112. Aku minta maaf guru. Aku yang menulisnya.

Malamnya.

Gu Yu duduk di depan meja di kamar tidur, tidak bergerak.

Bo Shangyuan memintanya menulis surat cinta, dan tidak bisa ditolak. Dia tidak punya pilihan selain menurut. Karena itu, malam ini dia akan menulisnya.

Tapi … bagaimana menulis surat cinta?

Gu Yu berpikir keras tentang hal itu, tidak tahu bagaimana menulisnya.

Dia mencorat-coret di atas kertas konsep, beberapa jam berlalu, masih tidak ada hasil.

Adapun tempat sampah di sebelah meja, itu diisi dengan gumpalan kertas bekas.

Gu Yu lelah, memilih berbaring di atas meja.

Cinta itu benar-benar … sangat menyusahkan.

Hati Gu Yu tertekan, lalu mengambil ponselnya dan mulai mencari secara online cara menulis surat cinta.

Surat cinta paling klasik ] menarik perhatiannya.

Gu Yu membuka tautan.

Kontennya seperti ini.

Jika suatu hari, kau jatuh cinta pada orang lain dan ingin meninggalkanku, aku akan cemburu, aku akan marah, aku akan sedih, aku akan kesakitan. Tapi pada akhirnya, kita putus. Aku hanya ingin orang itu baik padamu, seperti aku padamu, jaga hidupmu… ]

Blablablabla

Gu Yu, “…”

Dia langsung menyingkirkan ponselnya tanpa ragu dan fokus pada kertas surat yang masih kosong.

Dibawah cahaya lampu meja yang redup, Gu Yu terdiam lama.
.
.

Waktu berlalu.

Malam di luar jendela menjadi lebih dan lebih intens. Gu Yu akhirnya mengambil pena.

Dia mulai menulis dan kemudian melipat kertas dan memasukkannya ke dalam amplop pink dengan wajah serius. Setelah menyegelnya, dia menulis dua kata.

– Surat cinta.
.
.

Keesokan harinya, ketika Gu Yu muncul didepan rumah untuk pergi sekolah bersama, Bo Shangyuan langsung menengadahkan tangannya.

Adapun arti dari tindakan ini, tidak perlu dikatakan lagi.

Gu Yu merogoh tasnya, mengeluarkan amplop pink, dan kemudian perlahan menyerahkannya ke tangan Bo Shangyuan.

Melihat amplop pink di telapak tangan, lengkungan bibir Bo Shangyuan tanpa sadar terangkat sedikit.

Dengan suasana hati yang baik, dia mulai membukanya.

Setelah melihat isi surat, ia mengerutkan kening.

Bo Shangyuan beralih menatap Gu Yu.

Namun Gu Yu memalingkan matanya kearah lain.

Hanya ada dua kata dalam isi surat.

Bukan aku mencintaimu.

Tapi … kau babi.

Itu ditulis dengan penuh penekanan dan hampir menembus lapisan kertas.

Bisa ditebak seberapa marah dan dendamnya Gu Yu ketika dia menulis dua kata ini.

Melihat isi surat ini, Bo Shangyuan hanya bisa tersenyum kecil.

Pada saat ini, keduanya berdiri di depan lift untuk menunggu lift, Gu Yu berdiri di depan, dan lelaki tinggi itu berdiri di belakangnya.

Bo Shangyuan menopang dagunya diatas kepala Gu Yu dan menunjukkan isi kertas itu didepan wajahnya.

“Aku babi … Dan kau?”

Gu Yu membuka mulutnya dan hendak menjawab, namun Bo Shangyuan memotongnya dengan tersenyum kecil dan berkata, “Kekasih babi?”

Gu Yu, “…”

Setelahnya, Bo Shangyuan mencium pucuk kepalanya.

“Jadi, kau dicium babi sekarang?”

Gu Yu, “………”

Dia tadinya ingin membuat Bo Shangyuan layu namun dirinya sendiri yang dibawa ke jurang.

Gu Yu memerah dan mengulurkan tangannya, ingin mengambil surat itu.

Namun Bo Shangyuan mengangkat kertas surat itu tinggi-tinggi. Gu Yu yang memang lebih pendek terpaksa melompat-lompat, berusaha meraihnya. Namun, sia-sia.

Gu Yu menghabiskan banyak waktu, terengah-engah, tetapi tidak ada gunanya sama sekali.

Sementara Bo Shangyuan terlihat tenang dan santai.

Gu Yu tidak bahagia dan akhirnya menyerah.

Dia merutuk pelan.

Bo Shangyuan tidak peduli dengan itu, dia berkata. “Cium aku dan akan kuberikan padamu.”

“Huh!”

Gu Yu dengan kesal membuang muka.

Bo Shangyuan mencubit pipinya, “… Apa kau marah?”

Gu Yu tidak ragu untuk menepis tangannya.

Menatap ekspresi kebenciannya, Bo Shangyuan tidak bisa menahan senyumnya.

“Aku salah, oke?”

Mendengar itu, Gu Yu kembali menatapnya. Wajah itu penuh senyum kontras dengan ucapannya yang menyesal.

Jadi Gu Yu membuang muka lagi.

Bo Shangyuan kemudian menopang dagunya di bahu Gu Yu.

Dia berbisik lembut. “… Kalau begitu, apa aku juga harus menulis untukmu?”

Gu Yu mengerutkan alisnya, “Apa yang harus ditulis?”

“Surat cinta.”

“… Aku tidak menginginkan hal seperti ini.”

“Apa yang kau inginkan?”

Gu Yu berkata tegas. “Aku ingin kau menjauh dariku sekarang.”

Bo Shangyuan juga tegas. “Tidak mau.”

Gu Yu, “…”

Untuk sesaat, keduanya saling memandang tanpa kata-kata.

Disaat bersamaan, tidak jauh dari sana, pintu rumah Gu terbuka.

Ibu Gu membawa seikat kunci dan bergegas menuju lift. Dua orang yang berdiri di depan lift tidak mendengar langkah kaki ibu Gu karena mereka terlalu ‘terkonsentrasi’.

Karena itu, setelah ibu Gu datang ke lift, dia tiba-tiba berhenti.

Ibu Gu memandangi dua orang yang tampak lengket itu dan bertanya, “Apa yang kalian lakukan…”

Gu Yu kaget dan dengan cepat mendorong Bo Shangyuan.

Gu Yu memandang ekspresi bingung ibu Gu, dia tidak tahu harus berkata apa untuk sementara waktu.

Di sisi lain, Bo Shangyuan tampak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia dengan tenang bertanya. “Bagaimana bibi disini?”

Mendengar itu, ibu Gu tiba-tiba teralihkan perhatiannya. Dia menyerahkan kunci ke depan Gu Yu dan berkata, “Oh, ya, kau meninggalkan kunci rumah.”

Gu Yu perlahan meraihnya.

Setelah menerimanya, ibu Gu berkata. “Jangan menunda waktu. Jika terlambat, itu akan buruk.”

Untuk adegan tadi, ibu Gu sama sekali tidak curiga, hanya berpikir keduanya bercanda.

Gu Yu bergumam mengiyakan lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.

Dia penuh keringat dingin di belakangnya, dan benar-benar takut untuk menatap ibunya.

Lift pun tiba.

Ibu Gu melambaikan tangannya dan berkata, “Cepat masuk, jangan terlambat.”

Gu Yu merespon, menundukkan kepalanya dan dengan cepat memasuki lift. Bo Shangyuan pamit dengan sopan lalu ikut masuk ke lift.

Setelah pintu lift tertutup, Gu Yu mendesah lega.

Bo Shangyuan yang melihat itu, dengan santai bertanya. “… apa yang ditakuti.”

Gu Yu tidak mau berpikir. “Kau tidak takut kalau ibuku akan mengetahuinya nanti–“

Bo Shangyuan langsung memotongnya. “Mereka akan tahu cepat atau lambat, ini hanya masalah waktu.”

Gu Yu terdiam menatapnya.

‘Mungkin tidak sampai tahun ketiga akan ketahuan.’ katanya dalam hatinya.

Bahkan jika Bo Shangyuan terlalu tenang dan merasa bukan hal serius, tetapi bagi Gu Yu, laki-laki dan laki-laki bersama, bagaimanapun, itu tidak ‘normal’.

Tidak ditoleransi oleh masyarakat dan tidak dimengerti oleh orang lain.

Jika lebih radikal, itu dapat dianggap sebagai penyakit mental oleh orang lain.

Pikiran ibu Gu sangat tradisional, dapat melihatnya dari sudut pandang dari prestasinya sebelumnya.

Jika ibunya tahu dia suka laki-laki … adegan itu, dia tidak bisa memikirkannya.
.
.

Keadaan disekolah masih sama.

Namun karena surat cinta itu, suasana hati Bo Shangyuan sangat baik.

Jin Shilong melihat bahwa dia dalam suasana hati yang baik hari ini, jadi saat jeda kelas pertama, dia menyeret Gu Yu dari kelas dan bertanya, “Bukannya dia masih memaksamu untuk menyalin pertanyaan kemarin? Bagaimana dia tampak begitu baik?”

Gu Yu hanya diam menatapnya.

Jin Shilong melihat ekspresi ini, dan tiba-tiba menebak apa yang terjadi. Jadi dia menepuk bahu Gu Yu, mendesaknya. “Ayo katakan.”

Setelah beberapa saat, Gu Yu akhirnya berkata. “Kemarin … Dia memintaku … menulis surat cinta untuknya.”

Mata Jin Shilong berbinar, dan hatinya melayang dengan jeritan yooooooooooooooo ~~~

“Lalu, apa kau menulisnya?”

“… Tulis.”

“Bagaimana kau menulisnya?”

Gu Yu siap untuk berbicara, tetapi mengurungkan niatnya setelah memikirkan tentang ‘dicium babi’ dan ‘kekasih babi’.

“Tidak mau bilang.”

Jin Shilong menatap Gu Yu dengan ekspresi tertekan dan berkata, “Pelit.”

Pelajaran kedua, seperti pelajaran pertama, masih merupakan pelajaran matematika.

Setelah dua kelas matematika selesai, tiba saatnya untuk senam.

Bo Shangyuan dulu tidak berminat untuk ikut, tetapi karena sekarang dia berada di kelas bersama Gu Yu, dia selalu mengekori Gu Yu untuk senam setiap hari.

Gu Yu biasa saja, tetapi Shen Teng sangat marah.

Karena selama Bo Shangyuan ada disana, Shen Teng tidak berani untuk berbicara dengan Gu Yu.
.
.

Dua puluh menit kemudian.

Kelas ketiga adalah kelas bahasa, yang merupakan kelas Guru Cao. Ketika para siswa melakukan senam di dilapangan, dia sudah masuk ke kelas lebih dulu.

Karena itu, ketika melihat kehadiran Guru Cao, mereka yang masih berisik seketika terdiam, menahan napas dan segera masuk dan duduk.

Pada saat ini, seorang siswa menyadari sesuatu.

“Ah, dimana suratku …”

Lelaki itu segera tutup mulut.

Disaat bersama, para gadis juga bergumam yang sama.

“Eh … Bagaimana bisa hilang?”

Mereka memeriksa laci, tetapi tidak menemukan.

Guru Cao yang berdiri di atas podium, menyunggingkan senyum, dan kemudian mengangkat tumpukan surat cinta ditangannya.

“Mencari ini?”

Guru Cao juga tahu tentang hari jomblo yang dianggap siswa sebagai hari menyatakan cinta.

Mereka yang merasa terlibat seketika membeku.

Di sisi lain, Gu Yu seketika keringat dingin.

Salah satu dari surat itu adalah miliknya.  Oh tidak, dia menulis kepada Bo Shangyuan.

Karena empat sudut amplop memiliki pola stamping yang sangat mencolok dan khusus, dia yakin itu miliknya.

Sementara Bo Shangyuan langsung mengerutkan alis, ekspresinya sangat jelek.

Setelah seorang siswa di bawah podium menemukan bahwa surat cintanya telah diambil, amarahnya tidak dapat ditahan, dan segera memprotes dengan keras. “Guru, kau melanggar privasi kami!”

Beberapa siswa lelaki lain juga mengikuti.

“Ya!”

“Guru, kau terlalu berlebihan!”

“Kami akan melapor ke Biro Pendidikan.”

Guru Cao membanting tumpukan surat cinta ditangannya ke atas meja.

Efek suara teredam yang keras itu menghentikan riuh dalam sekejap.

Guru Cao berkata dengan wajah dingin. “Aku sudah bilang diawal, tidak masalah jika prestasi kalian tidak naik, tapi tidak untuk yang namanya cinta monyet!”

Para siswa tidak ada yang berani berbicara.

Suasana hati Guru Cao sangat buruk, dan nadanya tidak sabar sampai ekstrem.

Dia menepuk meja dan berkata. “Aku sudah peringatkan tidak boleh ada cinta monyet dan kalian ternyata tidak mendengarkanku! Tidak ingin privasi kalian diganggu? Ya, kalian bisa pindah sekolah besok, aku bisa menjanjikan.”

Setelahnya, seorang gadis bertanya dengan hati-hati, “Kenapa, kenapa kami tidak bisa berkencan?”

Jika itu untuk hasil, maka itu bisa dipahami. Namun, dia mengatakan bahwa tidak masalah jika nilai tidak naik.

Sangat kontradiktif.

Kemarahan Guru Cao sedikit mereda, “Tiga tahun yang lalu, aku tidak peduli pada para siswa yang berkencan. Cinta monyet untuk siswa SMA itu normal.”

Mendengar itu, para siswa di bawah podium semakin bingung.

… Karena itu normal, mengapa sekarang begitu ditentang?

Guru Cao kemudian dengan tenang berkata. “Tiga tahun yang lalu, aku memang tidak peduli dan berpikir yang penting mereka bisa belajar keras, namun siapa sangka, saat di tahun kedua, ada anak perempuan yang hamil. Tidak hanya satu, tetapi dua. Kedua gadis di kelas itu sedang hamil. Ini bukan masalah sepele. Biro Pendidikan menemukannya pada hari berikutnya.”

Semua orang di bawah podium membuka mulut dan tertegun.

Seorang siswa laki-laki tidak bisa menahan diri untuk berbisik. “Itu adalah contoh individu. Aku jelas bukan orang seperti itu …”

Guru Cao mencemooh. “Aku tidak peduli dengan contoh individu. Ketika kalian lulus dan sudah dewasa, ingin berkencan atau apapun itu bukan urusanku. Tetapi karena kalian masih dibawah umur dan berada dikelasku, sekolah dengan baik, jangan pikirkan tentang cinta monyet!”

Tidak ada lagi yang berani bicara.

Bel kelas sudah berdering beberapa waktu, tetapi Guru Cao masih belum berniat memulai kelas.

Pandangan dinginnya menyapu kerumunan di bawah podium dan kembali fokus setumpuk surat cinta.

Guru Cao membaca nama-nama pada surat cinta itu satu per satu. “Zhang Long, Lei Guoxin, Chi Yao, Zheng Weiwei, Yang Bo … Tulis esai pertobatan 3.000 kata.”

Setelah itu, dia mengeluarkan beberapa surat cinta secara terpisah.

“Yang pertama ditemukan di laci Xiao Shi. Tidak ada tanda tangan. Aku tidak ingin mengatakan lebih banyak. Orang yang menulis surat cinta ini dengan sadar berdiri.”

Mungkin menantikan kenyataan bahwa karena tidak ada tanda tangan, mereka bisa lolos dari hukuman untuk sementara waktu, jadi tidak ada yang berdiri.

Guru Cao mendengus dan berkata, “Apa kalian ingin memaksaku untuk memeriksa tulisan tangan ini langsung dari buku tugas kalian? Jika itu mau kalian, tidak hanya menulis esai pertobatan, tetapi aku juga akan memanggil orang tua kalian. Jika aku menghitung mundur selama lima detik dan tidak ada yang berdiri, maka aku akan … “

Kata-katanya belum selesai, seorang bocah lelaki pendek berdiri.

Guru Cao memandangnya lalu berkata. “Tulis esai lima ribu kata.”

Bocah pendek itu merasa malu, bergumam lalu kembali duduk.

Mereka yang hanya harus menulis 3.000 kata diam-diam merasa bersyukur.

Orang berikutnya tahu diri.

Setelah sisa surat cinta yang tidak ditandatangani berturut-turut ‘selesai’, akhirnya, ada satu yang tersisa.

Itu milik Gu Yu.

Guru Cao mengibasnya diudara.

“Siapa yang menulis ini untuk Bo Shangyuan, berdiri.”

Setelah mendengar itu, orang-orang di bawah podium langsung menunjukkan ekspresi kusam.

Bo Shangyuan menerima surat cinta, itu sudah biasa.

Sisi lain.

Gu Yu keringat dingin dan jemarinya gemetar.

Guru Cao tahu untuk siapa surat itu, jadi jika dia berdiri sekarang … Reaksi selanjutnya, tidak perlu dikatakan.

Apa yang harus dia lakukan?

Gu Yu tidak pernah putus asa seperti ini.

Jika dia tidak berdiri, maka Guru Cao akan memeriksa tulisan tangannya melalui buku tugas dan kemudian memanggil orang tuanya. Namun, jika dia berdiri, maka Guru Cao dan yang lainnya akan tahu bahwa dia menulis surat cinta kepada Bo Shangyuan.

Gu Yu terlalu takut sampai lupa satu hal bahwa isi surat cinta itu hanya dua kata: kau babi.

Disisi lain, Bo Shangyuan tidak lupa. Dia meremas jemari Gu Yu dibawah meja lalu berdiri dengan tenang.

“Aku yang menulisnya, tetapi belum sempat untuk mengirimkannya.”

Orang lain di kelas tercengang dan mengumpat.

Bo Shangyuan menulis surat cinta???

WTF?????

Guru Cao mengamati tulisan dikertas itu lalu berkata. “Jangan berbohong pada guru, tulisan tangan ini bukan milikmu.”

Bo Shangyuan mengerutkan kening.

“Aku tidak tahu gadis mana yang menulisnya dan bisa membuatmu melindunginya seperti ini, tetapi guru tidak mudah ditipu.”

Mata Bo Shangyuan dalam. “Apa guru tidak bisa melepaskannya?”

Guru Cao tegas. “Tidak bisa. Dengan ini sekali, akan ada waktu berikutnya. Aku tahu apa yang kalian pikirkan.”

Wajah Bo Shangyuan seketika jelek.

Sementara Gu Yu menjadi semakin pucat.

Pada saat ini, Jin Shilong yang duduk di depan Gu Yu, tiba-tiba menyadari sesuatu.

Dia menatap surat cinta itu dan membelalakkan matanya.

Tunggu … Jangan katakan itu …

Di belakang Jin Shilong, Gu Yu menundukkan kepalanya sadar situasi.

Bo Shangyuan benar.

Lagipula, cepat atau lambat tetap saja akan ketahuan, tidak ada perbedaan.

Gu Yu menggigit bibirnya dan siap berdiri dari kursinya.

Jin Shilong terkejut, dan dengan cepat menahan tangannya.

Gu Yu mendongak, melihat ke arahnya.

Jin Shilong menatapnya dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia berkata dengan sangat pelan. “Jangan, kau benar-benar tidak boleh berdiri!”

Gu Yu ragu-ragu. “Tapi …”

Tidak peduli tindakan kecil di bawah podium, guru diatas podium dapat melihat dengan jelas.

Pada saat ini, Guru Cao melihat aksi Jin Shilong, dan segera bertanya. “Jin Shilong, apa yang kau lakukan?”

Jin Shilong bergegas duduk dengan baik dan tidak berani bergerak.

Guru Cao tanpa ekspresi meliriknya sekilas kemudian berkata. “Aku tidak ingin terus membuang waktu di sini. Aku akan hitung hingga lima detik. Jika tidak ada yang mengambil inisiatif untuk berdiri, siap-siap mendapat panggilan orangtua.”

“Lima …”

“Empat …”

“Tiga …”

Gu Yu menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya dan bersiap untuk bangun.

Tetapi orang lain lebih cepat.

Yu Miao berdiri dan berbisik, “Aku minta maaf guru. Aku yang menulisnya.”

Gu Yu tertegun.
0


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments