13. Perjalanan yang hampa

Menjelang siang, cahaya matahari yang hangat masuk menerobos jendela dan jatuh di tempat tidur. Shi Xi mengerjap dan membuka mata, melihat Guo Zhi yang sedang menatapnya membuat Shi Xi bangun dan terduduk.

Guo Zhi berdiri, "Aku akan menutup tirainya, kau bisa melanjutkan tidurmu. Aku akan tetap diam menunggumu disini." Ia benar-benar tidak berisik, bahkan ia menggunakan pakaiannya untuk membuka botol air mineral.

Shi Xi menatapnya datar. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Kenapa masih bertanya? Bukankah ini waktu yang tepat untuk pergi liburan bersama? Aku sudah bersusah payah meminta ijin untuk hal ini. Lihat! Aku sudah berkemas." Guo Zhi menunjukkan tas ranselnya.

Shi Xi beranjak dari kasurnya. "Apa urusannya denganku?"

"Tentu saja ini urusanmu!" Guo Zhi mendatarkan bibirnya. Ia akan membuka mulutnya lagi ketika bersamaan dengan Shi Xi melepas kaosnya dan melempar begitu saja ketempat tidur membuat Guo Zhi terbata. "Dan, dan..." Ah, ia sudah lupa apa yang ingin dikatakannya lagi.

Guo Zhi meremat jemarinya sambil menatap pakaian Shi Xi diatas tempat tidur, "Shi Xi, lain kali jangan melepas pakaianmu didepanku lagi. Itu membuat pikiranku tersendat."

Shi Xi hanya melirk sekilas ke arah Guo Zhi. Raut wajahnya tampak tidak peduli maksud dari perkataan Guo Zhi. Shi Xi tak menanggapi, ia pergi ke toilet.
.
.

Tidak banyak barang yang dibawa Shi Xi ditas ranselnya. Hanya beberapa helai pakaian, beberapa buku dan laptop. Mereka pergi ke sebuah kota yang tidak terlalu jauh. Bus melaju dengan pelan dijalan raya. Shi Xi melihat pemandangan yang dilewati melalui jendela. Telinganya disumpal hedset.

Guo Zhi duduk sebelahnya. Membaca buku sambil mengunyah biskuit. Ketika remahannya jatuh mengotori buku, ia membersihkannya lalu kembali fokus pada bacaannya.

Tak berapa lama, Guo Zhi melirik Shi Xi, sisi wajah sempurna lelaki itu yang tidak tertutup topi dengan baik tertangkap penglihatannya.

Guo Zhi tiba-tiba merasa jantungnya berdebar. Ia segera menggosok matanya kuat untuk melenyapkan bayangan wajah Shi Xi. Remahan biskuit yang menempel ditangannya masuk ke mata kirinya membuat Guo Zhi tak bisa membuka mata.

Shi Xi yang merasakan gerakan disebelahnya menoleh dan melihat Guo Zhi yang sibuk mengucek matanya. "Apa yang kau lakukan?"

 "Sesuatu masuk ke mataku."

"Jangan digosok!"

"Rasanya perih."

"Sudah kubilang jangan gosok." Shi Xi menahan lengan Guo Zhi. Lalu melihat mata Guo Zhi yang sudah memerah.

"Bagaimana?" Tanya Guo Zhi khawatir.

"Buta."

"Sungguh? Tapi kenapa aku masih melihatmu? Lalu apa yang harus kulakukan dengan kuliahku nanti? Aku butuh kedua mataku." Guo Zhi panik.

"Kau percaya? Apa kau tidak punya otak?"

"Aku sangat mempercayaimu tapi kau berbohong bahkan memarahiku!" 

"Jangan gosok!" Shi Xi mendekat ke mata kiri Guo Zhi lalu meniupnya pelan. Debaran jantung Guo Zhi semakin intense.

"Kau sangat hebat!" Puji Guo Zhi sambil meremas pakaiannya didada. Entahlah, ucapannya ini untuk tindakan Shi Xi yang berhasil memulihkan matanya atau karena berhasil menaikkan detak jantungnya.
.
.

Ketika mereka turun dari bus, langit mulai gelap. Shi Xi bukan orang yang berencana kemana akan pergi, dan Guo Zhi adalah orang yang akan mengikuti kemanapun Shi Xi pergi.

.
.

Kota asing ini sungguh membuat penasaran. Guo Zhi menyukai sensasi asing dan menyegarkan ini. Dikelilingi orang asing, dialek dan makanan. Mereka berbaur didalamnya.
.
.

Keduanya memilih menginap dihotel kecil. Ada pria tua berpakaian compang-camping didepan pintunya, terlihat menyedihkan. Guo Zhi mengeluarkan beberapa lembar uang dan ditaruhnya dihadapan pria tua itu.
.
.

Pemilik dihotel itu sangat tidak baik. Mengabaikan riasan wajahnya yang belepotan duduk didepan komputer. "Berapa kamar?" Tanyanya malas.

"Dua."

"Kartu identitas."
.
.

Guo Zhi berdiri didepan konter tidak terganggu dengan ruangan hotel yang berbau aroma rokok dan parfum yang menyengat. Guo Zhi tersenyum menatap pemilik hotel didepannya. "Boss, kau perlu berjalan-jalan."

Pemilik hotel melihatnya acuh dan tak menanggapi.

.
.

Dengan kartu pintu kamar yang kusam digenggamannya, Guo Zhi mengikuti langkah Shi Xi menaiki tangga berkarpet menuju kamar dilantai tiga. Ia memperhatikan sekeliling seakan ada hal menarik yang bisa menarik perhatiannya.

Mereka masuk ke kamar masing-masing, namun setelah beberapa saat, Guo Zhi keluar dan mengetuk kamar Shi Xi dengan keras. "Ada suara aneh dikamarku." Guo Zhi ketakutan.

Shi Xi mengernyit. Dia berniat memeriksanya namun dicegah Guo Zhi. "Jangan kesana. Biasanya difilm horor orang yang tidak percaya dan pergi untuk melihatnya akan mati lebih dulu."

"Ayo!"

Guo Zhi berjalan dibelakang Shi Xi memasuki kamarnya. Terdengar suara samar desahan wanita.

"Apakah itu hantu?" 

"Berkembangbiak."

Wajah Guo Zhi memerah. Tidak tahu harus berkata apa. Suara desahan itu terus terdengar.

Shi Xi melihat reaksi tak jelas Guo Zhi. "Kau tidak pernah menonton film level 3?"

"Tentu saja tidak." Wajah Guo Zhi semakin memerah. Telinganya bahkan ikut memerah. "Aku hanya menonton film level 1 dan 2."

"Seleramu mengejutkan."

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan! Level 1 adalah film bela diri, dan level 2 itu film romantis. Bukankah begitu?" Ini hanya anggapannya sendiri. Guo Zhi sebenarnya tidak tahu. "Benarkan?" Imbuhnya pelan.

"Sudah jelas bukan itu."

"Apa? Benarkah?" Guo Zhi menutup mulutnya. Raut wajahnya memucat. Dulu saat SMP, untuk membuktikan ibunya kalau dia anak baik, Guo Zhi pergi kedapur dan berkata, "Ibu jangan khawatir. Aku tidak pernah menonton film level 3, aku hanya menonton level 1 dan 2." Ekspresi ibunya berubah aneh dan hanya berbisik. "Apa yang anak ini katakan?"

Sekarang, Guo Zhi sulit menerima hal yang baru diketahuinya ini.

Shi Xi memicing, "Karena kebodohanmu itu, kau pasti sudah mengatakannya ke banyak orang."

"Hanya, hanya tiga atau empat."

Tak heran, reaksi mereka menjadi aneh tetapi tak pernah mengoreksinya.

"Kebodohanmu itu selalu mengejutkanku." Ucap Shi Xi dengan nada ironis lalu kembali kekamarnya.

Tak berapa lama, Shi Xi kembali ke kamar Guo Zhi membawa tasnya untuk bertukar kamar.

Kamar Shi Xi begitu senyap. Guo Zhi berbaring dibawah selimut setelah mandi. Memikirkan Shi Xi berada dikamar sebelah, Guo Zhi merasa perasaan lega yang tak bisa dijelaskan. Ia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya atau apapun itu karena yang ia pedulikan ada disini. Sungguh pengalaman yang luar biasa.
.
.

Shi Xi berdiri dijendela melihat langit malam. Suara desahan dikamar sebelah masih terdengar samar. Cahaya laptop yang menyala menerangi kamarnya yang gelap sebagaimana perjalanannya yang hampa.

Alasan dia memilih tempat ini bukan karena ia pelajar yang miskin, tetapi Shi Xi punya rencana sendiri.

Guo Zhi ingin memperlihatkan Shi Xi indahnya dunia.

Bagaimanapun, Shi Xi ingin menunjukkan Guo Zhi sisi buruk dunia yang hampa.

Shi Xi menganggap banyak hal tidak berguna, dan kepolosan Guo Zhi adalah hal yang paling tidak berguna untuknya.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments