118. Hm.

Malam hari.

Ponsel Gu Yu tiba-tiba menerima pesan.

+179 ******** [ Aku Duan Zixuan, maaf mengganggumu, apa kau luang sekarang? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Karena ini hal pribadi, aku harap kau bisa datang sendiri. ]

Gu Yu mengerutkan kening.

… Hm?

Hal pribadi?

Apa yang Duan Zixuan ingin katakan?

Gu Yu rasa tidak ada yang perlu dikatakan diantara keduanya. Selain itu, bahkan jika ada sesuatu yang ingin Duan Zixuan bicarakan, dia khawatir … itu bukan sesuatu yang baik.

Dia tidak bodoh, setelah situasi direstoran tadi, dia tidak berpikir bahwa Duan Zixuan akan menyukainya.

Disisi lain, Bo Shangyuan mengambil alih ponselnya dan melihat isi pesan.

Gu Yu menatap ekspresi cemooh Bo Shangyuan lalu berbisik, “Apa… Apa aku harus pergi?”

Meskipun dia tidak berpikir bahwa Duan Zixuan akan mengatakan sesuatu yang baik, tetapi bagaimanapun juga, gadis itu adalah adik dari Duan Lun. Jika dia tidak pergi, bukankah … terkesan tidak begitu baik?

Bo Shangyuan kembali menyerahkan ponsel ke tangan Gu Yu. “Pergilah jika kau ingin pergi.”

Gu Yu sedikit terkejut.

Dia pikir Bo Shangyuan tidak akan membiarkannya pergi.

Namun, Gu Yu masih merasa berat untuk pergi.

Dia bersiap untuk menolak, namun Duan Zixuan mengirim pesan lain.

Ini adalah hal yang berkaitan dengan kakak Bo Shangyuan. Apa kau benar-benar tidak ingin datang dan mendengarkan? Dan aku juga ingin minta maaf atas situasi tadi. Aku harap kau bisa datang sekarang. ]

Gu Yu ragu-ragu.

Dia kemudian berkata kepada Bo Shangyuan, “… itu, kalau begitu, apa aku bisa pergi sekarang?”

“Hm.”

Melihat Bo Shangyuan tidak keberatan, Gu Yu pun berdiri dan meninggalkan ruangan.

Pada saat sosoknya menghilang dari pintu, Bo Shangyuan juga beranjak keluar.
.
.

Gu Yu dengan cepat tiba di lokasi yang disebutkan oleh Duan Zixuan.

Karena ada sedikit bias di tempat itu, tidak ada orang di sekitar.

Duan Zixuan berdiri di sana, tidak tahu berapa lama, wajahnya merah.

Dia menatap Gu Yu dan tersenyum ringan. “Kakak Gu Yu sungguh datang ~”

Gu Yu mendekat, menjaga jarak tiga meter dan berhenti. “Bicaralah.”

Duan Zixuan tertawa kecil dan berkata, “Kenapa kakak Gu Yu berdiri begitu jauh? Mendekatlah.”

Gu Yu menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, lagipula, tidak ada orang di sekitar sini.”

Duan Zixuan tertegun dan kemudian tersenyum. “Aku hanya ingin meminta maaf pada kakak. Kenapa kakak menjaga jarak seperti ini? Aku sangat sedih.”

Gu Yu tidak berbicara.

Duan Zixuan mengangkat bahu, dia mengerjap, berkata setengah hati. “Aku minta maaf pada kakak Gu Yu karena sudah bicara tidak jelas seperti tadi. Aku harap kau bisa memaafkanku.”

Gu Yu sedikit terkejut.

Namun kalimat selanjutnya seperti tamparan diwajah.

“Tetapi apa kakak Gu Yu benar-benar berkencan dengan kakak Bo?”

Gu Yu mengerutkan kening, dia beralih bertanya. “Apa maksudmu menanyakan hal ini?”

Sudut Duan Zixuan sedikit melengkung, “Bukan apa-apa. Hanya ingin menjelaskan kalau keluarga kakak Bo sangat kaya. Dia harus menikahi seorang gadis yang juga dari keluarga kaya dan memiliki seorang putra untuk mewariskan keluarga. Jika kakak Gu Yu benar-benar berkencan dengan kakak Bo, sebaiknya putus lebih awal—“

“Kau tidak perlu ikut campur tentang masalah ini.”

Suara dingin Bo Shangyuan terdengar diikiti figurnya yang muncul dari arah belakang tubuh Gu Yu sambil menyeret Duan Lun.

Bo Shangyuan menatap Duan Lun tanpa ekspresi. “Kau yang berikan nomornya?”

Mata Duan Lun melebar dan gemetar di bawah kendali Bo Shangyuan, “Sial, dia hanya bilang ingin meminta maaf. Dia tidak bilang akan mengatakan sesuatu yang lain.”

Bo Shangyuan menatapnya dingin kemudian mendorong Duan Lun ke arah Duan Zixuan dan mengangkat dagu ke arah gadis itu. “Urus dia.”

Duan Lun merapikan mantelnya kemudian berjalan ke Duan Zixuan.

Tidak menyangka dengan situasi ini, Duan Zixuan membeku, reflek melangkah mundur.

Duan Lun tersenyum. “Aku sudah katakan sebelumnya, patuh, jangan menjadi iblis. Karena kau tidak mendengarkan, jangan salahkan aku.”

Duan Zixuan tersenyum kaku. “Aku … aku tidak mengatakan apa-apa … dan yang aku katakan tadi bukan bohong …”

Mendengar itu, Duan Lun mencemooh, “Xing Bo tidak peduli dengan kejujuranmu,  jika kau membuatnya marah, dia tidak akan membuatmu lolos.”

Duan Zixuan meneguk ludah menatap penampilan mengerikan Duan Lun.

Dia tergagap, “Kau tidak bisa … tidak bisa melakukan ini padaku … Jika kau berani menyentuhku sekarang, aku akan kembali … dan bilang pada ayah …”

Duan Lun tidak mendengar, langsung menangkap gadis itu dan menyeretnya pergi.

Duan Zixuan meronta dan berteriak keras.

Setelah sosok dua orang itu menghilang, Gu Yu mengalihkan pandangannya pada Bo Shangyuan.

“Apa kau membawa Duan Lun?”

“Hm.”

“Begitu …”

Gu Yu diam.

Kata-kata Duan Zixuan telah diputar ulang dalam benaknya.

Jika Duan Zixuan berbohong, maka dia tidak akan peduli.

Namun, Duan Lun membenarkan bahwa gadis itu tidak berbohong.

Pada malam musim dingin, angin malam berhembus, Gu Yu berdiri di tempat yang sama, ekspresinya menjadi lebih dan lebih sunyi.

Dia tiba-tiba sadar meski sudah mengenal Bo Shangyuan begitu lama dan tahu lelaki itu sangat kaya, tetapi dia tidak tahu seberapa kaya keluarganya.

Jika itu benar-benar seperti yang dikatakan Duan Zixuan, Bo Shangyuan harus dinikahkan dengan seorang gadis yang juga kaya dan kemudian mendapat keturunan untuk mewarisi keluarga. Maka ia tidak dapat memiliki masa depan bersamanya.

Yah, seperti yang dikatakan Duan Zixuan, dia lebih baik putus dengan Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan menariknya dalam pelukan, “Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan segalanya. Kau hanya perlu … tetap bersamaku.”

“Hm.”

Sesama lelaki berkencan dan tidak diakui oleh publik. Ini selalu menjadi kecemasan Gu Yu.

Jangan khawatir … bagaimana mungkin?
.
.

Hari berikutnya, entah apa yang dilakukan Duan Lun, Duan Zixuan menghilang.

Bahkan dengan barang bawaannya.

Suasana hati Duan Lun tampak jauh lebih baik. Namun, ketika melihat Bo Shangyuan, Duan Lun merasa bersalah.  Bagaimanapun dia yang memberikan nomor ponsel Gu Yu tanpa izin Bo Shangyuan.

Disisi lain, suasana hati Gu secara bertahap merosot.

Karena itu ketika mengunjungi tempat wisata di A City ataupun sedang makan makanan ringan, dia masih tidak begitu bahagia.

Pikiran Gu Yu berat.

Disisi lain, Bo Shangyuan tentu saja ikut tidak baik.

Secara khusus, setiap kali suasana hati Gu Yu sangat buruk, dia melirik ke arah Duan Lun dengan tatapan dingin.

Awalnya, Duan Lun memutuskan untuk berlibur setidaknya dua minggu, tetapi setelah melihat suasana hati Gu Yu yang buruk dan takut cepat atau lambat Bo Shangyuan tidak tahan untuk membunuhnya, jadi setelah tiga hari, mereka memutuskan untuk kembali ke kota S.
.
.

Duan Lun menekan bagasi dan kemudian pergi keluar untuk check out.

Dua lainnya sudah berdiri di tempat parkir.

Duan Lun dengan tertekan membuka pintu mobil. “Ayo pergi, dua leluhurku.”

Perjalanan tiga jam segera berakhir.

Duan Lun mengirim dua orang ke luar komunitas, mengucapkan selamat tinggal lalu kembali melaju.

Melihat pemandangan di depannya, Gu Yu menghela nafas panjang.

“Ayo pulang.”

Dia berjalan lebih dulu. Bo Shangyuan menatapnya diam sejenak, lalu mengikuti.

Di lift, keduanya tidak memiliki kata-kata.

Pikiran Gu Yu berat dan dia tidak ingin berbicara. Bo Shangyuan memikirkan hal lain, jadi tidak berbicara.

Saat pintu lift terbuka, Gu Yu menyeret kopernya untuk bersiap keluar dari lift.

Namun, tiba-tiba Bo Shangyuan menahannya.

Gu Yu berbalik dengan bingung.

“Kau harus beri ciuman perpisahan untuk kekasihmu sebelum pulang.”

Gu Yu, “…”

“Cepatlah.”

Gu Yu berbisik, “Jangan membuat masalah.”

Seolah-olah tidak mendengar, Bo Shangyuan masih menahannya, tidak bergerak.

Setelah keduanya berkencan, tidak hanya kejam dan kekanak-kanakan, Gu Yu juga merasa bahwa Bo Shangyuan semakin tidak tahu malu.

Gu Yu mengambil napas dalam-dalam, dan bersiap untuk menciumnya.

Btw, mereka sudah sering berciuman jadi untuk kali ini bukan lagi masalah besar.

Menurutnya begitu.

Namun, saat Gu Yu hendak bersiap untuk menciumnya, terdengar suara wanita yang ia kenal.

“Apa, apa yang kalian lakukan …!”

Suara itu terkesan syok dan gemetar seakan melihat sesuatu yang menakutkan.

Hati Gu Yu bergetar dan segera berbalik.

Ibu Gu berdiri tidak jauh dari sana, memandangi keduanya dengan tidak percaya.

Otak Gu Yu kosong.

Dia sudah memperkirakan untuk memberi tahu ibunya tentang hal ini di masa depan.

Mungkin setelah lulus dari perguruan tinggi, mungkin setelah bekerja … Atau mungkin juga, setelah lulus dari SMA …

Tetapi dia tidak pernah memikirkan akan ketahuan sekarang.

Gu Yu tidak tahu harus berbuat apa, sementara Bo Shangyuan jauh lebih tenang.

Bo Shangyuan menepuk punggung Gu Yu, menenangkan pikirannya, dan kemudian menatap sosok ibu Gu yang masih syok. “Seperti yang bibi lihat, aku dan Yu Yu berkencan.”

Kaki ibu Gu seketika lunak.

Suaranya terdengar sulit. “Shangyuan ah, apa kau bercanda dengan bibi? Bagaimana kalian bisa … bagaimana mungkin …”

Bo Shangyuan tidak bicara.

Ibu Gu kehilangan suaranya.

Kenyataannya ada di sini, bahkan jika Bo Shangyuan mengatakan bahwa adegan itu hanya lelucon, ibu Gu masih tidak akan mempercayainya.

Setelah beberapa saat, ibu Gu memejamkan mata dan berkata kepada keduanya, “Ayo masuk.”

Setelahnya, dia berbalik dan berjalan lebih dulu ke dalam rumah.

Pada saat ini, Gu Yu mulai panik.

Dia mendongak pada Bo Shangyuan, “Bagaimana ini?”

Bo Shangyuan meremas tangannya, menenangkan, “Ada aku.”

Gu Yu merasa sedikit tenang.

Dia menggigit bibirnya dan mengikuti Bo Shangyuan masuk ke dalam rumah.

Ibu Gu sudah duduk di ruang tamu dengan ekspresi serius. Seperti seorang guru yang menunggu pengakuan dosa siswanya.

Jantung Gu Yu membanting.

Ibu Gu memandang keduanya dan berkata, “Duduk.”

Gu Yu duduk, Bo Shangyuan juga duduk.

Ibu Gu langsung ke inti. “Kapan kalian mulai?”

Gu Yu ingin berbicara, tetapi Bo Shangyuan lebih dulu. “Tengah semester pertama.”

Ibu Gu tertegun. “Dari tengah semester pertama….”

Bo Shangyuan merespon mengiyakan.

Ibu Gu meremas dadanya.

Dia jelas tidak memiliki penyakit jantung, tetapi setelah mendengar jawaban ini, dia memiliki ilusi bahwa serangan jantung akan segera terjadi.

Ibu Gu mengambil gelas yang berisi teh herbal diatas meja dan segera meneguknya. Setelah sedikit tenang, dia kemudian lanjut bertanya. “Siapa … siapa yang memulai lebih dulu.”

Bo Shangyuan, “Aku.”

Wajah ibu Gu sedikit lebih baik.

Tapi kemudian, ibu Gu tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya. “Kau begitu baik pada Yu Yu, memberinya kelas tambahan, membelikannya pakaian juga makanan ringan, apa karena …”

“Ya.”

Ibu Gu seketika bodoh.

Dia tiba-tiba ingat saat mulai sekolah tahun pertama, dia terus mendesak Gu Yu untuk pergi ke rumah sebelah dan menjalin hubungan yang baik dengan Bo Shangyuan.

Jangan-jangan ini semua karena dia …

Ibu Gu tidak berani berpikir lagi, lalu melanjutkan, “Kalian tahu kalau hubungan kalian ini tidak normal kan?”

Bo Shangyuan merespon, “Dimana yang tidak normal.”

Tidak menyangka mendapat respon seperti itu, ibu Gu sulit untuk mengatur suaranya. “Kalian berdua laki-laki! Bagaimana bisa laki-laki bersama dengan laki-laki?!”

“Kenapa tidak?”

Ibu Gu cemas. “Kalian keluar dan lihat, hanya ada pasangan laki-laki dan perempuan. Bagaimana mungkin ada laki-laki dan laki-laki?”

“Jika ada, apa bibi akan setuju Yu Yu bersamaku?”

“Tetap tidak mungkin! Bagaimana sesama laki-laki bisa bersama, kalian cepat putus!”

Mendengar ini, Gu Yu akhirnya tidak bisa menahan diri.

“Bu …”

Ibu Gu menyelanya dengan dingin. “Diam! Aku tidak punya anak sepertimu!”

Mata Gu Yu merah, kembali menutup mulutnya.

Ibu Gu merasa sesak, berbisik. “Aku sudah bertanya sebelumnya, apa kau berkencan dan kau menjawab tidak. Tetapi hasilnya kau berbohong padaku!”

Gu Yu tidak berbicara.

“Bagaimana aku bisa memiliki putra sepertimu?! Ini… memalukan!”

Pada titik ini, Bo Shangyuan tidak bisa lagi mendengarnya, dia mengerutkan kening dan berkata, “Jika bibi merasa malu, bibi bisa memutuskan hubungan dengannya sekarang dan aku akan membawanya pergi. Aku punya uang untuk menghidupinya seumur hidup.”

Ibu Gu tertegun.

Melihat ekspresi Bo Shangyuan yang serius, sikapnya melunak.

Ibu Gu dengan lembut membujuk. “Shangyuan ah, ini juga untuk kebaikanmu. Jika kalian berdua bersama, bagaimana akan memiliki anak di masa depan?”

“Bisa adopsi.”

Ekspresi ibu Gu kaku. “Tapi bagaimanapun juga, tidak ada hubungan darah … bahkan jika kau membesarkannya …”

Bo Shangyuan sedikit mengejek. “Apa hubungan darah itu penting? Ada orangtua yang bahkan mengabaikan anak kandung mereka sendiri.”

Bo Shangyuan menyinggung ayah Bo dan ibu Bo.

Tentu saja, orang-orang seperti itu juga ada dalam berita, bukanlah hal yang tidak biasa, dan bukan hal yang baru.

Ibu Gu kembali membujuk dengan lembut. “Bahkan jika bibi setuju sekarang, kalian akan didiskriminasi oleh masyarakat di masa depan … dan bibi benar-benar tidak ingin melihat kalian seperti itu … Jangan dulu bicara soal Yu Yu, Bo Shangyuan kau sangat tampan, prestasi sangat baik, kau bisa mendapat gadis cantik yang baik, kenapa harus berkencan dengan laki-laki? Seandainya bibi setuju, keluargamu tidak akan setuju.”

Bo Shangyuan tanpa ekspresi. “Jika bibi setuju, aku akan membawanya ke nenekku sekarang.”

Ibu Gu terkejut.

Dia akhirnya menyadari Bo Shangyuan benar-benar serius.

Di sisi lain, Gu Yu juga terkejut.

Disaat bersamaan, ayah Gu berjalan masuk ke ruang tamu dengan tas kerja dan mengerut bingung melihat situasi didepannya, “Apa yang terjadi?”

Ibu Gu tidak tahu bagaimana mengatakannya.

Sementara Bo Shangyuan langsung bicara ke inti. “Paman, aku ingin bersama Yu Yu, kuharap paman bisa setuju.”

Ayah Gu tertegun, “Apa?”

Dia menatap wajah serius Bo Shangyuan dan kemudian memalingkan matanya pada Gu Yu yang sedang menunduk, dan akhirnya memandang ibu Gu.

Ibu Gu tidak berani mendongak menatap ayah Gu.

Jika bukan karena dia yang awalnya memaksa anaknya untuk berhubungan  dengan Bo Shangyuan, hal seperti ini… mungkin tidak akan terjadi.

Ayah Gu beralih lagi pada Bo Shangyuan. “Apa maksudmu?”

“Aku dan Yu Yu berkencan.”

Ayah Gu tertegun.

Dia perlahan menatap ibu Gu.

Ibu Gu tidak berbicara, hanya mengangguk.

Reaksi ayah Gu jauh lebih stabil. Dia terdiam sesaat lalu bertanya, “Kapan itu dimulai?”

“Tengah semester pertama.”

Ayah Gu agak kaget lalu bertanya. “Apa orangtuamu tahu?”

Bo Shangyuan merespon tanpa ekspresi. “Aku tidak punya orang tua, hanya nenek.”

“Paman mengerti, kau bisa kembali dulu.”

Bo Shangyuan mengerutkan alis.

Ayah Gu menjelaskan, “Paman dan bibi butuh waktu untuk memikirkan ini. Kau kembalilah. Tunggu beberapa hari, paman dan bibi akan bicara serius denganmu.”

Bo Shangyuan perlahan berdiri. “Aku mengerti.”

Dia kemudian dengan lembut membelai kepala Gu Yu sejenak lalu beranjak pergi.

Ayah Gu dan Ibu Gu yang melihat tindakan sayang Bo Shangyuan seketika merasa rumit.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments