117. Oh.

Tempat di mana mereka pergi adalah A City.

Karena keluarga Duan Lun tinggal di kota ini, lokasi permainan diatur olehnya, juga sopirnya secara khusus mengemudikan mobil untuk mereka.

Dalam perjalanan ke A City, Duan Lun bicara dengan sangat antusias. Karena ini pertama kalinya dia pergi bermain bersama Xing Bo.

Duan Lun sangat bersemangat untuk memperkenalkan semua tempat di A City yang menurutnya menarik, tetapi dua orang yang duduk di kursi belakang tidak menanggapi.

Bo Shangyuan terlalu malas sementara Gu tidak mendengarkan sama sekali.

Gu Yu duduk dengan tenang di kursi belakang, dan pikirannya melayang.

Dia melihat pemandangan yang melewati jendela, entah bagaimana, hatinya sedikit tidak nyaman.

Rasanya seperti merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

Disisi lain, Bo Shangyuan melihatnya hanya diam, menoleh untuk bertanya, “Ada apa.”

Gu Yu menggelengkan kepalanya dengan tenang dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.

“Apa kau mengantuk?”

Dia tanpa sadar menggelengkan kepalanya lagi.

Bo Shangyuan lanjut berkata, “Aku mengantuk.”

Mendengar itu, Gu Yu menoleh ke arahnya, seperti biasa, tampak tenang dan dingin, dia mengerjap dan berkata, “… kau tidurlah.”

Kursi belakang luas, jadi tidak masalah untuk berbaring.

Bo Shangyuan tidak bergerak, tetapi dia mengaitkan jarinya.

“Duduk lebih dekat.”

Gu Yu bingung tetapi tetap dengan patuh menggeser duduknya lebih dekat.

Kemudian detik berikutnya, Bo Shangyuan berbaring di pangkuannya.

Menjadikan paha Gu Yu sebagai bantal, kedua tangannya secara alami memeluk pinggangnya.

Gu Yu memerah, secara tidak wajar menatap ke arah lain.

Duan Lun yang duduk di depan tidak tahan lagi.

“Hei! Aku masih di sini!! Apa yang kalian lakukan di mobilku!!!”

Gu Yu segera tanpa sadar meminta maaf. “Oh, ma—“

Bo Shangyuan tiba-tiba berkata, “Diam.”

Gu Yu mengira Bo Shangyuan bicara padanya jadi dia kembali menutup mulut. Sementara Duan Lun dengan cukup tertekan menanggapi. “Cuih, lebih memilih kekasih daripada teman …”

Gu Yu diam-diam menatap langit, dan hanya ada satu kata yang tersisa di benaknya.

… Kekasih? Dia?
.
.

Setelah hampir tiga jam mengemudi, mereka akhirnya tiba di Kota A.

Tiba-tiba, anak gadis dari ibu tiri Duan Lun menelepon.

Ibu tirinya memiliki dua anak, satu putra tertua dan satu putri kecil. Masalah putri kecil ini, ayahnya baru memberi tahunya belum lama.

Adapun mengapa, mungkin takut kalau Duan Lun akan menyakiti gadis itu.

Adik tiri Duan Lun terlihat baik dan sepenuhnya mewarisi penampilan ibu tirinya. Cantik, tinggi semampai dan menarik perhatian. Cukup masuk akal bahwa menurut temperamen Duan Lun yang suka pada gadis cantik, dia pasti akan peduli pada putri ibu tirinya, tetapi pada kenyataannya, itu terjadi sebaliknya.

Karena dia adalah putri dari ibu tirinya, sikap Duan Lun terhadapnya sangat buruk.

Jadi begitu melihat telepon masuk dari adik tirinya, Duan Lun dengan tidak sabar menekan tombol jawab dan mengumpat, “Aku sudah katakan jangan menghubungiku kan? Apa kau tidak mengerti?”

Pihak lain terkekeh dan berkata, “Jangan marah. Aku juga ingin dekat dengan kakakku.”

Duan Lun semakin emosi, mengumpat lagi dan menjawab, “Pergi cium ibumu, siapa yang mau dekat denganmu? Tidak ada yang penting, aku matikan.”

Gadis di telepon mengeluh bahwa saudaranya begitu kejam, dan kemudian berkata, “Apa kakak pergi ke kota A untuk bermain? Aku ingin ikut.”

“Enyahlah.” Duan Lun langsung menutup telepon tanpa ragu-ragu.

Dia kemudian menoleh untuk melihat Bo Shangyuan yang masih terbaring dipaha Gu Yu dengan raut tidak mengerti. “… Sial, bagaimana si jalang kecil itu tahu aku akan pergi ke kota A untuk bermain?”

Bo Shangyuan yang tengah memainkan jari-jari Gu Yu dengan santai merespon. “Menurutmu?”

Mendengar itu, Duan Lun kemudian mengalihkan pandangannya ke Gu Yu.

Melihat ekspresi Gu Yu yang bingung, Duan Lun dalam diam menatapnya sejenak, dan akhirnya memandangi sopir.

Duan Lun tidak bodoh, tiba-tiba mengerti.

Dia berkata dengan dingin. “Hentikan mobilnya”

Sopir dengan patuh menepikan mobil.

Detik berikutnya, Duan Lun mengarahkan dagunya. “Buka pintu dan cepat turun.”

Sopir itu kaget, menatap Duan Lun tanpa alasan yang jelas.

“Tapi tuan muda …”

Duan Lun tidak sabar. “Aku bilang, turun.”

Si sopir akhirnya membuka pintu dan turun.

Setelahnya Duan Lun pindah ke posisi kemudi dan kembali melajukan mobil.

Disaat bersamaan, dia menurunkan jendela dan mengacungkan jari tengah pada si sopir.

“Kembali dan beri tahu ayahku, aku pergi ke TMD -“

Setelah itu, dia menarik jendela dan pergi.

Dalam perjalanan, ekspresi Duan Lun cukup konyol. “Aku kira ayahku tidak peduli dan meninggalkanku sendirian di S City. Aku tidak menyangka dia begitu peduli sampai mengirim seseorang untuk mengawasiku. Tapi itu benar-benar membuatku sangat tersentuh.”

Selama perjalanan, Duan Lun terus mengumpat tentang masalah ayah dan ibu tirinya.

Bo Shangyuan yang sudah tahu merasa biasa saja.

Adapun Gu Yu, setelah mendengarkan beberapa saat, dia akhirnya tidak bisa menahannya.

“Itu, Duan Lun …”

Duan Lun tidak menoleh. “Kenapa, ingin bersimpati padaku? Aku katakan, tidak perlu … selama aku masih yang pertama dalam keluarga, dua jalang kecil …”

Gu Yu menyela, “Aku tidak bermaksud ini …”

“Ah?” Apa itu?

“Bukannya kau belum dewasa? Jika bertemu polisi lalu lintas, akan…”

Kata-kata Gu Yu terhenti, meskipun belum selesai, tetapi artinya, sudah jelas dimengerti dalam sekejap.

Mata Duan Lun berkedut.

Duan Lun ingat seseorang yang tidak mengemudi, dan sering mengatakan kalimat seperti itu.

– Anak di bawah umur tidak diizinkan mengemudi di jalan.

Saat ini, Duan Lun hanya memiliki satu kesan.

Dua makhluk yang duduk di belakang, benar-benar istimewa!

“Mereka tidak berani menangkapku.”

“Kenapa?”

“Karena keluargaku punya uang.”

Gu Yu tampak mengerti dan mengangguk, lalu bertanya. “Bo Shangyuan juga punya uang, tetapi kenapa tidak mengemudi?”

Duan Lun, “…”

Karena ada yang salah dengan otaknya.

Tentu saja.

Duan Lun tidak mengatakan ini.
.
.

Setelah sekitar setengah jam, mereka akhirnya mencapai tujuan yang mereka pilih.

Tempat yang mereka pilih adalah resort yang menggabungkan mata air panas dan resor ski, sekarang di musim dingin, waktu yang tepat untuk mata air panas dan ski, tetapi karena bisnisnya yang ramai, sulit mendapatkan tempat. Namun, Duan Lun memiliki uang, bahkan jika susah membooking kamar, baginya, itu hanya hal kecil.

Duan Lun menghentikan mobil dan kemudian membuka pintu dan turun.

Baru saja turun dari mobil, senyum diwajah Duan Lun memudar.

Seorang gadis yang mengenakan mantel wol gelap melihat Duan Lun dan melambaikan tangan dengan bahagia, “Kakak ~~”

Duan Lun memelototi senyum cerah di wajahnya, mengumpat.

Sisi lain.

Gu Yu masih di dalam mobil bersama Bo Shangyuan.

Dia menatap wajah Bo Shangyuan yang terbaring di pangkuannya dan berkata, “Ayo, bangun.”

“Aku jatuh.”

Gu Yu. “?”

“Kau jelas berbaring di dalam mobil …”

Ekspresi Bo Shangyuan serius. “Kau harus menciumku agar aku bangun.”

Gu Yu, “…”

Dia langsung menutup mulut Bo Shangyuan dengan telapak tangannya.

Seiring dengan pemahaman jangka panjang tentang Bo Shangyuan, Gu Yu semakin memahami kalau lelaki itu … tidak hanya dingin dan kejam, tetapi juga kekanak-kanakan.

Duan Lun berdiri di luar mobil, dan orang lain juga ada disekitar, Gu Yu terlalu malu untuk menciumnya.

Wajah Gu Yu memerah dan berbisik, “Jangan membuat masalah … Duan Lun ada disebelah.”

Ketika mendengar nama Duan Lun, wajah Bo Shangyuan menggelap.

Dengan suasana hati yang tidak bahagia, dia kembali duduk dengan wajah hitam lalu memandang Duan Lun di luar jendela mobil.

Pada saat bersamaan.

Duan Lun yang berdiri di luar mobil, tidak tahu mengapa, tiba-tiba merinding.

Gu Yu melangkah turun dari mobil lebih dulu diikuti Bo Shangyuan. Gadis kecil dengan make-up tipis dan kulit putih mendatanginya sambil tersenyum dan bertanya, “Halo, apa kau teman kakakku?”

… Kakak?

Gu Yu bingung.

Duan Lun dengan dingin berkata. “Abaikan saja si bodoh ini.”

Si gadis menghentakkan kakinya kesal. “Kakak, apa yang kau katakan!”

Setelah itu, gadis itu secara tidak sengaja melihat Bo Shangyuan.

Dia tertegun sejenak, lalu sekali lagi tersenyum cerah.

Dia berlari ke depan Bo Shangyuan dan menyapa. “Halo, aku Duan Zixuan, apa kau teman kakakku?”

Bo Shangyuan hanya meliriknya sekilas.

Duan Zixuan tidak merasa frustrasi, dia terkekeh dan dengan lembut berkata, “Kakak, kenapa kakak ini mengabaikanku?”

Duan Lun yang berdiri di samping tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerut kesal.

“Jangan panggil aku kakak, aku bukan saudaramu. Enyahlah, kau membuatku muak.”

Duan Zixuan menoleh, “Ayah yang memintaku datang. Ayah bilang kau di sini, biarkan aku datang dan bermain denganmu beberapa hari.”

“Persetan, bermain sendiri, aku sibuk.”

Duan Zixuan menundukkan kepalanya, sedih. “Kalau begitu aku akan kembali dan menjelaskan pada ayah … Oh, ya, ayah bilang jika kau tidak setuju, dia akan membekukan kartumu.”

Duan Lun langsung mengumpat, sengan wajah hitam, berbalik dan pergi.

Gu Yu ikut melangkah bersama Bo Shangyuan, berjalan berdampingan.

Setelah dua langkah, Duan Zixuan tiba-tiba datang ke sisi Gu Yu.

Dia diam-diam menatap Bo Shangyuan dan kemudian berbisik padanya. “… Apa dia punya girfriend?”

Gu Yu tertegun, menatapnya.

Duan Zixuan tersenyum malu, “Aku ingin tahu.”

Gu Yu mendengus dan berkata, “Tidak.”

Girlfriend: tidak ada, tetapi kalau boyfriend: ada.

Duan Zixuan mengangguk penuh pengertian.

Dia berkedip padanya dan tersenyum. “Terima kasih ~”

“Sama-sama.”

Melihat senyum Duan Zixuan, Gu Yu mengernyitkan alisnya, dan hatinya halus.

Ilusi?
.
.

Meja depan resort.

Duan Lun memesan dua kamar.

Awalnya tiga, tetapi setelah mendapat delikan tajam Bo Shangyuan, dia mengubah tiga menjadi dua.

Duan Lun menyimpan satu untuknya sendiri, dan satunya dia serahkan kepada kurcaci kecil.

Setelah melihatnya, Duan Zixuan juga mengulurkan tangannya. “Bagaimana denganku?”

“Tanpamu.”

Duan Zixuan beralih melirik Gu Yu, dan menatap Bo Shangyuan, dan akhirnya melihat kartu kamar di tangan Gu Yu.

Ekspresinya aneh. “Kau membiarkan mereka berdua satu kamar, bukankah itu berarti masih tersisa satu kamar untukku?”

Menurut pemikiran normal, tiga laki-laki berarti juga akan memesan tiga kamar.

Jika Duan Lun disatu kamar, lalu dua lainnya disatu kamar, berarti kamar yang satunya pasti untuknya.

Mendengar itu, Gu Yu dengan tidak nyaman berkata. “Aku … aku naik duluan.”

Setelah itu, seakan takut terciduk, dia langsung masuk ke lift.

Bo Shangyuan juga pergi mengikutinya.

Setelah keduanya pergi, Duan Lun yang telah bertahan dari tadi, tidak bisa menahan lagi.

Nadanya terdengar buruk. “Bo Shangyuan punya orang yang disukai, kau sebaiknya tidak mencari masalah.”

Duan Zixuan menunduk dan berbisik, “Aku … aku tidak.”

Duan Lun mencibir. “Apa kau pikir aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Jangan mengkhususkannya di depanku.”

Mata Duan Zixuan penuh air mata, terlihat menyedihkan.

Duan Lun tampak jijik, berbalik, dan pergi.

Duan Zixuan memulihkan air matanya dan buru-buru bertanya. “Kakak, bagaimana dengan kamarku?!”

Duan Lun tidak berbalik, “Enyahlah! Bukan urusanku!”

Duan Zixuan menghentakkan kakinya, kesal.

Tapi segera, dia punya ide.

Matanya menatap sekeliling lalu berhenti pada seorang pria yang sedang membaca koran.

Duan Zixuan meraih lengan pria itu dan berbisik, “Paman, bisakah kau memberiku kamarmu?”

Pihak lain kaget lalu berkata. “Aku memesannya dengan susah payah—”

Duan Zixuan berkedip dan terus menjadi lunak dan manja. “Paman, aku mohon padamu … Sulit untuk datang ke sini sekali, tetapi tidak ada lagi kamar. Paman bisa datang lagi, tetapi aku tidak bisa. Aku … Aku mengalami serangan jantung, kata dokter hidupku tinggal beberapa bulan lagi …”

Duan Zixuan berbohong dengan wajah penuh kesedihan.

Pihak lain tiba-tiba merasa simpati.

“Baiklah, jangan menangis …”

Duan Zixuan tersenyum puas.
.
.

Sisi lain.

Setelah tiba di kamar, Gu Yu langsung jatuh di tempat tidur yang besar.

Ranjang itu sangat empuk dan lembut. Gu Yu yang telah menjadi bantal Bo Shangyuan selama tiga jam, akhirnya mendesah lega dan merasa bahwa dia ada di surga.

Belum lama Gu Yu berbaring, Bo Shangyuan datang dan menindihnya.

Gu Yu menatapnya bingung, “Disebelah masih luas … oh …”

Bo Shangyuan langsung menciumnya.

Ketika keduanya turun lagi, sudah empat puluh menit kemudian.

Sebenarnya, pada menit kelima belas, Duan Lun sudah menelepon sekali, tetapi tidak ada yang menjawab.

Duan Lun mengerti.

Dia memutuskan untuk tidak lagi menelepon dan duduk di lobi di lantai bawah, menunggu.

Gu Yu muncul dengan jaket berkerudung dengan pola cakar kucing terpampang nyata di mata Duan Lun.

Melihat ekspresinya yang sedikit gelap, Duan Lun mengerti.

Dia bersimpati pada si kurcaci kecil.

Duan Zixuan yang duduk disebelah juga melihat jaket Gu Yu.

Ekspresinya aneh. “Jaket ini … Apa kau membelinya?”

Gu Yu menggelengkan kepalanya.

Duan Zixuan lega. “Aku katakan, bagaimana bisa anak laki-laki normal memakai pakaian seperti ini? Anak laki-laki normal biasanya memakai hitam atau putih, siapa yang akan memakai pink.”

Gu Yu tidak berbicara.

Disisi lain, mata Bo Shangyuan benar-benar dingin.

Tidak menyadari, Duan Zixuan tersenyum lebar pada Bo Shangyuan dan berkata, “Aku pikir penampilan kakak Bo sangat bagus, aku sangat menyukainya. Kau harus belajar dari kakak Bo. Meskipun tidak terlihat seperti kakak Bo, tetapi pasti jauh lebih baik daripada sekarang.”

Bo Shangyuan bersuara. “Aku yang membeli pakaiannya.”

Senyum di wajah Duan Zixuan berubah kaku.

“Eh… Benarkah?”

Bo Shangyuan mengabaikannya, beralih menatap Gu Yu dan dengan lembut bertanya. “Mau makan apa”

“Terserah.”

“Makanan laut?”

“Oke.”

Setelah itu, Bo Shangyuan mengambil tangannya dan pergi.

Duan Lun buru-buru mengejar.

“Hei, masih ada aku!”

Duan Zixuan menggigit bibirnya, juga mengikuti.
.
.

Lantai dua restoran.

Karena resor ski terbuka dan kolam air panas, jadi ada banyak restoran di dekatnya.

Juga karena itu adalah objek wisata, harganya sedikit lebih mahal dari biasanya.

Tentu saja, Bo Shangyuan tidak kekurangan uang.

Gu Yu dan Bo Shangyuan duduk berdampingan, dan Duan Lun hanya bisa pasrah duduk bersama Duan Zixuan.

Duan Lun menatapnya jijik. “Tinggalkan aku.”

Duan Zixuan merengut. “Kakak, aku belum melakukan apa-apa, kenapa kau membenciku …”

Duan Lun tidak ragu. “Aku jijik saat melihatmu.”

Duan Zixuan diam dan memilih menikmati makanannya.

Pada saat yang sama, Gu Yu yang duduk di hadapan mereka, tidak tahu apa yang telah dia makan, dia meringis.

“Pedas … sangat pedas …”

Mata Gu Yu merah, dan berlinang air mata.

Bo Shangyuan mengerutkan kening, mengambil air dan meminumkannya.  Setelah menunggu Gu Yu lega, dia dengan lembut menyeka air matanya dan berbisik, “Apa yang baru saja kau makan?”

Gu Yu menunjuk benda hijau di piring yang seperti pasta gigi.

“Itu wasabi, sangat pedas.”

Setelahnya, Bo Shangyuan mendorong piring wasabi itu ke depan Duan Lun.

Duan Lun, “…”

– Fck.

Disisi lain, Duan Zixuan memandang keduanya dan berkata, “Kalian terlihat begitu intim, seperti orang berkencan.”

Meskipun gadis itu tidak mengatakan bahwa dia membenci hubungan antara laki-laki dan laki-laki, tetapi dari ekspresi dan nadanya yang aneh, sikapnya jelas.

Gu Yu berubah kaku.

Bo Shangyuan tampak dingin.

Duan Lun seketika marah, “Duan Zixuan, jika kau berani untuk terus berbicara di sini, aku akan mengusirmu langsung.”

Melihat bahwa Duan Lun benar-benar marah, Duan Zixuan menundukkan kepalanya dan berbisik, “Aku hanya sekedar bicara saja … Kenapa kau bereaksi berlebihan?”

Dia kemudian diam-diam menatap Gu Yu.

Karena reaksi mereka sangat besar, itu berarti … dia benar.
.
.

Setelah ucapan Duan Zixuan, Gu Yu tidak lagi memiliki nafsu makan. Setelah memakan sedikit, dia buru-buru berdiri dan bersiap untuk kembali ke kamar.

Jika Gu Yu ingin pergi, Bo Shangyuan tidak akan tinggal. Jadi keduanya pun kembali bersama.

Sadar hanya tersisa dua orang, Duan Lun tidak memiliki nafsu makan dalam sekejap, meletakkan sumpit dan pergi.

Berbeda dengan mereka bertiga, Duan Zixuan makan dengan lahap.

Selesai makan, dia perlahan bangkit dan kembali ke kamar.

Dalam perjalanan kembali, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan ke Duan Lun.

[ Kakak ~]

Enyahlah. ]

[ Kenapa kakak melakukan ini padaku? Aku tidak mengatakan apa-apa. ]

Diabaikan.

[ Kakak, apa kau membaca pesanku? ]

Masih diabaikan.

[ Kakak ~~~~~~~ ]

Masih tidak ada balasan.

[ Apa kau punya nomor telepon bocah tadi? ]

[ Bukan kakak Bo, tapi bocah yang pendek. ]

Duan Lun segera membalas.

Apa yang ingin kau lakukan dengan nomor teleponnya? ]

[ Aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah, aku ingin meminta maaf padanya. ]

Ck. ]

[ Kau bohong. ]

[ Aku sungguh-sungguh! ]

[ Kita akan bersama selama beberapa hari, aku tidak ingin menjadi canggung dengannya. ]

Benarkah? ]

[ Hmm! ]

Kau tunggu, aku akan mencarinya. ]

[ Baik ~ love you kakak ~]

Enyahlah, love you kentutmu. ]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments