119. END

Setelah figur Bo Shangyuan menghilang dari pandangan. Ayah Gu kembali mengarahkan matanya ke Gu Yu.

Ekspresi ayah Gu serius dan berkata. “Katakan, jelaskan semuanya dengan rinci.”

Gu Yu mengencangkan jari-jarinya dengan gugup dan perlahan membuka mulutnya.

Satu jam kemudian.

Setelah mendengarkan, ayah Gu terdiam lama.

Disebelahnya, Ibu Gu terisak sambil berkata, “Ini semua salahku. Jika bukan karena aku yang selalu mendesaknya untuk berhubungan baik dengan Bo Shangyuan, ini tidak akan terjadi …”

Mendengar ibu Gu terus terisak dan bicara tanpa henti membuat ayah Gu semakin jengkel. “Sekarang baru kau menyesalinya? Kemana saat aku sudah memberi tahumu dari awal, kau tidak mendengarkanku kan?”

Ibu Gu terus menangis, “Bagaimana aku tahu … kalau akan …”

Ibu Gu tidak bisa melanjutkan.

Ayah Gu mengerutkan kening dan berkata dengan tidak sabar, “Heh, tidak ada obat untuk penyesalan di dunia ini. Sekarang menyesal apa gunanya…”

Ibu Gu tidak lagi berbicara.

Ayah Gu kembali menatap Gu Yu dan bertanya, “Bagaimana menurutmu sekarang?”

Gu Yu menunduk dan meremas jemarinya, diam. Karena terlalu erat, kuku-kukunya mulai memutih.

Setelah sekian lama, ia tampaknya telah mengumpulkan keberanian dan berbisik, “Aku ingin bersamanya.”

Lagi pula, dia … tidak ingin putus.

Meskipun dia tidak mau mengakuinya kalau dia sangat menyukai Bo Shangyuan.

Ayah Gu terdiam lagi.

Di sisi lain, ibu Gu menangis lebih keras sambil terus meracau. “Ini salahku.”

Ayah Gu akhirnya angkat bicara, “Tidak bisa, kalian harus putus.”

Meskipun sudah diperkirakan, tetapi setelah mendengar kalimat ini, mata Gu Yu tetap mulai memanas.

Dia memang sering berbohong di depan mereka, tetapi dia tidak pernah memberontak.

Tapi kali ini, Gu Yu berkata sambil terisak. “Tidak mau.”

Sikap ayah Gu tampak tegas. “Ayah tidak berbicara denganmu, ayah memberitahumu. Putuskan dia besok. Jika kau tidak bisa mengatakannya, kami akan membantumu bicara.”

Setelah mendengarkan kata-kata ini, isakan Gu Yu semakin menjadi, “Kenapa … laki-laki tidak bisa bersama laki-laki, haruskah mereka bersama perempuan? Aku tidak mengerti … Jelas sudah ada undang-undang pernikahan sesama jenis di luar negeri, tetapi aku bahkan tidak bisa bersamanya …”

Ayah Gu acuh tak acuh. “Apa kau pikir karena kalian berdua laki-laki jadi ayah menyuruh kalian putus?”

Isakan Gu Yu tertahan, terkejut.

Bukan?

Ekspresi ayah Gu serius. “Kalian hanya siswa tahun kedua, 17 tahun, dan masih di bawah umur. Bahkan jika aku setuju sekarang, apa kalian bisa menjamin akan terus bersama selamanya dan tidak akan pernah putus?”

Gu Yu menjilat bibirnya dan akan berjanji pada ayah Gu, tapi ayah Gu menyela.

Dia melanjutkan, “Kalian berada di masa remaja, hati kalian tidak pasti. Perasaan kalian saat ini Mungkin hanya kesegaran dan gejolak. Setelah beberapa waktu, rasa itu akan hilang dengan cepat. Begitu rasa kesegaran menghilang, akan terjadi perpisahan. Ayah jelas pernah seusiamu dan disaat itu begitu banyak anak perempuan dan anak laki-laki yang secara diam-diam berkencan tanpa sepengetahuan guru, mereka sudah membahas akan menikah setelah lulus, dan bahkan sudah memilih nama calon anak mereka nanti … Dan ternyata, baru setengah tahun, mereka putus.”

Gu Yu ingin membantah, tetapi ayah Gu memotongnya lagi.

“Bo Shangyuan tinggi dan tampan, dan keluarganya baik. Dia benar-benar menyukaimu sekarang, tetapi apa kau bisa menjamin dia tidak akan menyukai orang lain di masa depan? Ada begitu banyak gadis… dan laki-laki yang menarik diluar sana. Apa kau bisa menjamin dia hanya akan selalu menyukaimu?”

Gu Yu diam.

Dia … tidak bisa menjamin.

Karena itu, ekspresi ayah Gu menjadi semakin serius.

“Untuk gender atau apapun itu, sebenarnya, ayah tidak masalah. Tetapi jika prestasi dan keluarga kalian sama, mungkin, ayah akan memikirkannya, tapi … kesenjangan antara dia dan kau terlalu besar dan…..”

Nada bicara ayah Gu berubah. “Keluarganya sangat kaya, apa mereka akan setuju dia bersama seorang lelaki?”

Secara umum, dikeluarga kaya, hal terpenting adalah memiliki pewaris.

Tidak masalah jika kondisi keluarga pasangan tidak baik, tetapi harus dapat memiliki anak.

Setelah cerita panjang ayah Gu selesai, Gu Yu sama sekali tidak mengucapkan apa pun.

Dia … tidak bisa membantah.

Karena itu, suasana hatinya semakin sedih dan tertekan.

Gu Yu menunduk, menahan rasa sakit ditenggorokannya, mencegah air matanya yang menggenang agar tidak jatuh.

Ibu Gu seberang masih terus meratap dengan sedih, menyeka air mata dan juga menyeka hidungnya membuat permukaan meja hampir dipenuhi tisu bekas.

Ayah Gu melihat jam, lalu berkata. “… Sudah larut, masuk ke kamar dan tidur. Beberapa hari ini, kau tidak boleh keluar, tetap dirumah dan pikirkan baik-baik.”

Gu Yu menggigit bibir bawahnya, dan merespon pelan.

Ayah Gu memandangi penampilannya yang menyedihkan dan tidak bisa menahan diri untuk menghela napas panjang.

Dia kemudian menarik ibu Gu untuk bangkit. “Ayo tidur, sudah larut. Jangan menangis lagi, tetangga dilantai bawah akan mendengarmu.”

Ibu Gu patah hati. “Kenapa Yu Yu kita menjadi seperti ini, apa ini semua karena aku? Apa itu karena aku selalu membahas nilainya dan membandingkannya dengan yang lain …”

“Apa gunanya ini sekarang? Jangan bicara lagi, ayo tidur.”

Setelah itu, ayah Gu langsung menyeret ibu Gu masuk ke kamar.

Disisi lain, Gu Yu masih duduk diam di ruang tamu untuk waktu yang lama, kemudian perlahan berdiri dan berjalan ke kamarnya.

Dia menatap lurus ke depan, matanya kosong.
.
.

Dalam sekejap mata, satu minggu berlalu.

Tujuh hari berlalu dengan cepat, dan Bo Shangyuan masih belum mendapat kabar.

Ayah Gu bilang akan berbicara dengannya dalam beberapa hari, tetapi satu minggu berlalu dan tidak ada info apapun.

Entah itu untuk pesan, telepon, atau datang langsung menemuinya. Mereka seperti menghilang di udara.

Bo Shangyuan lambat laun tidak ada kesabaran.

Dia tahu jelas seperti apa watak Gu Yu.

Lemah lembut, rendah diri, rentan dan tertutup, sangat mudah goyah … Dan jika terus begitu, Bo Shangyuan yakin dia akan minta putus dengannya.

Tapi Bo Shangyuan tidak akan pernah setuju untuk putus.

Tapi sekarang dia tidak bisa menemuinya, tidak bisa menghubunginya, dia tidak punya cara untuk tidak setuju.

Karena itu, seiring berjalannya waktu, suasana hati Bo Shangyuan menjadi semakin buruk.
.
.

Pada hari kesepuluh Gu Yu menghilang, Festival Musim Semi tiba.

Bo Shangyuan tidak ingin pulang, tetapi setelah desakan berulang dari nenek Bo, dia akhirnya dengan enggan harus kembali.

Saat ini, lampu-lampu di rumah utama Bo cerah dan berkilauan, tetapi Bo Shangyuan hanya duduk diam disofa seolah benar-benar terisolasi dari pandangan.

Nenek Bo juga mengundang ibu Bo, lagipula, dia juga ibu dari Bo Shangyuan.  dan belum pernah kembali sekali dalam setahun belakangan ini, tetapi untuk kali ini adalah keharusan.

Nenek Bo sedikit gelisah karena tahu betapa Bo Shangyuan tidak suka pada ibunya itu dan berpikir raut Bo Shangyuan akan berubah jelek setelah melihat kedatangan ibu Bo. Namun, anehnya Bo Shangyuan mengabaikan seolah tidak melihat kehadiran ibu Bo sama sekali.

Dari saat memasuki rumah, setelah menyapa nenek, Bo Shangyuan tampaknya benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri, dan semua yang lain dia abaikan.

Meskipun biasanya memang tidak banyak bicara, tetapi dari penampilannya, Nenek Bo dapat menebak bahwa perasaan Bo Shangyuan tidak terlalu baik.

Jadi, nenek Bo dengan lembut bertanya. “Yuanyuan, ada apa, bad mood?”

Bo Shangyuan tidak menanggapi, seakan tidak mendengar.

Nenek Bo mengangkat nada sedikit lebih tinggi. “Yuanyuan ah, apa kau tidak dengar suara nenek?”

Bo Shangyuan terhenyak, merespon. “Hm? Apa?”

Nenek Bo dengan sabar mengulangi. “Apa suasana hatimu sedang buruk?”

“Tidak.”

Nenek Bo menghela nafas panjang.

Dia neneknya, tentu bisa melihat dia berbohong.

Tetapi karena Bo Shangyuan mengatakan tidak, itu berarti dia tidak ingin mengatakannya.

Jadi Nenek Bo tidak akan bertanya lagi.

Nenek Bo tersenyum, dan beralih bertanya, “Benar, bagaimana dengan gadis yang kau sukai? Kenapa tidak membawanya kali ini? Nenek akan mempersiapkan amplop merah.”

Mendengar itu, bibi besar ( istri dari om paling tua ) Bo Shangyuan yang duduk samping tidak bisa menahan senyum. “Bu, ini benar-benar … Yuanyuan kita masih dibawah umur.”

“Memangnya kenapa dengan anak di bawah umur? Tidak bisa menerima amplop merah?”

Bibi besar menghela nafas. “Bu, maksudku bukan ini … maksudku, Yuanyuan belum dewasa, masih kecil, tidak harus berbicara soal pasangan kan? Ibu malah memintanya membawa gadis yang dia suka untuk diberi amplop merah … “

Tanpa menunggunya selesai bicara, Bo Shangyuan dengan dingin memotong. “Cukup.”

Bo Shangyuan berdiri dari sofa, menarik perhatian semua orang.

Dia kemudian berkata pada nenek Bo, “Nenek, aku akan naik ke kamar.”

Setelah itu, tidak menunggu nenek Bo untuk menanggapi, dan berjalan naik ke lantai atas.

Melihat aura dingin Bo Shangyuan yang tidak wajar, ibu Bo mengerutkan kening, menerka-nerka.
.
.

Setelah tinggal di rumah utama Bo selama tiga hari, Bo Shangyuan bersiap kembali kerumah. Nenek Bo terus membujuknya untuk tinggal lebih lama, tetapi dia tidak goyah, dan akhirnya tetap kembali.

Setelah masuk kerumah dan berdiri ruang tamu besar yang kosong, Bo Shangyuan memejamkan matanya sejenak.

Dia merasa agak menyesal.

Dia menyesal, ketika Gu Yu masih tinggal bersamanya, kenapa dia tidak bertindak dengan tegas dan membawanya pergi?

Saat ini, sisi lain.

Gu Yu terkurung selama hampir dua minggu.

Dalam dua minggu terakhir, Gu Yu tidak pernah keluar bahkan tidak nafsu makan.

Melihat ini, ibu Gu tidak tahan lagi dan memohon pada ayah Gu untuk mengijinkannya pergi keluar se-kali.

Keluar dengan kata lain, bertemu Bo Shangyuan.

Tapi Gu Yu masih terkurung dirumah.

Dia tidak memikirkan apa-apa, hanya duduk dan tidak bergerak.

Tetapi dia merasa … sangat lelah.

Hatinya lelah.

Selama periode ini, Shen Teng, Jin Shilong dan bahkan Duan Lun mengirim pesan kepadanya, tetapi dia tidak membalas.

Termasuk Bo Shangyuan.

Berbeda dari ketiganya karena dia tidak ingin bergerak, sementara untuk Bo Shangyuan, ayah Gu tidak mengijinkan untuk menghubunginya.

Situasi yang tetap menemui jalan buntu ini terus berlanjut sampai awal semester berikutnya. Pada saat ini, Gu Yu menerima dua pesan.

Aku sakit. ]

Tubuhku panas dingin. ]

Gu Yu mematung sejenak, dia perlahan berdiri dari kursi dan bersiap untuk pergi.

Tapi sebelum dia sampai di pintu masuk, ayah Gu menghentikannya.

Ayah Gu mengernyitkan alisnya dan bertanya, “Mau kemana?”

Gu Yu memandangi wajah ayahnya yang curiga dan perlahan menundukkan kepala.

“… Dia sakit.”

Ayah Gu tidak bodoh, dia disini tentu merujuk pada Bo Shangyuan.

“Sakit apa.”

Gu Yu menundukkan kepalanya dan dengan gugup berkata, “Aku tidak tahu, dia bilang … tubuhnya panas dingin.”

“Mungkin demam.”

Gu Yu ingin mengatakan sesuatu, tetapi ayah Gu kembali bicara. “Ayah akan membawakan obat untuknya, kau tetap tinggal di rumah.”

Mendengar itu, Gu Yu merasa tidak berdaya. “Aku … Aku ingin … ingin melihatnya.”

Ini pertama kalinya dia mendengar Bo Shangyuan sakit, dia khawatir.

Tapi ayah Gu sangat dingin.

“Ini bukan penyakit serius. Kau tidak boleh pergi menemuinya. Tetap diam dirumah.”

Mata Gu Yu merah.

Dia terisak, “Aku hanya pergi untuk melihatnya … Ayah.”

“Tidak.”

Setelah itu, ayah Gu pergi mengambil obat dan bersiap untuk pergi ke rumah sebelah.

Gu Yu menatap punggung ayahnya dengan kesedihan, dia terus menyeka air matanya.

Ayah Gu tengah mengganti sepatu namun pada saat ini, pintu diketuk dari luar.

Kemudian suara wanita lembut dan manis terdengar.

“Permisi, apa ini rumah siswa Gu Yu?”

Mendengar itu, ayah Gu dengan ragu membuka pintu.

Setelah melihat sosok seorang wanita tinggi dan cantik di luar pintu. Ekspresi ayah Gu bingung. “Benar ini rumahnya, tapi kau …?”

Ketika melihat wanita di luar pintu, Gu Yu yang tengah sibuk menyeka air mata seketika tertegun.

Wanita itu memandang ayah Gu dan tersenyum. “Halo, aku ibu dari Bo Shangyuan.”

Ayah Gu terkejut sejenak.

“Oh… halo, tetapi ada apa kau datang untuk mencari anakku …”

Ibu Bo tersenyum ringan. “Anak kami Shangyuan tampak tidak terlalu baik belakangan ini, jadi aku datang dan ingin bertanya pada anakmu apa dia tahu penyebabnya.”

Ayah Gu terdiam beberapa saat, kemudian menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk ibu Bo.

“Masuklah, aku akan memberitahumu.”

Ibu Bo mengangguk, “Oke.”

Setelah mengganti sepatu, ibu Bo melangkah masuk dan tersenyum lembut pada Gu Yu yang berdiri di ruang tamu.

“Kenapa kau menangis? Apa kau bertengkar dengan ayah dan ibumu?”

Gu Yu meremas jari-jarinya, tidak berbicara.

Meskipun dia telah melihat ibu Bo sebelumnya, namun itu hanya dari jauh dan tidak benar-benar berinteraksi.

Karena itu, dia tidak yakin, bagaimana reaksi ibu Bo setelah tahu dia berkencan dengan Bo Shangyuan.

Saat memikirkan ini, Gu Yu tidak berani mengangkat kepalanya.

Ayah Gu menatapnya dan berkata, “Masuk ke kamarmu dulu.”

Gu Yu bergumam patuh dan hendak kembali ke kamar, namun dia tiba-tiba teringat sesuatu.

Dia kembali menatap ayah Gu.

Ayah Gu mengerti, rautnya berubah jelek. “Jangan pikirkan itu, kau tidak boleh pergi, kembali ke kamar.”

Mendengar itu, Gu Yu dengan sedih menggigit bibirnya dan berjalan kembali ke kamar.

Setelah menunggu Gu Yu menutup pintu, ayah Gu dengan ragu berkata pada ibu Bo. “Aku tidak tahu bagaimana reaksimu nanti … Ini berat untuk dikatakan…”

Ibu Bo tersenyum, “Apa maksudmu ini mengenai mereka berdua yang berkencan?”

Ayah Gu tertegun.

“Kau tahu?”

Ibu Bo tersenyum, “Ya.”

Setelah itu, dia kemudian menambahkan kalimat. “Tidak heran kalau Shangyuan memiliki suasana hati yang buruk bekakangan ini. Ternyata seperti ini …”

Ibu Bo mendesah.

Melihat reaksi ibu Bo yang tampak tidak masalah, ayah Gu mengerutkan kening.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu tentang ini?”

Ibu Bo ragu, “Apa yang harus dikatakan? Mengenai mereka yang berkencan?”

“Mereka berdua laki-laki….”

“Sesama lelaki tidak bisa berkencan? Tuan Gu, sekarang abad ke-21.”

Ayah Gu menghela nafas. “Aku juga tidak bermaksud begitu. Aku hanya khawatir bagaimana reaksimu … oh, karena kau tidak masalah, itu bagus.”

Ibu Bo tersenyum. “Karena kau bisa mengerti, kenapa tidak merestui mereka?”

“Mereka terlalu muda, dan pikiran mereka tidak pasti. Cepat atau lambat, akan ada perpisahan. Karena akan putus, lebih baik untuk putus lebih awal, mungkin setelah putus … mereka bisa kembali berubah.”

Ibu Bo menggelengkan kepalanya. “Jika orientasi seksual berubah, tidak mungkin untuk bisa kembali. Aku tahu jelas watak anak kami Shangyuan. Jika dia menyukai seseorang, dia tidak akan pernah mengubah hatinya dengan mudah. ​​Sebaliknya, aku lebih khawatir dengan anakmu …”

Bagaimanapun, lingkungan sekolah relatif sederhana, ketika keluar dan berbaur dengan lingkungan yang lebih luas, itu benar-benar kompleks.

Bo Shangyuan tipe bucin. Begitu menetapkan hatinya pada satu orang, dia tidak akan pernah berubah.

Tapi Gu Yu … Ibu Bo tidak bisa menjaminnya.

Jika Gu Yu nanti berpindah hati di masa depan, tetapi Bo Shangyuan masih setia menyukainya, sungguh kasihan sekali anaknya itu.

Tetapi jika Gu Yu tidak akan mengubah hati nantinya, dan saat ini membiarkan keduanya putus secara paksa… Bukankah itu menghalangi kebahagiaan mereka?

Ibu Bo berpikir dalam-dalam.

Dia kemudian mendongak dan tersenyum, “Karena kau hanya khawatir tentang mereka yang masih dibawah umur dan hati yang tidak pasti. Jadi, bagaimana kalau bertaruh denganku?”

Ayah Gu mengernyitkan alisnya.

Ibu Bo melanjutkan, “Karena kau takut kalau mereka hanya sedang dalam gejolak sesaat, mari biarkan mereka berpisah dulu selama satu setengah tahun, yaitu, sampai mereka lulus SMA. Jika mereka masih saling menyukai, maka saat itu, kita tidak bisa menentang mereka lagi.”

Ayah Gu diam.

Setelah waktu yang lama, ayah Gu akhirnya setuju.

Bo Shangyuan tinggi, tampan, dan sangat baik dari segi prestasi dan sikap. Selain menyukai Gu Yu, dia hampir tidak punya kekurangan.

Jika …

Jika mereka benar-benar saling menyukai, lalu akhirnya bersama, dia bisa punya anak angkat yang tinggi dan tampan.

Ayah Gu teringat sesuatu, bertanya. “Ah, keluargamu -“

Ibu Bo langsung menimpali. “Kau tidak perlu khawatir, aku akan kembali dan meyakinkan.”

Ayah Gu bergumam merespon.

Ibu Bo tersenyum lalu pamit dan pergi.

Setelahnya, ayah Gu memanggil Gu Yu keluar dari kamar. “Apa kau sudah mendengar yang baru saja kami bicarakan? Tentang kalian bisa bersama, tetapi tidak boleh saling bertemu atau menghubungi dulu selama satu setengah tahun kedepan.”

Gu Yu mengangguk.

“Bagaimana dengan jawabanmu? Kau bisa patuh kan?”

Gu Yu agak ragu-ragu.

“Jika kau tidak bisa melakukannya selama satu setengah tahun, berarti saat ini kau hanya mengalami perasaan segar yang sementara. Aku sarankan, lebih baik kalian untuk putus sekarang.”

Mendengar itu, Gu Yu mengambil napas dalam-dalam, “Baik.”

Ayah Gu menatapnya sejenak lalu menyerahkan obat.

Gu Yu tidak mengerti, “?”

“Berikan obat ini dan katakan padanya dengan jelas.”

Gu Yu mengangguk.
.
.

Gu Yu membuka pintu rumah sebelahdengan kunci pemberian Bo Shangyuan.

Ruangan itu sangat sepi dan sunyi.

Tidak ada seorang pun di ruang tamu, jadi Gu Yu langsung berjalan ke kamar tidur.

Saat membuka pintu kamar, sosok Bo Shangyuan tengah terbaring di tempat tidur, tampak pucat.

Dia melangkah maju dan menyentuh dahinya. Seperti kata ayah Gu, dia demam.

Ini pertama kalinya dia melihat penampilan Bo Shangyuan yang begitu lemah.

Dia menggigit bibirnya dengan sedih, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air hangat.

Gu Yu kembali, duduk ditepi tempat tidur, lalu menepuk-nepuk wajah Bo Shangyuan, berbisik lembut. “Bo Shangyuan, bangunlah. Minum obat dulu.”

Bo Shangyuan perlahan membuka matanya.

Setelah melihat Gu Yu, dia berkata. “Orangtuamu akhirnya mau melepaskanmu?”

Gu Yu bergumam dengan suara rendah dan meletakkan gelas ke ujung mulutnya.

“Minum obat.”

Bo Shangyuan mengunci mulutnya.

“Tidak mau.”

Gu Yu mengerjap tidak mengerti.

Bo Shangyuan mengeluh dengan kesal. “Selama dua minggu kau bahkan tidak pernah membalas satu pun pesanku.”

Ekspresi wajah tertulis ‘Aku marah, ayo hibur aku.’

Gu Yu secara sadar merasa bersalah, berbisik. “Maaf, ayahku… tidak mengijinkanku menghubungimu.”

Mendengar itu, Bo Shangyuan mencubit pipinya dan berkata dengan dingin, “Kau bisa melakukannya diam-diam.”

Mungkin karena terlalu kesal, cubitan Bo Shangyuan sangat keras hingga membuat tanda merah di wajah Gu Yu.

Karena itu, Gu Yu ikut kesal.

Namun, dia tidak lupa bahwa Bo Shangyuan sedang sakit jadi langsung membuka paksa mulut Bo Shangyuan dan memasukkan obat ke dalam mulutnya.

“Minum obat!”

Setelah obat dimasukkan, dia langsung meminumkannya air hangat.

Setelah melakukan semua ini, Gu Yu kembali membenarkan selimut ditubuh Bo Shangyuan.

“Tidur!”

Nada bicara Gu Yu kasar dan tidak lembut sama sekali, tetapi Bo Shangyuan tidak bisa menahan senyum.

Dia dengan lembut memeluk pinggangnya dan perlahan menutup mata.

Merasakan suhu yang telah lama hilang membuat tubuhnya yang lelah akhirnya rileks.

“Ayo kita kabur.”

Gu Yu, “… ah?”

Bo Shangyuan membuka matanya dan berkata, “Aku punya uang, aku bisa menghidupimu selamanya.”

Gu Yu akhirnya mengerti apa yang dia bicarakan.

“Ayahku, baru saja … setuju kita bersama.”

Ini seharusnya menjadi hal yang bahagia, tetapi ekspresi berat di wajah Gu Yu mengatakan pada Bo Shangyuan bahwa masalah ini tidak sesederhana itu.

Gu Yu melanjutkan, “Tapi … kita harus berpisah selama satu setengah tahun. Dan selama itu, kita tidak boleh bertemu juga saling menghubungi.”

Bo Shangyuan mengangkat alis. “Kau setuju?”

Gu Yu ragu-ragu sejenak dan mengangguk.

Bo Shangyuan menghela napas dan berkata, “Oke.”

Nadanya seakan pasrah pada nasib.

Gu Yu tertegun, “Kau setuju?”

“Menurutmu?”

Gu Yu tidak menyangka Bo Shangyuan akan segera menyetujuinya. Dia tadinya berpikir harus berusaha keras untuk membujuk Bo Shangyuan.

Disisi lain, Bo Shangyuan mengulurkan tangannya untuk perlahan mengelus leher Gu Yu, dan berkata, “Apa kau akan menggoda gadis lain saat aku tidak ada… Hm?”

Ancaman dalam kata-kata itu sudah jelas.

Gu Yu menggigil, segera menggelengkan kepalanya.

Ekspresi Bo Shangyuan berubah serius. “Nilaimu tidak boleh turun.”

Gu Yu mengangguk.

“Jika kau tidak meraih 600 poin dalam ujian masuk perguruan tinggi, kau akan menanggung resikonya.”

Gu Yu ragu-ragu dan mengangguk lagi.

“Dan … jangan berpindah hati.”

“Oke.”
.
.

Di paruh kedua semester, entah menggunakan koneksi orang dalam atau uang, Bo Shangyuan bisa kembali ke kelas A. / karena belum kenaikan kelas /

Adapun Gu Yu, tetap tinggal di kelas B.

Dalam hal ini, Duan Lun yang berada di kelas A merasa senang tetapi segera menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Tunggu sebentar.

Bagaimana dengan kurcaci kecil???

Bo Shangyuan yang tiba-tiba pindah ke kelas A membuat orang-orang di kelas B bingung dan mengajukan pertanyaan pada Gu Yu.

Namun Gu Yu diam.

Jin Shilong dan Yu Miao yang tahu hubungan keduanya, sangat terkejut.

Mereka tahu alasan Bo Shangyuan masuk kelas B agar bisa bersamanya, namun, kenapa baru setengah semester, Bo Shangyuan kembali pindah ke kelas A???

Keduanya secara khusus menyeret Gu Yu keluar dan mempertanyakan apakah dia putus dengan Bo Shangyuan.

Gu Yu menggelengkan kepala dan menyangkalnya, dia menemukan alasan untuk membohongi mereka berdua.

Setelahnya, dia melihat ke arah kelas A dan menghela nafas panjang.

Ah … satu setengah tahun …

Itu terasa sangat lama.
.
.

1,5 tahun kemudian.

Pada hari terakhir berakhirnya ujian masuk perguruan tinggi, Gu Yu bersama Shen Teng dan Jin Shilong meninggalkan ruang ujian.

Ini juga kebetulan, ketiganya berada diruang yang sama.

Ketiga lelaki itu berjalan perlahan, membahas jawaban mereka sambil berjalan menuju gerbang sekolah.

Setengah jalan, Gu Yu tiba-tiba berhenti.

Dia melihat Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan dengan tenang berdiri di gerbang sekolah, seperti sedang menunggu seseorang. Adapun siapa yang dia tunggu, tak usah dikatakan lagi.

Melihatnya, wajah Gu Yu tanpa sadar dipenuhi dengan senyum.

Meskipun Bo Shangyuan masih mengenakan pakaian hitam putih sederhana, itu masih menarik.

Setelah satu setengah tahun ini, watak Bo Shangyuan tampak lebih stabil dari sebelumnya, dan wajahnya juga semakin dingin.

Bo Shangyuan berdiri tanpa ekspresi.

Di antara banyak gadis yang lewat, banyak dari mereka ingin menghampirinya, tetapi karena penampilannya terlalu terasing, mereka mundur perlahan.

Gu Yu dengan senyum merekah berlari ke arahnya dan langsung terjun ke pelukan Bo Shangyuan.

Tepat ketika Gu Yu hendak bersiap untuk berbicara, Bo Shangyuan lebih dulu bertanya dengan dingin. “Kau bisa menjamin 600 poin?”

Gu Yu, “…”

Dia mendongak dengan wajah tidak percaya.

Gu Yu tidak menyangka, setelah satu setengah tahun berpisah, kalimat pertama Bo Shangyuan adalah bertanya tentang apakah ia bisa mendapatkan 600 poin.

Gu Yu diam.

Dia kemudian melepaskan diri dari pelukan dan tampak serius. “Mari kita putus.”

“…?”

Tidak mungkin putus.

Sulit untuk melewati satu setengah tahun ini, bagaimana mungkin putus?

Tentu saja itu hanya rutukan.

Jadi Bo Shangyuan langsung mengabaikannya.

Dia kemudian meraih pergelangan tangan Gu Yu dan berkata, “Ayo pergi.”

Setelah itu, Gu Yu menoleh dengan bahagia melambaikan tangan pada Jin Shilong dan Shen Teng yang tampak syok.

Kemudian, di bawah mata semua orang yang iri, Bo Shangyuan mengajaknya naik ke dalam mobil mahal dan mewahnya.

Bo Shangyuan sekarang sudah dewasa, jadi tidak perlu berpegang pada prinsip bahwa anak di bawah umur tidak diperbolehkan mengemudi di jalan.

Setelah berkendara sementara waktu, Gu Yu sadar bahwa ini bukan jalan pulang.

Jadi dia bingung dan menoleh untuk bertanya, “Kita akan kemana?”

“Rumah utama.”

Gu Yu tampak bodoh. “… ah?”
.
.

Setelah empat puluh menit.

Gu Yu duduk disofa ruang tamu di rumah utama Bo dengan gugup.

Rumah utama Bo sangat luas. Persis seperti istana, sehingga membuat dirinya yang jelata begitu gugup dan gelisah. Apa lagi berada diantara orang-orang di sekitar, meskipun mereka tidak berbicara, tetapi dari sudut pandang momentum dan penampilan, tampak aura sangat kaya.

Bo Shangyuan memegang tangannya dan berkata. “Nenek, seperti permintaanmu, aku membawa seseorang yang aku sukai.”

Mendengar itu, Nenek Bo memandang Gu Yu dari atas ke bawah.

Gu Yu menelan ludah tanpa sadar.

Ketika nenek Bo masih tidak berbicara untuk sementara waktu, Gu Yu menjadi lebih dan lebih gelisah.

Dibenaknya kini telah berputar banyak adegan yang tak terhitung jumlahnya. Entah nenek akan memberinya uang agar dia pergi, memintanya dan Bo Shangyuan putus sekarang, mengusirnya dari sini … dan seterusnya.

Nenek Bo kemudian mengambil tas dan mengeluarkan sejumlah uang yang banyak dan menyerahkannya.

Wajah Gu Yu seketika pucat.

Benar saja, Nenek pasti memintanya untuk …

Nenek Bo tersenyum. “Yuanyuan membawamu ke sini tiba-tiba jadi nenek tidak sempat menyiapkan dan hanya bisa memberimu seperti ini. Ayo terima. Lain kali, nenek akan menyiapkan amplop merah besar untukmu!”

Gu Yu mengerjap.

… ah?

Dia tampak bodoh hanya menatap uang di tangan nenek Bo.

Bo Shangyuan tampak tidak sabar, dia mengulurkan tangan Gu Yu agar mengambilnya.

“Bilang terima kasih pada nenek.”

Gu Yu dengan patuh berkata, “… terima kasih, nenek.”

Nenek Bo merasa senang. “Aiii!”

Setelahnya Nenek Bo memikirkan sesuatu lalu bertanya, “Nah, kapan kalian akan menikah?”

Gu Yu, “?”

Bo Shangyuan, “Terserah dia.”

Gu Yu, “???”

THE END.

.
24 September 2019

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

  1. Edeiiii... Ad lanjutnya g yah.. Ngegantung bgt ENdnya

    ReplyDelete
  2. Apa bner endnya begini? Ngegantung bgtt๐Ÿ˜ซ

    ReplyDelete
  3. Nenek nya nge gass ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚
    Dan Happy ending ๐Ÿคง

    Terimakasih Choco atas terjemahan nya ๐Ÿ’•

    ReplyDelete

Post a Comment