14. Bisakah cinta ini memiliki sisi yang baik?

Keduanya sedang berlibur namun tak seperti orang yang menikmati hari libur pada umumnya. Yang mereka lakukan hanya berdiam diri dikamar hotel. Shi Xi duduk dibangku dekat jendela dengan memangku kakinya. Dia terus menatap layar laptop yang menyala terkadang menulis banyak kalimat namun pada akhirnya tidak tahu apa yang harus ditulis. Bisakah seseorang menulis sepanjang hidupnya? Mungkin ketika kau lelah mengulang kata, itu adalah cara yang terbaik untuk menemukan waktu yang tepat untuk mengakhirinya. Guo Zhi duduk dihadapan Shi Xi, memandangi manuskrip yang berserakan diatas meja, coretan kalimat dikertas bekas.

[Dia memiliki penampilan seperti orang kota, dia memiliki suara yang terkenal, dia memiliki perhiasan emas dan perak, dia dibungkus dengan satin brokat, tetapi juga memiliki kesepian yang memilukan.

Dia tersenyum di depan para tamu dengan senyum, tetapi juga dengan senyuman seperti itu membiarkan pria dan wanita yang berbeda mencemari tubuh mereka, ini topengnya, tidak bisa bertahan tanpa lepas landas. Dia tersenyum dan tertawa, tertawa dan air mata mengalir dari matanya, tidak peduli siapa yang dipeluk atau siapa yang dipeluknya, tidak bisa mengurangi rasa kesepiannya. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi. Dia melarikan diri dengan kesepiannya.

Dia merasa sangat santai. Dia pikir semuanya akan mulai lagi. Tetapi satu orang ingin memulai ide ini lagi, dan pada akhirnya itu hanya harapan yang baik. Bagaimanapun, ia ditangkap oleh beberapa pria pemberani yang dikirim oleh pria tua itu. Mereka merobek satin brokatnya, mengambil perhiasan emas dan peraknya, menghancurkan wajahnya dengan pisau, tubuhnya hancur, dan akhirnya dingin. Ujung pisaunya menembus jantungnya, darahnya mengalir keluar, tubuhnya perlahan mulai mendingin, dia mendapat kebebasan pendek, dan dia mati selamanya. Dia ditendang ke parit kotor dan tenggelam.

Tuhan mengatur nasib untuk semua orang, berpikir bahwa ia dapat melarikan diri, apa yang dapat ia lakukan setelah melarikan diri? Dia bisa menikmati reputasinya. Perhiasan emas dan peraknya, dia bisa mengabaikan kesepian ini, dia dengan naif mengira dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Pada akhirnya, dia bahkan tidak bisa merasa kesepian.]

Guo Zhi membaca sambil menopang dagu dengan siku yang tertumpu diatas kertas itu. Ia kemudian memandang Shi Xi yang sedang melihat keluar jendela. "Shi Xi, kenapa kau menulis fiksi dengan kalimat yang begitu berat? Apa kau juga ingin agar orang yang membacanya ikut merasakannya?"

"Dunia ini sendiri sudah berat."

"Kalau begitu," Guo Zhi melihat objek diluar jendela lalu kembali menatap Shi Xi. "Bantu dunia untuk mengurangi rasa sakit, kata-kata tidak hanya bisa menghangatkan orang lain, tetapi juga dirimu sendiri."

Mereka hanya dipisahkan oleh meja namun Guo Zhi tidak bisa melihat senyum samar diwajah Shi Xi.

.
.

Pukul 11 pagi keduanya pergi keluar dan singgah di sebuah restoran kecil. Mereka tidak mengobrol, hanya menikmati makanan dengan tenang. Guo Zhi ingin membuka percakapan namun kalimatnya tertahan ditengggorokan. Ia memikirkan aturan ayahnya tentang tidak sopan berbicara saat makan. Peraturan seperti ini sungguh mengekang kebebasannya.

Aturan dikeluarga dan keinginannya untuk berbicara pada Shi Xi berkecamuk dibatinnya. Guo Zhi tidak tahan lagi. Ia menggigit sumpitnya. "Shi Xi." Hanya dengan memanggil nama lelaki itu saja sudah membuat Guo Zhi sangat senang.

"Kenapa?"

"Shi Xi, Shi Xi, Shi Xi..." Ia terus memanggil nama itu. Aturan yang sudah lama dipatuhinya kini dilanggar. Guo Zhi seketika merasa sedikit lega. Setelah itu, ia banyak melakukan hal yang tidak bisa ia lakukan dan pikirkan sebelumnya.

"Shi Xi, mungkin kau adalah malaikatku."

"Jangan membuat selera makanku hilang."

"Aku melihat anak kecil digendongan ibunya disebelah sana. Sangat menggemaskan."

"Shi Xi, bagaimana menurutmu tentang sekolah dan kampus? Apa sama?"

"Shi Xi, menurutmu berapa banyak aku akan bertambah tinggi tahun ini?"

Guo Zhi terus saja berbicara tak peduli Shi Xi tidak menjawabnya. Orang-orang datang dan pergi direstoran itu. Senyuman berbinar tercetak di wajah Guo Zhi. Anekdot lama membahas tentang masa kini. Membahas tentang Shi Xi, dia memegang sumpit, mereka duduk disisi jendela yang dipenuhi kerumunan orang berlalu lalang. Namun disekitar mereka seakan objek yang kabur hanya keduanya yang tampak jelas.

Kita selalu memiliki keinginan untuk memberi tahu seseorang, tanpa henti, bahkan jika bahasanya diulang, tidak bermakna, namun Guo Zhi hanya ingin berbicara dengannya.
.
.
.

Setelah makan, keduanya berdiri di bawah terik matahari, tidak tahu harus ke mana. Mereka tidak punya tujuan. Ada pasangan melewati mereka dengan wajah bahagia dan tangan yang saling bertaut. Guo Zhi tiba-tiba bersuara. "Apa kau tidak berpikiran untuk menulis tentang cinta?"

"Tidak ada yang bisa ditulis."

"Itu karena kau tidak pernah mencoba mengenal cinta."

"Setelah menemukan seseorang itu, lalu?"

"Tentu saja hidup bahagia!" Guo Zhi percaya bahwa kebahagiaan adalah akhir dari kisah cinta. Dengan polosnya ia melanjutkan, "Cinta adalah sesuatu yang baik. Kupikir segala sesuatunya memiliki sisi baik."

"Kita menikmati waktu, lalu? Itu hanya akan menjadi kenangan. Bagaimana bisa akan bertahan hanya dengan kenangan?" Menghancurkan kepolosan Guo Zhi yang ingin menikmati setiap momen dan Shi Xi lebih peduli setelah itu.

"Apa kau pernah memiliki seseorang?"

"Tidak pernah."

"Kalau begitu cari seseorang yang baik untukmu." kata Guo Zhi sambil menendang kerikil. "Kau seharusnya memacari seorang gadis dan coba untuk jatuh cinta. Itu akan membantumu menulis naskah." Guo Zhi tidak ingin mengatakan kalimat ini. Ia ingin menarik kalimatnya kembali setelah ia reflek mengatakan itu. Guo Zhi tidak mengerti pemikiran ini dan ia tidak ingin mengerti. Mungkin Guo Zhi takut untuk mengerti.

"Mencoba pada siapa? Kau? Lalu kau akan mendapat akhir yang bahagia." Respon Shi Xi bertubi-tubi.

Mendengar itu, ekspresi Guo Zhi kaku. Ia menggeleng kuat. "Aku tidak bisa. Aku laki-laki." Tegasnya.

Shixi mengamati reaksi Guo Zhi dan sepertinya telah memperhatikan apa itu. Entah dia dilahirkan dengan kejahatan atau tidak, atau dia akhirnya berhasil menembus emosi Guo Zhi.

"Tetapi bukankah kau menyukaiku?"
    
Pertanyaan itu seketika menimbulkan rasa sakit. Wajah Guo Zhi pucat, tangannya terangkat tak terkendali menampar Shi Xi. "Tidak, Apa yang kau katakan? Aku tidak menyukaimu. Aku bukan gay."

Guo Zhi menatap Shi Xi dengan air mata yang mengalir. Ekspresinya pucat dan gemetar. Ia menjerit histeris. "Aku bukan gay. Aku bukan gay. Didalam hidup ini hal yang paling aku benci adalah menjadi gay." Setelah mengatakan itu, Guo Zhi melarikan diri.

Shi Xi ingin melihat ekspresi lain dari wajah itu selain senyuman. Sekarang dia melihatnya namun dia menyesal.
.
.
.

Guo Zhi berlari dengan kencang. Jemarinya gemetar ia tidak bisa menggenggam apapun. Tidak hanya tubuh luarnya, organ internalnya pun terasa kesakitan.

Akan dipandang aneh orang, akan dicemooh. Akan diperlakukan seperti monster yang menjadi tontonan orang, akan dihujat oleh semua orang termasuk orang tua kandungnya sendiri.
    
Jadi bisakah cinta yang spesial ini memiliki sisi baik? Tidak, tidak...

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments