. Shi Xi tidak lagi memakai topi, wajah tampannya berada dipantulan yang sama dengan bekas luka buruknya. Guo Zhi meraup bajunya dan menutupi bekas luka sambil menggeleng kuat. "Jangan lihat. Jangan melihatku."

Guo Zhi ingin lari. Dia tidak ingin Shi Xi melihatnya. Dia sudah pernah mengetahui reaksi orangtuanya. Bagaimana jika Shi Xi juga bereaksi sama? Apa yang harus ia lakukan?

Shi Xi tidak bicara. Kakinya bergerak maju. Guo Zhi melangkah mundur masih terus menangis. Dia tidak mengira air matanya terus mengalir sejak tadi. "Maaf. Aku tidak seharusnya menamparmu. Aku tidak seharusnya menyukaimu. Aku minta maaf, Shi Xi. Aku gay. Sungguh. Maafkan aku."

Guo Zhi mundur hingga tak ada ruang lagi untuk bergerak, Shi Xi mendekat, meraih dagunya memaksa mata Guo Zhi menatapnya. Menyela Guo Zhi yang masih terus meracau kata maaf dengan dingin. "Diam."

Guo Zhi tak lagi bersuara. Dia telah jatuh dalam perangkap Shi Xi. Jika terjatuh, dia akan mati, suaranya berirama indah. Mendengarkan kalimat yang membuatnya bangkit lagi. "Guo Zhi, tidak seharusnya ada permintaan maaf karena menyukai apapun itu."

"Bahkan jika aku menyukaimu?"

"Bahkan jika kau menyukaiku?"

"Bukan seperti ini. Kau tidak akan mengerti. Bekas luka ini untuk membuatku lupa kalau aku suka lelaki. Tapi aku..." Guo Zhi terisak, tak bisa melanjutkan kalimatnya.

Shi Xi menyingkirkan tangan Guo Zhi yang menutup bekas lukanya dengan pakaian. Tangannya yang lain mengelus sepanjang garis bekas luka itu. Dengan lembut dia berkata, "Bekas ini tidak mungkin membuatmu lupa. Ini hanya akan membuatmu terus mengingatnya."

"Sekarang kau sudah tahu, Shi Xi. Apa kau akan membenciku seperti orang lain?" Guo Zhi berjongkok masih menangis. Meremat ujung jemarinya.

"Tidak."

"Jangan membohongiku. Ayah bilang aku sangat memalukan. Aku menjijikkan. Jadi kau membenciku juga kan?"

"Tidak."

"Aku tidak percaya. Kau hanya coba menghiburku."

"Aku tidak perlu menghiburmu."

"Bisa kau buktikan? Senyumlah."

"Itu tidak mungkin."

"Kalau begitu kau membenciku, kan?" Guo Zhi mencoba untuk menahan tangisnya namun tetap saja air matanya terus mengalir.

Shi Xhi tiba-tiba ikut berjongkok lalu menahan tangan Guo Zhi. Shi Xi mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Guo Zhi dengan lembut.

Di musim panas ini, suhu yang diberikan Shi Xi terasa nyaman. Guo Zhi melebarkan matanya, tangisannya terhenti. Hatinya terasa hangat. Begitu hangat.

Shi Xi kembali berdiri, melihat Guo Zhi. "Apa ini bisa jadi bukti?"
.
.

Jika dia tahu siapa dirinya, jangan ucapkan sepatah kata pun.

Bisakah cinta ini memiliki sisi yang baik? Ya, sekarang.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments