101. Kau tidak bertanggung jawab atas ciumanmu?

Urutan waktu dan subjek ujian masih tidak berbeda dari sebelumnya.

Dalam sekejap mata, ujian simulasi tiga hari pun berakhir.
.
.

Hari keempat.

Karena siswa tahun kedua tidak lagi mengikuti pelatihan militer maka pada hari keempat, kelas secara resmi dimulai.

Pada jam 7:30 pagi, seperti biasa, Gu Yu singgah ke rumah Bo Shangyuan untuk pergi ke sekolah bersama.

Pintu sebelah masih tertutup dan sunyi.

Hati Gu Yu sedikit gugup.

Dia tidak begitu gugup selama tiga hari ujian simulasi.

Topik ujian ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Pokoknya, tidak sesulit yang dia lewatkan selama liburan musim panas.

Ketika memikirkan itu, wajah Gu Yu menggelap.

Ini adalah 16 tahun … Oh tidak, ini adalah liburan terburuk dalam 17 tahun hidupnya.

Namun, meski topiknya tidak terlalu sulit, tetapi untuk mencapai 600 poin, itu masih agak sulit.

Bahkan jika itu adalah pertanyaan sederhana, dia tidak dapat menjamin bahwa dia akan melakukan segalanya dengan benar, tanpa kelalaian dan kesalahan.

Saat ujian tiga hari selesai, dia pulang kerumah dan memperkirakan hasilnya.

Jika tidak meleset, nilainya pasti sekitar 590.

Jika dia bandingkan dengan nilai biasanya, skor ini sudah baik.

Dia biasanya hanya bisa mencapai 570 poin.

Tapi … masalahnya adalah 590 poin jauh dari memenuhi persyaratan untuk masuk kelas A.

Untuk masuk ke kelas A, setidaknya enam ratus poin atau lebih.

Meskipun 590 poin dan 600 poin tampaknya hanya selisih beberapa poin, tetapi jika dalam ujian masuk perguruan tinggi, banyak kandidat yang akan putus asa karena melewatkan peluang besar.

Setelah memperkirakan bahwa nilainya pasti kurang dari 600 poin, hati Gu Yu hanya bisa gugup.

Bo Shangyuan memberinya kelas dua bulan penuh, meskipun dia tidak mengatakan alasannya, Gu Yu tahu betul. Itu semua agar mereka bisa berada di kelas yang sama.

Sebelumnya, dia tidak mengerti mengapa Bo Shangyuan ingin dia pergi ke Kelas A.

Tapi setelah Bo Shangyuan menciumnya, dia akhirnya mengerti.

Gu Yu bukannya tidak ingin masuk ke kelas yang sama dengan Bo Shangyuan.

Tetapi, itu sangat sulit untuk masuk ke Kelas A.

Gu Yu berdiri dengan gugup depan pintu rumah Bo Shangyuan. Dia menutup mata sejenak dan membiarkan dirinya santai.

Jika dia benar-benar tidak masuk kelas A … Maka … Ini masalah besar. Seperti sebelumnya, dia akan terus membuat kelas di rumah Bo Shangyuan setiap hari, dan yang tadinya menyalin 30 kali akan menjadi 40 kali.

Gu Yu mengeluarkan ponsel dan melihat waktu.

… sudah jam 7:40. Jika mereka tidak pergi, pasti akan terlambat.

Setelah memikirkannya, Gu Yu segera meneleponnya.

Panggilan segera terhubung.

“Cepat bangun, sudah terlambat.”

Orang di ujung telepon sepertinya belum bangun dan butuh beberap saat untuk merespon samar.

Gu Yu menutup telepon dan menunggu diluar pintu.

Lima menit kemudian, pintu terbuka.

Bo Shangyuan dengan pakaian rapi muncul didepan mata Gu Yu.

Ini masih pakaian hitam putih sederhana, namun tetap menarik dan tidak bisa mengalihkan pandangan orang yang melihatnya.

Gu Yu tidak bisa untuk tidak berpikir: Kenapa pria sempurna seperti Bo Shangyuan… bisa menyukai orang sepertinya, terlalu aneh.

Gu Yu mengalihkan pandangannya.

“Ayo pergi.”

Setelah itu, dia baru saja akan berbalik namun Bo Shangyuan tiba-tiba melemparkan seikat kunci ke lengannya.

Bentuk kunci sangat familiar

Gu Yu menatapnya dengan bingung. “… Kenapa kau berikan kunci rumahmu padaku?”

“Lain kali kau bisa langsung masuk.”

Gu Yu tertegun sejenak, kemudian berkata ragu. “Tapi tidak baik memberi kunci rumahmu seperti ini …”

Ada begitu banyak hal yang bernilai uang di rumah Bo Shangyuan, meskipun Gu Yu tidak melakukan hal-hal licik, tetapi bagaimana jika ia secara tidak sengaja menjatuhkan kunci dan ditemukan orang lain?

Terlebih lagi, dalam hal apa pun, memberi kunci rumah dengan begitu santai pada orang lain, itu tampak tidak baik.

“Apa yang tidak baik.”

Gu Yu berbisik, “Apa kau tidak takut saat kau tidak ada, aku menyelinap ke rumahmu … Dan mengambil barang-barang?”

Suara Boshangyuan masih tenang. “Ambil saja.”

Gu Yu terdiam.

Bo Shangyuan melanjutkan, “Kau juga bisa membawaku bersamamu.”

Gu Yu langsung memerah.

Dia dengan malu mulai berjalan ke arah lift sambil berbisik, “Aku tidak akan bawa …”

Tanpa diduga, setelah mendengar itu, Bo Shangyuan meraih kerah belakang Gu Yu dan bertanya dengan mengangkat alisnya. “Kau tidak bertanggung jawab atas ciumanmu?”

Gu Yu tertegun.

Dia berbalik menatap Bo Shangyuan dan tergagap. “Jelas … jelas kau yang menciumku—”

Bo Shangyuan masih menatapnya lurus dengan pandangan dalam dan gelap.

Suaranya rendah dan menggoda. “… Benarkah? Apa yang terjadi di pintu lift?”

Ingatan yang dilupakan dua bulan lalu dihidupkan kembali, Gu Yu menahan napas dan akhirnya merespon. “Aku … itu … itu tidak sengaja.”

“Lain kali kau akan sengaja?”

“…”

Wajah Gu Yu semakin merah.

Suhu panas menyebar dari wajah ke akar telinga, dan hatinya berdegup seperti pukulan drum.

Dia terlalu malu untuk menatap Bo Shangyuan dan memilih mengabaikannya.

Disaat bersamaan, pintu lift terbuka.

Gu Yu bergegas ke lift, seolah-olah dia akhirnya terselamatkan, tubuhnya kini santai.

Tapi dia tiba-tiba teringat satu hal.

Ya, beda kelas.

Gu Yu mendongak dengan kaku kearah Bo Shangyuan.

Merasakan tatapan Gu Yu, Bo Shangyuan balas menatapnya dengan tenang.

Di bawah tatapan itu, Gu Yu menyusutkan tubuhnya dan berbisik, “Bagaimana kalau aku tidak bisa masuk kelas A?”

Bo Shangyuan menarik kembali pandangannya. Tidak mengatakan apa-apa.

Gu Yu bingung.
.
.

Setelah tiba di sekolah, Gu Yu langsung berlari ke arah papan buletin.

Dia berdesakan dengan sejumlah besar orang, berusaha keras dan akhirnya sampai didepan papan buletin, mengabaikan siswa lain di sekitar yang tampak membicarakan sesuatu sesuatu.

Gu Yu tanpa sadar melihat daftar nama dikelas A.

Dia berpikir bahwa kali ini yang pertama pasti Bo Shangyuan. Namun, ternyata bukan.

Gu Yu berkedip beberapa kali memastikan penglihatannya tidak salah.

Tetapi nama orang lain masih tertera disana.

Gu Yu terkejut dan segera menelusuri nama semua orang di kelas A.

Bo Shangyuan mungkin hanya mengisi satu atau dua pertanyaan yang salah …

Hati Gu Yu berpikir begitu, namun sebagai hasilnya, dia tidak menemukan nama Bo Shangyuan.

Apakah dia buta? Bo Shangyuan bukan di kelas A? Ini tidak mungkin.

Disaat bersamaan, komentar orang lain di sekitarnya secara bertahap menjadi lebih jelas.

“Bo Shangyuan bukan yang pertama di kelas A.”

“Kali ini ujiannya tidak sulit.”

“Apa mungkin dia lupa menulis nama? Terakhir kali aku seperti ini.”

“Hei, peringkat satu tiba-tiba merosot jauh.”

“Hei, aku sekelas dengannya.”

“Kau di kelas mana?”

“Kelas B, kau tahu namaku ada di sini.”

Mendengar itu, Gu Yu mengambil kesempatan untuk melihat ke arah kelas B.

Seperti yang dikatakan, nama Bo Shangyuan ada di kelas B.

Dan namanya juga ada disini.

Menyadari ini, Gu Yu tiba-tiba teringat pandangan sekilas Bo Shangyuan tadi di lift.

Suara argumen di sekitarnya tiba-tiba berhenti.

Bo Shangyuan muncul.

Orang-orang di sekitar papan buletin secara tidak sadar memalingkan kepala mereka untuk ingin melihat bagaimana ekspresi Bo Shangyuan saat melihat pencapaiannya.

Namun, tidak disangka … Bo Shangyuan dengan tenang langsung menatap ke arah daftar nama di kelas B, tidak ada perubahan ekspresi sama sekali.

Melihat itu, mereka semua tertegun.

Gu Yu menatapnya dengan sedikit lebih rumit.

“Kau …”

Suara teriakan satu siswa laki-laki menginterupsinya. Orang itu berdiri di jendela lantai dua, melambai dengan liar ke arah mereka. “Bo Shangyuan, guru memanggilmu..”

Suara lelaki itu sangat keras, bukan hanya Gu Yu, tetapi orang-orang di sekitar mereka juga mendengarnya.

Ekspresi mereka halus.

Bo Shangyuan mendongak dan kemudian beralih menatap Gu Yu tanpa ekspresi. “Aku akan naik.”

Gu Yu mengangguk. “Pergilah.”

Ketika Bo Shangyuan pergi, siswa lainnya langsung mengerumuni Gu Yu.

Mereka bertanya penasaran. “Bagaimana Bo Shangyuan bisa masuk ke kelas B? Bukankah dia selalu menjadi yang pertama di kelas A? Apa dia lupa menulis nama?”

Gu Yu menggosok bibirnya dan balas berbisik. “… Aku tidak tahu.”

“Gu Yu!”

“Xiao Yu Yu!”

Jin Shilong dan Shen Teng memanggilnya bersamaan.

Dalam teriakan keduanya, ada juga suara Jiang Zhenshan yang terengah-engah.

“Teman sekelas Gu Yu …”

Gu Yu berbalik.

Mereka bertiga datang dan bertanya, “Kau di kelas mana?””

“Kelas B.”

Shen Teng seketika terisak. “Xiao Yu Yu, kejamnya kau meninggalkanku …”

Jiang Zhenshan iri. “Aku juga ingin pergi ke kelas B.”

Pada saat ini, Jin Shilong melihat hasil dan namanya di papan buletin, kemudian dia berkata. “Hei, aku juga di Kelas B.”

Namanya ada di tiga terbawah di kelas B.

Shen Teng tertegun lalu menatap Jin Shilong dengan ekspresi sulit dipercaya.

Jelas tiap hari hanya membaca komik, bagaimana dia masih bisa pergi ke kelas B …

Jiang Zhenshan memperhatikan sesuatu yang lain.

Dia terkejut dan berkata. “Hei, bagaimana siswa Bo juga ada di kelas B?”

Shen Teng langsung mengumpat dan bertanya. “Di mana?”

Jiang Zhenshan mengarahkan jarinya dan berkata. “Oh, ini.”

Shen Teng terkejut.

Jin Shilong juga terkejut sesaat, dia melihat nama Gu Yu dan nama Bo Shangyuan, setelahnya dia paham.
.
.

Lantai dua, Kantor Urusan Akademik.

Setelah memanggil Bo Shangyuan, Guru kantor Urusan Akademik tidak banyak bicara, dan langsung menyerahkan lembaran soal ujian.

“Tulis itu.”

Wajah Bo Shangyuan tampak dingin dan memicingkan mata pada kertas ujian di depannya, kemudian dengan tenang mengambil pena dan mulai menulis.

Setelah setengah jam.

Bo Shangyuan kembali menyerahkan kertas ujian.

Guru mengambil alih dan dengan cepat mengoreksi jawabannya. Setelah menghitung skor, alisnya berkerut bingung.

“Apa ini benar-benar kemampuanmu?”

Bo Shangyuan merespon samar.

Guru itu bertanya-tanya, “Tetapi bukankah kau selalu peringkat pertama? Bagaimana setelah melewati liburan musim panas, nilaimu turun begitu buruk?”

“Aku tidak tahu.”

Guru memandangi Bo Shangyuan yang acuh tak acuh dan tidak bisa menahan sakit kepala.

Dia mengangkat tangannya dan menekan alisnya. “Kau adalah murid favorit semua guru. Kami selalu sangat diyakinkan tentang pencapaianmu. Bagaimana kau mendapat skor sangat buruk?”

Bo Shangyuan tidak merespon.

Guru mengambil napas dalam-dalam dan merasa tidak berdaya.

“Lupakan saja, kelas akan dimulai, kembalilah.”

Bo Shangyuan pun pergi tanpa ekspresi.
.
.
Pada saat bersamaan.

Jiang Zhenshan masuk di kelas D, sementara Shen Teng masih di Kelas E.

Adapun Duan Lun, karena Bo Shangyuan tidak mengatakan akan pergi ke kelas B, jadi dia masih di Kelas A. Pada saat ini, Duan Lun menatap lelaki lain yang duduk di meja depan dengan ekspresi benar-benar hitam.

Sementara Xie Yunyan, setelah dua bulan liburan musim panas, nilainya masih gagal naik, jadi dia pindahkan dengan kejam ke kelas C.

Setelah berpisah dengan enggan dengan dua temannya, Gu Yu dan Jin Shilong datang ke kelas B.

Kelas B hampir penuh dan sangat berisik.

Gu Yu melihat sekitar dan hampir tidak ada yang dikenalnya.

Yang masuk kelas B biasanya mereka yang turun dari kelas A, atau naik dari kelas C.

Tidak seperti Gu Yu yang dari kelas E langsung loncat ke kelas B, itu sangat unik.

Gu Yu menemukan sudut untuk duduk.

Posisi di depan Gu Yu kosong, jadi Jin Shilong duduk di meja depannya seperti di kelas E.

Gu Yu agak aneh.

Dia bertanya, “Bukankah di sebelahku masih kosong?”

Mengapa Jin Shilong tidak duduk di sebelahnya?

Jin Shilong mengayunkan tangannya dan berkata penuh makna. “Kau akan mengerti nanti.”

Gu Yu tidak mengerti.

Tidak lama kemudian seorang laki-laki pendek datang dan duduk disebelahnya.

Setelah duduk, dia mengangguk dan berkata, “Halo.”

Gu Yu mengangguk dan balas menyapa.

Jin Shilong mengerutkan kening dan berkata kepada lelaki itu. “Tidak, kau tidak bisa duduk di sini.”

Lelaki itu bingung dan bertanya. “Kenapa? Bukankah bangku ini kosong?”

Jin Shilong akan membalas namun suara dingin tiba-tiba muncul. “Bangun.”

Ketiga orang itu segera mendongak dan mendapati Bo Shangyuan sudah berdiri disisi meja dengan wajah dingin.

Di bawah tatapan dingin itu, lelaki tadi mengambil tasnya, perlahan berdiri dan segera menjauh.

Bo Shangyuan kemudian beralih duduk dibangku sebelah Gu Yu.

Gu Yu akhirnya mengerti arti dari kalimat Jin Shilong tadi.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments