115. Tidak boleh berkencan.

Bo Shangyuan terdiam lama memandang syal dilehernya.

Disisi lain, Gu Yu akhirnya membuka suara. “… Makanannya akan menjadi dingin.”

Bo Shangyuan tersadar kemudian tersenyum kecil.

Setelah makan malam, Gu Yu duduk di sofa dan menyalakan TV.

Ada berbagai acara di TV, dan tawa terus-menerus di acara itu, ruang tamu yang besar dan dingin telah menjadi hidup untuk sementara waktu.

Namun, perhatian Gu Yu ada di tempat lain.

Lebih tepatnya pada figur Bo Shangyuan yang sedang membersihkan dapur.

Dia tadinya ingin membantu, tetapi ditolak.

Sementara Bo Shangyuan yang tengah membelakanginya tahu bahwa Gu Yu mengawasinya.

“Lihat apa.”

Gu Yu terciduk lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke TV di depan.

Tapi setelah beberapa saat, dia tidak bisa menahan diri untuk kembali menyelinap ke arah Bo Shangyuan.

Kali ini, Bo Shangyuan tidak bertanya lagi, tetapi menyeka tangannya, dan langsung berbalik untuk menatapnya.

Gu Yu menelan ludah dan ragu-ragu.

Di menggigit bibirnya dan mengambil napas dalam-dalam, seolah akhirnya mendapatkan keberanian, dia berkata, “Itu, bisa tidak besok …”

Bo Shangyuan mengangkat alisnya.

Gu Yu kusut untuk waktu yang lama, dan akhirnya berkata dengan kalimat hati-hati. “Bisa tidak besok libur?”

Besok sabtu, jika mengikuti temperamen Bo Shangyuan … Tentu itu adalah kelas tambahan.

Pada saat tahun pertama, Gu Yu merasa bersyukur dan tergerak.

Namun, setelah kelas tambahan yang tidak terputus selama hampir satu tahun, Gu Yu sekarang merasa itu adalah kabar buruk.

Disaat libur akhir pekan musim dingin, orang lain akan berlibur tetapi Bo Shangyuan tetap tidak akan membiarkannya lolos sehari!

Sangat kejam!

Benar saja, setelah mendengar itu, raut cerath diwajah Bo Shangyuan berubah dalam sekejap.

“Tidak.”

Gu Yu, “…”

Semua raut bahagia di wajah Gu Yu juga menghilang.

“… Aku membencimu.”

“Tidak masalah, aku menyukaimu sudah cukup.”

Gu Yu langsung memerah, tidak tahu harus berkata apa.

Melihat Bo Shangyuan yang tampak tenang, Gu Yu mematikan TV, dan berdiri.

Dia tergagap. “Aku … aku marah!”

Selesai bicara, berbalik dan berlari pulang.

Ruang tamu seketika menjadi hening.

Disisi lain, Bo Shangyuan tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.

Gu Yu bergegas kembali ke rumah. Setelah tiba di kamar tidur, dia segera mengambil ponsel dan mulai memposting.

Kekasihku hanya ingin membuat kelas untukku setiap hari dan tidak memberiku libur diakhir pekan, apa yang harus aku lakukan? ]

Setelah posting dikirim, seperti yang terakhir kali, dia menerima N tanggapan dalam sekejap.

1L [ Pamer cinta, enyahlah! ]

2L [ Menolak dan menendang mangkuk makanan anjing. ]

Jomblo yang tidak suka liat orang pacaran pamer cinta. /

3L [ FFFFFFF. ]

4L [ Sial, mataku pedas. ]

5L [ Kakak perempuan, bergabunglah dengan para jomblo disini! ]

Setelah membaca beberapa jawaban, ekspresi Gu Yu kusut dan bingung.

Pamer cinta? Dia tidak merasa begitu.

Gu Yu mengambil gambar komentar balasan tersebut lalu mengirimnya ke Bo Shangyuan.

[ ]

[ Kenapa aku disebut pamer cinta? Aku jelas tidak seperti itu. ]

Kekasih? Hm? ]

[ …… ]

[ Gu Yu menarik pesan. ]

[ Sudah larut, aku mau tidur. ]

[ Selamat malam. ]

[ …… ]

Setelahnya, Gu Yu dengan tersipu meletakkan ponsel.

Di sisi lain, nenek Bo tiba-tiba menelepon Bo Shangyuan.

Setelah dihubungkan, suara Nenek Bo terdengar. “Yuanyuan, pulang besok untuk makan? Nenek merindukanmu.”

“Aku tidak akan kembali dua hari ini.”

Mendengar itu, nenek Bo meratap, “Kau sudah lama tidak kembali, apa sudah tidak ingin melihat nenek lagi?”

“Tidak, Nenek, jangan berpikir begitu.”

“Karena tidak, maka pulanglah besok untuk makan. Nenek membelikanmu beberapa baju baru! Sebelumnya, si bocah Bo Cheng itu masih datang dan minta hadiah, nenek langsung menolaknya.”

Nenek Bo menurunkan postur tubuhnya dan hampir berbisik.

Bo Shangyuan mengangkat tangan, mengusap alisnya.

Pada akhirnya, dia setuju untuk pulang.

Nenek Bo berkata dengan gembira, “Kau akan pulang besok, nenek akan memasak untukmu!”

“Baiklah.”

Nenek Bo teringat sesuatu. “Ah benar, gadis yang kau sukai itu, bawa dia juga, nenek ingin melihatnya.”

Bo Shangyuan tanpa sadar memandang ke arah dinding.

“Tunggu beberapa hari. Lagipula, dia bukan …”

“Bukan? Bukan apa?”

“Tidak ada.”

Adapun topik orang yang disukainya adalah laki-laki bisa dijelaskan setelah bertemu langsung nanti.

Nenek Bo tidak banyak berpikir.

Karena sudah agak terlambat, jadi setelah berbicara sebentar, nenek Bo dengan enggan menutup telepon.

Setelah telepon ditutup, Bo Shangyuan mengirim pesan.

Besok libur. ]

Pesan ini dikirim dan segera mendapat balasan.

[ Benarkah???? ]

Bo Shangyuan akan bersiap untuk membalas, tetapi tiba-tiba dia menyadari sesuatu.

Bukannya tadi kau bilang akan tidur? ]

[ …… ]

[ Oh … tidak … Aku belum tertidur. ]

[ …… ]

Bo Shangyuan tidak lagi membalas.

Gu Yu menunggu beberapa saat lalu dia mengambil inisiatif untuk bertanya.

[ Apa benar besok libur ? ]

Sudah larut, aku mau tidur. ]

[ …… ]

[ Selamat malam. ]

[ ………… ]

Bo Shangyuan sungguh membalas dendam ah!

Gu Yu pergi tidur dengan emosi.
.
.

Keesokan harinya.

Ketika Bo Shangyuan tiba di rumah utama Bo, wajahnya seketika dingin setelah melihat ibu Bo.

Dia hanya melirik sekilas lalu menghampiri nenek Bo yang duduk di kursi utama aula.

“Nenek.”

Nenek Bo senang dan bergegas berdiri, berniat menyambutnya.

Melihat itu, Bo Shangyuan berkata. “Nenek, kau tidak harus datang, aku yang akan datang.”

Nenek Bo berhenti, lalu merasa sangat senang. “Yuanyuan kami semakin tampan.”

Bo Shangyuan memeluk nenek Bo lalu duduk di sofa.

Setelahnya, ibu Bo yang duduk diseberang, bertanya. “… Bagaimana kabarmu di sekolah baru-baru ini? Apa nilaimu bagus? Bagaimana dengan teman sekelas?”

Seolah-olah itu tidak terdengar, Bo Shangyuan tidak responsif.

Ekspresi ibu Bo tampak canggung dan kehilangan muka.

Meskipun dia sudah memperkirakan reaksi ini, namun itu terlalu kejam.

Suasana tampak agak kaku saat ini, nenek Bo melihatnya dan menjelaskan. “Ibumu, dia hanya ingin datang dan melihatmu …”

Mendengar kata ‘ibumu’ membuat wajah Bo Shangyuan semakin dingin.

Dalam 16 tahun terakhir, dia tidak pernah menjadi seorang ibu, dan dia tidak pernah memenuhi tanggung jawab yang disebut ibu. Lalu tiba-tiba ‘pertobatan’, dan ingin dianggap sebagai keluarga.

Melahirkannya tanpa mendidik dan tidak membesarkan, tetapi dengan muka tebal menyebut diri sendiri ibu.

Sungguh hal yang konyol.

Namun, jika nenek Bo bicara, dia tidak mungkin tidak merespon.

Bo Shangyuan bergumam samar, dan kemudian tidak bicara lagi.

Suasana menjadi lebih kental.

Nenek Bo menghela nafas sedikit dan segera mengalihkan pembicaraan.

“Bagaimana kabarmu dengan gadis yang kau sukai?”

Ibu Bo tertegun, tanpa sadar bertanya. “Apa ada gadis yang disukai Yuanyuan?”

Nenek Bo tersenyum. “Ya …”

Ibu Bo ingin lanjut bertanya, namun Bo Shangyuan lebih dulu berkata dengan dingin. “Ada atau tidak gadis yang aku suka, apa urusannya denganmu? Bibi ini terlalu ikut campur.”

Ibu Bo membisu.
.
.

Sisi lain.

Pagi ini, Gu Yu sengaja tidur sampai jam sepuluh.

Jika membuat kelas, Bo Shangyuan sudah pasti datang untuk mengetuk pintu rumahnya pada jam 9:05, dan akan langsung menyeretnya.

Tapi ketika sampai jam 10, dan belum melihat sosok Bo Shangyuan, dia merasa yakin hari ini memang libur.

Suasana hati Gu Yu seketika sangat nyaman.

Dia masih berbaring dan memutuskan untuk menghabiskan satu hari di tempat tidur.

Karena hari ini adalah akhir pekan, jadi obrolan bahagia di grup empat orang itu muncul satu per satu.

Xiao Jin Jin Lucu [ Apa kalian sudah bangun? ]

Shen Teng [ ]

Shen Teng [ Hehe ~ ]

(= ∩ω∩ =) [ ]

(= ∩ω∩ =) [ Membaca …]

Xiao Jin Jin Lucu [ Kalian tebak apa yang Gu Yu lakukan sekarang? ]

Shen Teng [ Apa ini masih harus ditebak? ]

(= ∩ω∩ =) [ Ini sudah lebih dari jam sepuluh. Dia pasti sedang membuat kelas bersama Bo Shangyuan. ]

Melihat ini, Gu Yu dari tadi jadi silent reader, membalas dengan dua pesan.

[ …… ]

[ Aku di tempat tidur. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Hah? Apa kau berbaring di tempat tidur dengan Bo Shangyuan sekarang?? ]

[ ?  ?  ? ]

(= ∩ω∩ =) [ ?  ? ]

Shen Teng [ ?  ?  ?  ?  ? ]

Mata Gu Yu berkedut.

[ … Aku di tempat tidurku sendiri. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Oh … ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Sayang sekali. ]

[ ?  ?  ?  ?  ? ]

(= ∩ω∩ =) [ ?  ?  ? ]

Shen Teng [ ?  ?  ?  ?  ?  ?  ? ]

Shen Teng [ Apa yang kau bicarakan?  Kenapa aku tidak bisa mengerti satu kata pun?? ]

(= ∩ω∩ =) [ Aku juga … ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Uhuk, tidak bisa bilang, tidak bisa bilang. ]

Shen Teng [ ?  ?  ?  ?  ? ]

Topik ini dengan cepat dilewatkan.

Tiga lainnya lanjut mengobrol.

Pada pukul 12:30, ibu Gu selesai membuat makanan dan memanggil Gu Yu keluar untuk makan.

Mendengar itu, Gu Yu keluar dari kamar tidur dan terus melihat chat tiga orang dalam grup.

Ketika melihatnya, Ibu Gu bertanya dengan alis berkerut, “Yu Yu, kenapa kau masih memegang ponsel? Kau tidak berkencan kan?”

Gu Yu seketika kaku.

Melihat reaksinya, ibu Gu langsung mengambil ponsel dari tangannya.

Gu Yu menarik napas dan secara tidak sadar mengulurkan tangan ingin meraih ponsel itu kembali. Karena catatan obrolannya dengan Bo Shangyuan masih ada, jika ibunya melihatnya … dia tidak bisa berpikir bagaimana reaksi selanjutnya.

Ibu Gu menepis tangannya dan dengan tenang berkata, “Apa benar-benar berkencan?”

Gu Yu berbisik, “… tidak.”

Ibu Gu tidak mempercayainya.

Dia menatap layar ponsel.

Pada titik ini, tiga orang dalam grup sedang mengobrol dengan gembira.

Ibu Gu mengerutkan alis dan membalik catatan obrolan dalam grup, karena chat tiga orang lainnya terlalu banyak, jadi selama beberapa menit, ibu Gu tidak dapat menemukan apa pun.

Dia pun mengembalikan ponsel itu pada Gu Yu.

Ibu Gu memandangnya dengan aneh dan berkata, “Tidak ada apa-apa di dalam, kenapa kau tidak ingin ibu melihatnya?”

Gu Yu tidak berbicara.

Ibu Gu kemudian berkata. “Ibu tidak melarangmu berkencan, tetapi saat ini bukan waktunya. Setelah lulus dari sekolah, kau bisa berkencan. Tapi selama kau belum lulus, tidak boleh.”

Gu Yu menunduk dan menjilat bibirnya.

Pada saat ini, ayah Gu masuk ke rumah dengan membawa tas kerjanya. Begitu melihat bahwa ekspresi di wajah Gu Yu tidak benar. Dia bertanya dengan santai, “Ada apa?”

Gu Yu balas berbisik, “… tidak ada apa-apa.”

Tapi terlihat seperti ini, sepertinya ada apa-apa.

Jadi ayah Gu menoleh untuk melihat ibu Gu, dan bertanya, “Apa yang kau katakan?”

“Aku hanya tidak ingin dia berkencan saat masih sekolah.”

“Memang apa salahnya berkencan saat masih sekolah? Yang penting bisa menyesuaikan. Saat lulus nanti, sangat menyenangkan untuk bernostalgia mengingat cinta monyet masa sekolah.”

“Bicaramu sangat bagus, tapi bagaimana jika nilainya turun? Benar-benar.”

Ibu Gu bicara tanpa henti.

Disisi lain, mata Gu Yu terkulai, diam tanpa kata.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

  1. Tidak mungkin bahkan pacarnya tidak akan membiarkan nilai nya turun 😇

    ReplyDelete

Post a Comment