110. Kapan kau akan secara resmi mengaku?

Setelah menerima link, Yu Miao hendak membukanya, tetapi dihentikan oleh Jin Shilong.

“… Jangan lihat sekarang, tunggu sampai tidak ada orang di sekitar baru kau lihat.”

Yu Miao bingung.

Keduanya pun kembali ke ruang kelas.

Jin Shilong tampak seakan tidak ada yang terjadi, duduk dengan tenang dibangkunya.

Adapun Yu Miao, jatuh ke dalam pemikiran yang mendalam.

Begitu dia duduk, teman sebangkunya Yao Yue segera bertanya. “Kenapa dia mengajakmu keluar?”

Yu Miao dengan jujur ​​menjawab. “Dia hanya bertanya apa aku membaca komik gadis …”

Yao Yue mengerutkan alis. “Hanya ini?”

Yu Miao menggelengkan kepalanya dan berkata, “Dia juga bertanya padaku apa aku membaca novel …”

Ekspresi Yao Yue semakin tidak mengerti. “Novel?”

“Hm.”

“Novel apa?”

“Kalau tidak salah disebut … Danmei?”

“Apa itu Danmei? Tunjukkan padaku.”

Yu Miao mendekatkan ponselnya.

Kedua gadis itu menyusutkan tubuh mereka dan membuka tautan yang baru saja dikirim oleh Jin Shilong.

Saat terbuka, dua nama lelaki muncul sebagai protagonis. Melihat itu, mereka berpikir: Mungkin ini sebuah novel tentang persahabatan antara dua laki-laki …

Namun, mengapa dia ingin secara khusus memanggil Yu Miao keluar? Bisa juga untuk memberikannya langsung di kelas.

Keduanya bingung sejenak lalu membuka bab pertama.

Orientasi seksual Zhou Jida berbeda dari yang lain. Di taman kanak-kanak, yang lain menyukai gadis yang cantik mengenakan rok bunga, tetapi dia suka lelaki yang memakai seragam yang sama sepertinya … ]

Melihat ini, Yu Miao dan Yao Yue saling memandang, tampak tercerahkan.

Kemudian, seperti tidak ada yang terjadi, ponsel itu kembali disimpan.

Disaat bersamaan, bel kelas berdering.

Guru politik berjalan ke ruang kelas dengan persiapan buku teks dan kemudian berdiri di podium.

“Kelas.”

“Bangun!”

“Halo guru~”
.
.

Kelas empat puluh menit berakhir.

Guru politik di podium pergi dengan persiapan buku teks, Yu Miao dan Yao Yue di bawah podium sekali lagi saling memandang.

Yu Miao, “Lanjut … membaca?”

Yao Yue, “… Bagaimana menurutmu?”

“Entahlah.”

“Cerita ini aneh, sebaiknya jangan dibaca.”

“Baiklah.”

Tiga menit kemudian.

Yao Yue, “Btw, saat ini membosankan. Jadi… Mari kita baca?”

“… Oke.”
.
.

Gu Yu belakangan ini merasa bahwa Yu Miao dan Yao Yue memandangnya dan Bo Shangyuan dengan aneh.

Ada perasaan yang tidak bisa dikatakan.

Apalagi setiap melihat posisinya lebih dekat dengan Bo Shangyuan, mata kedua gadis itu tiba-tiba menjadi sangat halus.

Gu Yu tidak bisa memahaminya.

Apa ada yang salah dengannya???

Namun, sebelum Gu Yu ingin memahami ini, ujian bulanan kedua pada akhir oktober tiba.

Waktu ujian dan urutan mata pelajaran masih sama seperti biasanya.

Karena itu, Gu Yu masih tidak memiliki perasaan tegang.

Namun, setelah hasil ujian bulanan keluar, Gu Yu terdiam.

Karena nilainya … masih belum naik.

Namun, itu normal, setelah mencapai ketinggian tertentu, lebih sulit dari memanjat langit jika ingin naik lagi.

Meskipun selisih antara 600 poin dan 590 poin hanya beberapa, titik inilah yang mungkin memakan waktu satu atau tiga tahun. Dalam beberapa tahun, melalui studi dan penulisan topik yang berkelanjutan, dia dapat menghasilkan sedikit lebih banyak.

Di mata orang lain di kelas, 591 poin Gu Yu sebenarnya cukup bagus.

Namun, di mata Bo Shangyuan … Itu tidak layak disebut.

Karena itu, Bo Shangyuan semakin ganas dan kejam, hampir tidak ada ampun.

Setelah kelas: lakukan latihan, pulang sekolah: salin pertanyaan, bahkan tidak bisa santai di akhir pekan …

Hari demi hari, ini mengerikan.
.
.

Double eleven, Hari Jomblo Nasional.

Bagi orang dewasa, 11/11 adalah festival belanja Taobao.

Bagi siswa, itu adalah hari menyatakan cinta.

Karena itu, pagi ini, suasana sekolah penuh dengan warna pink.

Beberapa dari mereka bersiap menyatakan cinta, ada yang menunggu–berharap ditembak, dan ada yang lebih suka tetap menjomblo. Sementara Gu Yu … dalam mode jengkel.

Kemarin, Gu Yu tidak hanya menyalin tiga puluh kali pertanyaan.

Tetapi 90 kali.

Saat pulang sekolah, sudah hampir setengah sepuluh malam.

Dia lelah dan mengantuk. Setelah mandi dan dengan enggan menyalin sebanyak 50 kali, dia akhirnya tidak bisa menahan diri dan pergi tidur.

Gu Yu berpikir, besok dia minta perpanjangan waktu untuk 40 kali yang tersisa. Namun, pada saat Bo Shangyuan melihatnya belum selesai menyalin, dia berkata. “Selesaikan setelah kelas pertama.”

Gu Yu terdiam.

Dia tiba-tiba ingin putus hubungan dari Bo Shangyuan.

Oleh karena itu, setelah kelas pertama, dibawah pengawasan Bo Shangyuan yang dalam dan tajam, Gu Yu lanjut menyalin pertanyaan-pertanyaan yang belum disalin kemarin.

Namun, belum beberapa menit, Shen Teng muncul di luar kelas B, melambaikan tangannya. “Xiao Jin Jin,  Xiao Yu Yu!”

Gu Yu menghentikan pena dan mendongak.

Jin Shilong yang duduk di depan Gu Yu, juga mengangkat kepalanya dan melihatnya ke arah Shen Teng.

Disisi lain, Bo Shangyuan sedikit menyamping, menghalangi garis pandang Gu Yu, berkata. “Lanjutkan.”

Gu Yu kesal.

Jin Shilong berdiri dan menatapnya, “Kau tidak pergi?”

Gu Yu tidak ragu untuk mengabaikan Bo Shangyuan disebelahnya. “Pergi!”

Dia benar-benar mengabaikan wajah Bo Shangyuan yang gelap saat itu, dan meninggalkan ruang kelas bersama Jin Shilong.

Shen Teng membawa keduanya ke lapangan.

Baru setelah tidak ada orang di sekitar, Shen Teng akhirnya berhenti.

Jin Shilong melihat sekeliling dan bertanya, “Apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?”

Gu Yu bingung.

Shen Teng terbatuk tidak wajar dan berkata. “Sebenarnya, hari ini … Aku siap untuk mengaku pada teman satu mejaku.”

Mendengar itu, Gu Yu dan Jin Shilong terkejut.

Jin Shilong, “Bukankah kau hanya suka game? Kau masih suka perempuan?”

Shen Teng marah. “… apa, kapan, aku bilang hanya suka game!”

“Kapan itu ah!”

Shen Teng, “…”

Gu Yu bingung.

“Pengakuan hari ini? Kenapa?”

Jin Shilong dan Shen Teng terkejut.

“Hari ini 11/11.”

Shen Teng, “Ya.”

“11/11? Memangnya kenapa dengan hari double eleven?”

Jin Shilong, “Hari Jomblo Nasional!”

“… Bukankah ini hari para jomblo? Apa hubungannya dengan menyatakan perasaan?”

“Karena ini hari jomblo, perlu untuk mengaku!”

Gu Yu masih tidak mengerti.

Pada saat ini, Jin Shilong tiba-tiba teringat sesuatu.

Dia bertanya, “Ya, kau dan teman semeja Bo…”

Ucapannya tertahan, dia memandang Shen Teng di samping yang bingung. “Apa yang terjadi pada Xiao Yu Yu dan Bo Shangyuan?”

“Tidak ada.”

Untuk mencegah terciduk, Jin Shilong tidak lagi membahasnya.

Meskipun Jin Shilong mengatakan setengah dari apa yang dia katakan barusan, Gu Yu paham maksudnya.

Dia dan Bo Shangyuan sering berpelukan, dan entah berapa kali mereka mencium satu sama lain. Mereka juga selalu bersama … Menurut akal sehat umum, mereka seharusnya saling mengaku.

Namun, sampai sekarang, dia belum bisa mengatakan kalimat ‘Aku menyukaimu’ pada Bo Shangyuan.

Dia tahu bahwa ini bukan akal sehat, tapi … dia, dia benar-benar malu untuk mengatakannya.

Pada saat bersamaan.

Kelas B.

Ketika Gu Yu dan Jin Shilong pergi, posisi di sekitar Bo Shangyuan juga kosong.

Qi Bai yang duduk didepannya juga sudah pergi ke tempat lain karena takut mengganggunya.

Karena itu, pada saat ini, seorang gadis di kelas berjalan dengan malu-malu ke arahnya.

Hari ini adalah Hari Jomblo. Para gadis yang belum pernah berbicara dengan Bo Shangyuan tiba-tiba menghampiri, tujuannya secara alami terbukti dengan sendirinya.

Detak jantung gadis itu berdegup kencang saat mendekat, begitu dia mendongak, tatapan Bo Shangyuan yang sangat dingin langsung menakutinya dan memutuskan kembali ke bangkunya.

Bo Shangyuan mengeluarkan ponsel, melihat waktu.

– Dia sudah keluar selama lima menit.
.
.

Setelah berdiskusi panjang, Shen Teng akhirnya memutuskan untuk memanggil Ning Ying ke lapangan sebelum kelas mandiri malam, dan kemudian mengaku.

Setelah keputusan dibuat, ketiga lelaki itu kembali ke gedung pengajaran.

Dalam perjalanan kembali, setelah berpisah dengan Shen Teng, Jin Shilong menurunkan suaranya dan bertanya pada Gu Yu. “Kapan kau akan secara resmi mengaku pada Bo Shangyuan?”

Gu Yu mengerjap dan matanya kosong.

“… Aku tidak tahu.”

Jin Shilong mencebik kecewa.

Setelah kembali ke kelas dan duduk dibangkunya, Gu Yu tidak bisa menahan diri untuk berbisik, “… Hari ini adalah Hari Jomblo.”

Mendengar itu, Bo Shangyuan bertanya santai. “Apa salinanmu sudah selesai?”

Gu Yu diam sejenak.

“… Belum.”

Bo Shangyuan tidak lagi bicara, dan lanjut mengawasinya.

Gu Yu menatapnya sejenak, lalu menundukkan kepalanya dan terus menyalin.

Um…

– Dia benci Bo Shangyuan!


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments