15. Bisakah cinta ini memiliki sisi baik? (Bagian 2)

Guo Zhi berlari kembali ke hotel. Air matanya terus mengalir tak bisa berhenti. Ia menatap pantulan wajahnya dicermin seketika memori lama tak terlupakan muncul dari ingatannya.
.
.
.

Langit dihari itu tampak biru berawan. Guo Zhi yang masih duduk dibangku SMP pulang kerumah dengan tas ransel dipunggungnya. Dia sudah sadar kalau ia berbeda dari orang lain dan bangga karena hal itu. Dia selalu bahagia, tidak ada alasan untuk bersedih.

"Ibu, aku pulang." Guo Zhi masuk kerumah lalu meletakkan tasnya dikamar.

"Kau pulang lebih awal. Ibu baru saja dari pasar membeli beberapa buah. Tunggu ibu akan mencucinya dulu."

"Baik."

Mendengar suara diluar, Guo Yunyong keluar dari kamar dengan koran ditangannya. "Bagaimana hari pertamamu disekolah? Tidak ada kendala kan?" Perkembangan belajar, prestasi dan masa depan Guo Zhi adalah hal yang hanya dipedulikan pria paruh baya itu.

"Sangat baik. Guru disekolah sangat bertanggungjawab dan siswanya juga menyenangkan." Jawab Guo Zhi dengan serius.

Guo Yunyong mengangguk puas. "Kau harus meningkatkan nilai bahasa inggrismu. Kau harus lebih giat belajar di SMP."

"Aku tahu."

"Besok Ayah akan menemanimu ke toko buku untuk beli buku bahasa inggris."

"Baik."

Guo Yunyoung beralih menyalakan TV, mengganti siaran berita lalu menyalakan rokok sambil memangku kakinya bersamaan dengan Zhou Hui muncul dengan membawa buah yang sudah dicuci. Ia menatap lembut Guo Zhi lalu mengusap kepalanya. "Guo Zhi kita sangat penurut. Ibu yakin kau akan mendapat istri yang baik dimasa depan. Apa ada yang sedang kau suka saat ini?" Goda Zhou Hui.

"Omong kosong apa yang sedang kau katakan itu." sela Guo Yunyong.

Guo Zhi menggigit buah apel dengan mata yang tertuju pada TV. Wajahnya polos dan pancaran matanya jernih dengan alaminya ia berkata, "Tapi aku tidak suka perempuan. Sepertinya aku menyukai lelaki." Setelah mengatakan itu, suasana mendadak senyap hanya suara dari TV yang terdengar. Pisau buah ditangan Zhou Hui terlepas dan jatuh kelantai.

Mata Guo Yunyong memicing tajam dan dingin menatap Guo Zhi. "Kau... Apa yang baru saja kau katakan?"

Guo Zhi masih tidak sadar dan fokus menonton TV sambil mengayunkan kakinya. "Aku tidak suka perempuan, sepertinya aku menyukai lelaki." Ulangnya.

Guo Yunyong menggertakkan giginya. Ia memadamkan rokoknya lalu mematikan TV dan beralih menatap Guo Zhi. "Siapa yang mengajarimu mengatakan hal ini?"

"Tidak, tidak seorangpun." Guo Zhi sadar raut wajah ayahnya berubah.

"Darimana kau mempelajarinya?"

Guo Zhi menggeleng kuat. Guo Yunyong pergi kekamar Guo Zhi lalu kembali dengan membawa tas ransel anaknya itu. Membuka resleting tas dengan kasar dan membuang isi tas kelantai. "Kau pasti membaca buku yang anehkan? Jujur padaku!" Guo Yunyong mencari alasan kenapa Guo Zhi sampai mengatakan hal seperti itu. Sungguh tidak bisa dipercaya.

Guo Yunyong murka. Ia melempar tas yang sudah kosong itu ke arah Guo Zhi.

Guo Zhi mengkeret dibangkunya. Ia bingung dan tertegun. Tidak mengerti kesalahan apa yang dilakukan hingga ayahnya berubah marah seperti itu. Dia dengan ragu bertanya, "Apa itu salah kalau aku menyukai lelaki?"

Guo Yunyong maju lalu mencengkeram lengan Guo Zhi menariknya berdiri. Dahi Guo Zhi mengerut merasakan perih namun tak bersuara. "Bagaimana bisa kau mengatakan kata memalukan itu? Apa kau tidak jijik?" Zhou Hui melerai, "Guo Zhi, kau hanya bercanda kan? Cepat katakan pada ayahmu itu hanya candaan."

"Apa kau lihat wajahnya itu seperti sedang bercanda? Tenang saja! Aku akan mendidiknya. Dia tidak menyadari besarnya kesalahan yang ia lakukan itu."

Sadar akan berbeda dari orang lain membuat perasaan orang disekitarnya terluka membuat Guo Zhi berubah pucat.

Wajah Guo Yunyong merah padam karena amarah sambil menyeret Guo Zhi membuat apel ditangannya jatuh dan menggelinding dilantai.

"Dimana kau mempelajari hal itu? Menyukai pria? Coba saja kalau kau berani katakan hal menjijikan itu." Bentak Guo Yunyong.

Guo Zhi ketakutan, tubuhnya mengigil. "A-aku tidak bisa menyukai lelaki?"

Mendengar itu Guo Yunyong kian tersulut emosi. Ia meraih rotan lalu mencambuk tubuh Guo Zhi tanpa ragu. "Beraninya kau katakan itu. Kau itu abnormal!"

"Kau sakit!" Imbuhnya lalu mencambuk lagi.

"Kau itu cacat mental!"

"Aku membesarkanmu bukan untuk menjadi gay!"

"Bagaimana kau akan menghadapi dunia luar menjadi orang seperti turunan binatang itu. Kau benar-benar membuat aku dan ibumu marah."

Setiap kalimat yang dilontarkan diikuti dengan cambukan. Suara rotan yang menabrak kulitnya menggema. Guo Zhi merintih kesakitan mencoba untuk menghindar. Perkataan dan cambukan menjadikan rasa sakit menembus tubuhnya. Guo Zhi menangis, ia tak tahan lagi. "Ayah, jangan pukul lagi. Ini sakit, sangat sakit!"

"Sakit! Kau tahu ini menyakitkan dan masih berani mengatakan menyukai lelaki. Tidak pernah terpikirkan dalam hidupku bagaimana bisa aku mempunyai anak yang tidak berguna sepertimu. Apa kau juga mengatakan hal ini diluar sana?"
    
"Tidak, aku tidak mengatakannya."

"Lebih baik tidak. Apa kau ingin dijadikan bahan ejekan semua orang?"

Sakit dan perih. Guo Zhi yang masih 13 tahun menangis pilu dibawah cambukan rotan. Zhou Hui berdiri dibelakang Guo Yunyong. Dia tidak berani bicara. Hatinya susah melihat Guo Zhi namun dia juga kecewa. Dia tidak mengerti bagaimana bisa anaknya mengatakan itu. Dia hanya menangis dalam diam.

Guo Zhi melihat wajah kecewa ibunya dari pandangannya yang kabur karena air mata. Wajah marah ayahnya yang menjelaskan bahwa dia suka laki-laki bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, tetapi hal yang salah, yang akan membawa begitu banyak rasa sakit pada dirinya dan keluarganya. Dia merasa sangat bersalah, merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri, tidak boleh menyukai pria, tidak bisa menyukai pria, ini salah.

"Lihat dirimu Guo Zhi. Kau juga lelaki." Guo Yunyong masih terus saja mencambuknya dan disahut oleh teriakan kesakitan Guo Zhi.

"Ayah, jangan pukul aku. Jangan pukul lagi. Aku mohon.... Ini sakit." Tubuh Guo Zhi sudah tidak kuat menahannya. Dia menangis dan memohon ampun. Air matanya jatuh membahasi pakaiannya.

"Katakan kau tidak akan menyukai laki-laki dan menjadi abnormal!"

Guo Zhi menggeleng kepalanya kuat.

"Katakan!"

"Sakit! Tidak, aku tidak menyukai lelaki."

"Kau tahu jika kau salah kan?"

"A-aku tahu!" Memar ditubuh Guo Zhi menjadi luka. Darah mengucur keluar merembes dipakaiannya.

"Luka dan rasa sakit ini menjadi ingatan yang baik untukmu. Ini akan mengingatkanmu kalau kau bukan gay."

Guo Yunyong membuang rotan ke lantai dan berjalan masuk kekamarnya dengan marah.

Zhou Hui bergegas menopang tubuh lemah Guo Zhi. Air matanya terus mengalir. Menangani luka Guo Zhi dalam diam. Bibir anak itu pucat dengan jemari yang gemetar menyeka air mata diwajah ibunya. "Ibu, maafkan aku. Aku tidak seharusnya membuat hatimu sakit begini. Semuanya salahku. Aku tidak akan mengatakan seperti itu lagi. Maaf. Jangan menangis."

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments