108. "..." 🌚

Keduanya memasuki rumah berhantu bersama-sama.

Rumah berhantu itu gelap dan dingin, hanya bisa perlahan meraba-raba maju melalui cahaya samar dari sudut.

Bisnis rumah berhantu itu bagus, jadi banyak turis lain yang ikut masuk bersama Gu Yu dan Bo Shangyuan.

Sebagian besar turis ini adalah sepasang kekasih.

Para gadis yang ketakutan, menggigil dan bersembunyi di belakang kekasihnya, si lelaki menuntun dengan berani menyusuri jalan.

Suasana di rumah berhantu sungguh mengerikan, ada peti mati tertutup, zombie yang mematung, dan pintu kayu yang berayun bolak-balik, serta lampu berkedip …

Situasi ini terlihat mengerikan.

Tapi Gu Yu tidak ada rasa takut. Di bawah jeritan terus menerus di sekitar, Gu Yu tampak tenang dan dengan penasaran melihat ke kiri dan ke kanan. Seakan itu bukan rumah berhantu, tetapi sebuah ruang pameran.

Ini pertama kalinya dia masuk kesini, jadi setiap benda disekitar tidak luput dari sentuhannya. Bahkan saat hantu tiba-tiba muncul di depannya, dia hanya merasa itu tokoh fiksi dan sama sekali tidak takut.

Staf yang menjelma jadi hantu terpaksa kembali ke posisi semula, menunggu untuk lanjut menakuti orang berikutnya.

Bo Shangyuan yang melihat adegan ini dari belakang, hanya bisa tersenyum kecil.

Ada banyak cara bagi staf yang menjelma sebagai hantu untuk menakut-nakuti orang.

Ada yang berdiri di sudut lalu ketika ada yang lewat, mereka akan tiba-tiba mengagetkan.

Ada yang berlutut di lantai, ketika tidak ada yang melihat, mereka akan meraih pergelangan kaki orang yang lewat.

Selain itu, setelah melewati jalan tertentu, seorang anggota staf yang mengenakan mantel darah tiba-tiba muncul dan mengikuti dari belakang.

Saat ini, itu adalah adegan terakhir.

Orang-orang baru saja berjalan melalui lorong gelap dan sempit, dan baru akan mengambil napas lega, namun, seorang pria dengan wajah diperban, hanya menampakkan satu bola mata, menyeret tongkat kayu panjang berlumuran darah tiba-tiba muncul.

Tampilan yang mencekik seperti datang untuk membunuh.

Melihat pemandangan ini, para turis yang baru saja melepaskan pikiran mereka sekali lagi ngeri, menjerit keras, dan melarikan diri dengan gila-gilaan.

Beberapa bahkan tidak peduli dengan kekasih mereka, dan langsung melarikan diri sendiri.

Gu Yu tahu bahwa hantu ini adalah staf. Meskipun terlihat menakutkan, dia sebenarnya hanya menakuti mereka dan tidak benar-benar melakukan apa-apa, jadi dia tidak merasa takut.

Setelah pria itu pergi melewatinya, Gu Yu berbalik ke belakang.

Seorang gadis yang ditinggal sendiri oleh pasangannya, melihat Bo Shangyuan hanya berdiri diam seakan tidak takut jadi dia buru-buru memegang lengannya dan tidak mau melepaskan.

Bo Shangyuan yang tidak suka disentuh oleh orang lain seketika menghitam.
“Lepaskan tanganmu.”

Tapi gadis itu masih menggigil ketakutan, bagaimana mungkin berani melepaskannya.

Bo Shangyuan dengan mencoba untuk memompa lengannya. Namun lengannya semakin dipegang erat, wajahnya menjadi jelek dalam sekejap.

Jika bukan karena tidak akan bersikap kasar pada perempuan, mungkin gadis ini sudah didorongnya menjauh.

Disaat bersamaan, sebuah tangan tiba-tiba membuka jemari gadis itu.

Setelah terlepas, Gu Yu langsung menarik Bo Shangyuan pergi.

Dia masih ingin melihat pemandangan indah rumah berhantu, tapi sekarang, dia telah kehilangan mood.

Setelah meninggalkan rumah berhantu, dia berkata dengan wajah datar. “Ayo pulang.”

Alis Bo Shangyuan sedikit bergerak, bertanya. “Tidak lanjut jalan-jalan?”

“Tidak.”

Bo Shangyuan akan mengatakan sesuatu, tetapi Gu Yu jelas tidak ingin berbicara, langsung pergi.

Berjalan beberapa langkah ke arah halte bus, ponsel di saku Gu Yu tiba-tiba berdering.

Ibu Gu menelepon.

“Halo.”

Ibu Gu di ujung telepon bertanya. “Jin Jin bilang kau sekarang bersama Bo Shangyuan, benarkah?”

“Hm.”

“Oh, apa kau masih kembali kesini untuk bermain?”

“Tidak, aku akan pulang.”

“Ayahmu tidak di rumah, uang ada di atas meja, kau beli makanan sendiri.”

Gu Yu mengiyakan lalu menutup telepon.
Raut wajahnya masih tidak membaik.
Tanpa melihat orang di belakangnya, dia terus bergerak maju.

Bo Shangyuan menghela napas, meraih pergelangan tangannya dan bertanya, “… marah? Um?”

“Tidak.”

Tapi ekspresinya berkata lain.

Bo Shangyuan masih ingin bicara, namun bus telah tiba di tanda berhenti.

“Bus datang, ayo pergi.”

Bo Shangyuan tidak punya pilihan selain mengurungkan ucapannya.

Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan.

Bo Shangyuan ingin mengatakan sesuatu, tetapi Gu Yu tidak ingin berbicara.
.
.

Setelah empat puluh menit.

Bus berhenti di depan rambu berhenti di luar komunitas, Gu Yu keluar dan bergegas berjalan lebih dulu.

Bo Shangyuan segera mengulurkan tangan, menghentikannya. “Jika kau benar-benar marah, katakan padaku, aku akan perbaiki.”

Gu Yu hanya menatapnya sekilas, lalu lanjut berjalan.

Keduanya memasuki lift.

Gu Yu melihat meningkatnya jumlah lantai, dan rasionalitas akhirnya perlahan kembali.

Sebenarnya situasi tadi bukan hal yang besar.

Gadis itu hanya takut.

Tapi … tapi Gu Yu tetap saja marah.
Apalagi mengingat gadis itu memegang erat-erat lengan Bo Shangyuan, dia semakin marah.

Karena itu bukan hal yang disengaja, dia tidak berhak marah langsung, hanya bisa emosi batin.

Saat lift terus naik, Gu Yu semakin tertekan.
Bibirnya mengerucut dengan cemberut, wajahnya penuh ketidakbahagiaan.

Lift akhirnya berhenti.

Gu Yu lebih dulu keluar dan kemudian berjalan ke arah pintu rumahnya.

Bo Shangyuan berjalan di belakang, menunggunya berbicara.

Baru beberapa langkah, Gu Yu berhenti.
Dia berbalik, mendapati Bo Shangyuan juga menatapnya.

Gu Yu tiba-tiba menarik kerah bajunya. “Kau … jika kau berani memikat gadis lagi, aku akan … aku akan …”

Bo Shangyuan terkejut sejenak, dia kemudian tersenyum kecil, bertanya. “Akan apa.”

Melihat senyum Bo Shangyuan, Gu Yu semakin marah.

“Jangan tersenyum!”

Bo Shangyuan dengan patuh menetralkan wajahnya.

Gu Yu merasa sedikit puas.

Kemudian, dia berkata dengan serius. “Jika kau berani … berani memikat gadis lain lagi, aku akan … meninggalkanmu!”

Mendengar itu, ekspresi Bo Shangyuan juga berubah serius. Dia mengambil tangan Gu Yu, mencium punggung tangannya, dan berbisik pelan, “Aku salah. Ini tidak akan terjadi lagi. Jangan tinggalkan aku, ya?”

Wajah Gu Yu merah dan berkata. “… Hampir saja.”

Dia kemudian berbisik, “Aku memaafkanmu kali ini.”

Setelahnya, dia siap untuk menarik tangannya dan kembali ke rumah.
Namun genggaman dilengannya tidak bergerak.

Gu Yu mendongak, bingung.
Bo Shangyuan mengeratkan genggamannya, tangan yang lain mengambil kunci dan membuka pintu.
Gu Yu berkedip dan tampak kosong.
Setelah pintu dibuka, detik berikutnya, Bo Shangyuan langsung menariknya ke dalam rumah.

Gu Yu mendongak dan ingin mengatakan kalau dia bisa memasuki rumahnya disebelah. Namun, Bo Shangyuan sudah menekannya di dinding dan menciumnya.
Gu Yu seketika bodoh.

Bibir dan lidah yang basah membuka giginya, dan kemudian melingkari lidahnya.

Tampaknya gairah yang telah lama ditekan seketika tersalurkan, Bo Shangyuan menciumnya dengan sangat kuat, seakan ingin memakannya.

Gu Yu bersandar di dinding, tubuhnya lembut, dan dia tidak bisa memikirkan apa pun di pikirannya.

Dia dengan tidak berdaya hanya bisa menerima serangan buas Bo Shangyuan dengan tangan yang ditempatkan dengan lembut di lengan Bo Shangyuan.

Bibirnya merah dan bengkak, Bo Shangyuan terus menyedotnya tanpa jeda.
Oksigen di dada menjadi lebih tipis dan bibir Bo Shangyuan akhirnya beralih menyelinap di lehernya.

Dia menyedot kuat, memberi beberapa cupang, dan kemudian, seakan melampiaskan gairahnya, dia menggigit tulang selangka Gu Yu.

Gu Yu seketika merasa perih, “… Kenapa kau menggigitku.”

Bo Shangyuan merespon dengan suara serak, dan ambigu. “Aku benar-benar ingin … memakanmu.”

“Ah?”

🌻🌻🌻




Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments