109. Apa kau anjing?

Meskipun Gu Yu tidak bisa melihat penampilannya sekarang, tapi bisa menebak bahwa lehernya pasti penuh jejak.

Apalagi bibirnya, terasa kesemutan begitu bergerak sedikit.

Gu Yu akhirnya mengerti mengapa Bo Shangyuan sengaja menjaga jarak darinya setelah nilainya menurun.

Untuk menekan hasratnya.

Jika tidak, Gu Yu bahkan tidak akan bisa masuk kelas B.

Tubuhnya terasa lemas dan lehernya mati rasa, ia perlahan bicara dengan suara bergetar. “Hentikan … Kalau… Kalau jejak ini… dilihat ibuku … Aku, bagaimana aku … bagaimana menjelaskannya.”

Mendengar itu, Bo Shangyuan masih menggigit lehernya dan kemudian merespon. “Katakan dengan jujur.”

Gu Yu mengerjap dan matanya kosong.

“Bagaimana?”

Suara Bo Shangyuan serak dan rendah. “Katakan ini kekasihmu yang menggigit.”

“…”

Gu Yu terdiam.

Lalu, untuk melampiaskan emosinya, dia balas menggigit leher Bo Shangyuan.

“Kalau begitu kau juga pulang dan katakan kekasihmu yang menggigit.”

Gu Yu berpikir bahwa Bo Shangyuan akan menolak, tetapi dia tidak mengira lelaki itu tersenyum rendah dan berkata, “Oke.”

“…”

Gu Yu diam lagi.

Setelah beberapa saat, dia kemudian berkata, “… Aku hanya bercanda.”

“Aku serius.”

“…”

Gu Yu mulai panik.

“Jangan katakan.”

Bo Shangyuan mengerutkan alisnya dan bertanya, “Kenapa.”

Masih perlu bertanya kenapa? Jawabannya sudah sangat jelas.

Gu Yu tergagap, dan tak berdaya. “Ini … ini cinta monyet! Dan, dan … kita berdua … laki-laki …”

Ketika berbicara, suaranya semakin kecil.

Mendengar itu, kerutan di kening Bo Shangyuan semakin kencang.

“Memangnya kenapa kalau kita berdua laki-laki?”

Gu Yu mendongak, merasa agak aneh.

“Sesama lelaki … Bukankah tidak normal?”

“Apa yang tidak normal?”

“Biasanya yang menjadi pasangan itu lelaki dan perempuan…”

Bo Shangyuan mengangkat alisnya, “Jadi, sesama laki-laki tidak bisa bersama?”

Di bawah pertanyaan sarkas itu, momentum Gu Yu melemah.

“Ini bukan yang aku katakan … Jika kau tidak percaya, kau pulang dan tanya keluargamu apa pendapat mereka tentang kau berhubungan dengan sesama lelaki. Mereka pasti akan merasa … merasa …”

Sangat jijik. Kalimat ini tidak bisa dia ucapkan.

Gu Yu merasa takut, namun Bo Shangyuan tampak tenang. “Bagaimana jika aku benar-benar mengatakan hal itu, dan mereka benar-benar setuju?”

“Ini tidak mungkin.”

Pada saat ini, langkah kaki yang akrab tiba-tiba terdengar dari luar pintu.

Itu adalah ibu Gu.

Gu Yu menahan napas, segera menutup mulut Bo Shangyuan, takut ibunya di luar pintu mendengar sesuatu.

Setelah menunggu ibu Gu untuk membuka pintu dan memasuki rumah, Gu Yu akhirnya lega.

Tapi Bo Shangyuan merasa tidak senang. “Apa aku sangat memalukan?”

Gu Yu akan menggelengkan kepalanya secara tidak sadar, tapi seakan memikirkan sesuatu, dia berubah pikiran dan mengangguk.

“…”

Watak Gu Yu lambat, dan dia sama sekali tidak menyadari perasaan Bo Shangyuan jatuh ke dasar lembah dalam sekejap.

Dia kemudian berkata, “Ibuku sudah pulang, kalau begitu aku … aku juga harus kembali.”

Bo Shangyuan tidak bicara.

Setelah Gu Yu selesai, dia berbalik dan pergi.

Kembali ke rumah, ibu Gu mendengar gerakan pintu masuk, dan mengangkat kepalanya tanpa sadar.

Ibu Gu seketika tertegun.

Dia melihat banyak jejak di leher Gu Yu, “Yu Yu, apa yang terjadi dengan lehermu …”

Semakin melihatnya, Ibu Gu merasa semakin aneh.

Gu Yu menyentuh lehernya, “Aku baru saja pergi makan dengan Bo Shangyuan, dan mungkin aku punya alergi.”

Mendengar nama Bo Shangyuan, ibu Gu mengerti dan tidak ada keraguan.

Dia kemudian mengerutkan kening dan bertanya, “Tidak apa-apa? tidak gatal? Apa kau ingin pergi ke rumah sakit?”

Gu Yu menggelengkan kepalanya dan berkata, “… tidak gatal, tidak perlu pergi ke rumah sakit, ini akan hilang dalam dua hari.”

Setelah itu, khawatir terciduk, dia bergegas ke kamar.

Gu Yu mengambil cermin dan seketika terkejut melihat bahwa sebagai besar permukaan lehernya penuh dengan cupang.

Mengingat reaksi Ibu Gu tadi, Gu Yu menghela napas panjang.

Untungnya, tidak ketahuan lagi …

Dia kemudian bangkit dari tempat tidur, menggunakan ponselnya untuk mengambil foto lehernya, dan mengirimkannya dengan pesan kesal.

[ Apa kau anjing! ]

Tanpa diduga, Bo Shangyuan benar-benar mengaku.

Ya. ]

Anjingmu. ]

Gu Yu menutupi wajahnya.

Tapi pesan Bo Shangyuan langsung menghancurkan suasana saat itu, dan menghilang dalam sekejap.

Datanglah untuk kelas tambahan besok. ]

[ ….. ]

[ Ada yang harus aku lakukan besok … ]

9 pagi. ]

[ …… ]

[ Aku harus pergi dengan ibuku besok… ]

Gu Yu berusaha berjuang, tetapi dia langsung diabaikan.

Kau tidak datang, aku akan mendatangimu. ]

[ ………… ]

[ Oh. ]

Setelahnya Gu Yu melemparkan ponsel ke samping tanpa ragu-ragu.

Dia berbaring di tempat tidur, hatinya abu-abu.
.
.

Enam hari berikutnya, secara alami bisa dibayangkan.

Itu adalah membuat kelas.

Tanah sudah tua, matahari dan bulan suram.

Setelah ‘liburan’ enam hari berakhir, wajah Gu Yu tidak lagi tersenyum.

Pada hari ketujuh, kelas tambahan akhirnya selesai, tetapi Gu Yu tidak ingin berbicara dengan Bo Shangyuan.

Ketika pergi ke sekolah bersama, wajahnya tetap datar.

Pada saat yang sama, Yao Yue meyakinkan Yu Miao selama tujuh hari liburan untuk menyatakan cinta pada Bo Shangyuan akhirnya tiba.

Pagi ini, Yu Miao menjepit surat cinta di tangannya, sangat malu.

Dia melihat ke arah deret kelompok empat dan kemudian bertanya. “… Apa aku harus benar… benar mengaku?”

Yao Yue memutar matanya dan berkata, “Kalau tidak mengaku sekarang, apa kau ingin menunggunya punya kekasih baru kau akan mengaku?”

Yu Miao terdiam sejenak, dia ragu. “Itu … bagaimana jika dia menolak?”

“Jika dia tolak, ya sudah. Lagipula, ada begitu banyak gadis yang mengaku padanya. Selain itu, kalau tidak mengaku sekarang, ketika tahun ketiga sekolah nanti kau tidak memiliki kesempatan. Kau yakin bisa satu kelas dengannya lagi? Dan kalaupun dia menerimamu pada saat itu, kalian tidak punya waktu untuk berkencan.”

“Itu … maka aku akan memikirkannya.”

Setelah itu, dia dengan hati-hati melihat ke arah bangku Bo Shangyuan yang masih kosong.

Jin Shilong yang sudah tiba dan duduk dibangkunya secara tidak sengaja menangkap pandangan mata Yu Miao, dia mengangkat alisnya.
.
.

Setelah lima belas menit, Bo Shangyuan dan Gu Yu akhirnya tiba di sekolah.

Baru saja duduk, Yu Miao datang menghampiri dengan menjepit surat cinta di balik punggungnya.

Dia ragu-ragu sejenak, lalu disaat akhirnya mendapatkan keberanian, dia berkata. “Bo Shangyuan, jika kau punya waktu …”

Jin Shilong tiba-tiba bangkit dan memotongnya, “Teman sekelas Yu Miao, ayo keluar bersamaku, aku punya sesuatu untuk dikatakan padamu.”

Yu Miao menatapnya bingung. “Apa yang akan kau bicarakan?”

“Kau akan tahu nanti.”

“?”

Yu Miao akhirnya meninggalkan kelas bersama Jin Shilong.

Setelah berada diluar kelas, Jin Shilong langsung bicara ke inti. “Teman sekelas Yu Miao, apa kau membaca komik gadis?”

Yu Miao menggelengkan kepalanya. “Aku biasanya tidak membaca ini.”

“Bagaimana dengan danmei ?”

Yu Miao berkedip dan dengan rasa ingin tahu bertanya, “Apa itu?”

Jin Shilong berdeham sejenak, “Ini semacam… novel. Apa kau ingin melihatnya?”

Yu Miao ragu-ragu.

Indra keenam mengatakan kepadanya bahwa hal semacam novel yang disebut danmei ini sebaiknya jangan dibaca.

Namun, rasa ingin tahu mengalahkan alasannya.

Dia berbisik, “… Lihat.”

Jin Shilong berkedip dan tersenyum, “Kalau begitu aku akan memberimu linknya sekarang.”

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments