101. Hal - hal kecil

Suhu udara sama sekali tidak menghangat dan tampaknya menjadi lebih dingin. Cuaca semakin tidak dapat diprediksi bermain dengan manusia, mungkin untuk membalas terhadap manusia yang bermain dengan lingkungan alam. Guo Zhi memeluk lengannya dibawah selembar selimut tipis dikamar asrama. “Ini sangat dingin, aku pikir dingin itu baik sebelum liburan musim dingin. Aku tidak menyangka menjadi begitu dingin,” Ke Junjie meletakkan semua pakaiannya yang tebal di atas selimut. “Kita bisa apa, tidak ada AC di kamar, dan hanya bisa bertahan.”

“Aku juga memikirkannya.” Sulit untuk memikirkan tubuh dingin masuk ke selimut dingin untuk sementara waktu. Dia cukup berani untuk bertahan selama dua hari, dan dia menderita. Sekarang dia seharusnya bertemu Shi Xi. Setelah pamit pada Ke Junjie, Guo Zhi berlari ke apartemen Shi Xi, membuka pintu, dan berlari masuk, “Shi Xi! Aku datang.”

“Tidak perlu bicara berlebihan.”

“Apa yang berlebihan, tentu saja aku harus menyapa saat datang ke rumahmu.”

“Kau pikir aku ingin menyapamu?”

“Menganggapku orang asing.” Dia benar-benar menganggap serius kata-kata Shi Xi. Guo Zhi kira begitu memasuki pintu ia akan merasakan kehangatan AC, tidak menyangka ruangannya juga dingin, dia mengambil remote dan menekan tombol power. “Kenapa AC tidak merespons?”

“Karena sepertinya kau tidak enak dipandang.”

“Jawaban apa ini?” Guo Zhi membuka penutup di bagian belakang remot. “Apa baterainya mati?” ia membuka baterai lalu kembali dimasukkan ke dalam, AC masih tidak merespons, ia mulai mencari baterai di kabinet. Ia ingat telah membeli sebelumnya. “Shi Xi, kau melihat baterai tidak? Sebaiknya letakkan ditempat yang terbuka, jika tidak, kau tidak akan menemukannya ketika butuh.” Keluhan pahit Guo Zhi tidak berpengaruh, Shi Xi tetap fokus membaca buku.

Ketika akhirnya ia menemukannya, ia memasukkan baterai baru ke remote control, dan AC tidak bergerak. Shi Xi membuka suara, “Apa yang ingin kau lakukan, ACnya rusak.”

“Kau mengatakannya terlalu terlambat!” Guo Zhi tidak puas, ia berdiri di tempat yang sama dan berpikir sejenak, kemudian bersiap untuk pergi namun dihentikan Shi Xi. “Sudah larut malam, kau mau kemana?”

“Aku bukan anak kecil, aku akan berhati-hati.”

“Jangan menghina anak-anak, kau tidak sebaik mereka.”

“Aku tahu kau tidak punya kata-kata yang bagus di mulutmu. Aku tidak pergi jauh dan akan kembali dalam sepuluh menit.” Setelah itu, ia menutup pintu. Tidak lama kemudian, Ia kembali dengan sebuah kotak, sangat bangga akan hal itu. “Lihat apa yang aku beli, ternyata aku begitu pintar!” Dia menunjukkan selimut listrik yang dia beli pada Shi Xi.

“Kau bisa pintar ketika membeli selimut listrik. Jika kau membeli TV, berarti kau jenius.”

Guo Zhi meratakan mulutnya, mengabaikan Shi Xi. Ia menyebar selimut listrik di tempat tidur dan menyambungkan listrik. Setelah beberapa saat, ia meraba tangannya untuk merasakan hangat.

“Hal yang paling membahagiakan di musim dingin adalah aku bisa berbaring di tempat tidur yang hangat di malam hari.” Guo Zhi berlutut di tepi tempat tidur dengan kedua tangan ke dalam selimut, dan wajahnya berbaring di tempat tidur, ekspresinya puas. Tidak mendengar sarkastik Shi Xi, dia tidak terbiasa, jadi bertanya, “Kenapa kau tidak bicara?”

“Terkadang mengabaikan kata-katamu akan membuatku merasa lebih baik.” Shi Xi membaca halaman terakhir dan menutup buku.

“Aku minta maaf membuatmu merasa buruk!”

“Hm.”

“Kau harusnya berpikir dulu sebelum setuju!” Guo Zhi bangkit dan naik ke sofa. Dia tidak duduk di tempat kosong. Dia mengambil posisi di belakang Shi Xi. Wajahnya ditempelkan ke punggung dan tangannya yang hangat memeluk tubuh Shi Xi, “Hangat?”

“Hm.”

“Persyaratannya sangat menuntut.”

“Apa kau tidak terlalu erat?”

“Tentu saja tidak, apa menurut ini sangat erat?” Shi Xi melempar buku ke lantai dan mengambil buku lain lagi, “Lakukan sesukamu.”

“Ternyata memelukmu seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada tidur diranjang yang hangat di malam hari.”

“Kau bisa diam.”

“Hm, buku apa yang kau lihat sekarang?” Guo Zhi memajukan kepalanya dan melihat buku di tangan Shi Xi.

“Kau bahkan tidak tahu apa artinya tutup mulut?” ​​Shi Xi menempelkan buku itu ke wajahnya.
.
.

Di tengah malam, karena keengganan untuk mematikan selimut listrik, tempat tidur tidak lagi menjadi suhu yang nyaman. Shi Xi mengerutkan alisnya dan terbangun dari suhu panas, dia melepas selimut, menyalakan lampu di samping tempat tidur, dan melihat Guo Zhi yang menahan gerah karena suhu tinggi, matanya tertutup tidak nyaman, Shi Xi menggunakan punggung tangan untuk menghapus keringat halus dari dahi Guo Zhi, lalu matikan selimut listrik. Entah berapa lama, ada sesuatu yang ditekan pada tubuh Shi Xi, sulit untuk membangunkannya, dia berkata dingin, “Apa yang kau lakukan?”

“Menyebar selimut listrik.”

Shi Xi mendorongnya kembali berbaring. “Jangan pikirkan itu.”

“Ranjangnya mulai dingin.”

“Lalu apa?”

“Apa, tentu saja, tempat tidur akan menjadi dingin, kau tidak tahu tempat tidur akan menjadi dingin? Begitu suhu turun, dan kemudian tempat tidur menjadi dingin.” Guo Zhi yang masih setengah sadar, berbicara tentang kata-kata yang membingungkan tanpa berpikir. Shi Xi mengulurkan tangan dan menyeret Guo Zhi ke dalam pelukannya. “Tidak ada yang perlu diucapkan sekarang.”

Rasa kantuk sepertinya dihilangkan oleh detak jantung yang berdebar, lengan Shi Xi sebagai bantal Guo Zhi. “Tiket untuk pertunjukan musik yang dikirim Hua er tampaknya akan dimulai minggu depan, jadi jangan lupa.”

“Apa kau benar-benar berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan topik ini?”

“Dengan kata-katamu, pantas untuk membicarakan topik apapun kapan saja.”

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments