10. Pasangan yang serasi

Pertanyaan tiba-tiba Hua Guyu sudah mengejutkan, tidak terpikir bahwa jawaban Shi Xi lebih mengejutkan. Dia dengan ringan membuka mulutnya, "Aku tahu." Ternyata hanya Guo Zhi yang tidak menyadari dirinya sendiri.

"Lalu kau?" Hua Guyu sering melihat mereka berdua bersama, ia bisa melihat perasaan Guo Zhi hanya dari matanya. Guo Zhi adalah orang yang sangat mudah terbaca, perasaannya tertumpuk di wajahnya. Ia berpikir bahwa perasaan mereka sangat lambat sehingga menguras habis emosi. Ternyata Shi Xi sudah menyadari perasaan Guo Zhi tetapi pura-pura tidak tahu.

Bel masuk mulai berbunyi, para murid bergegas kembali kedalam kelas. Suara Shi Xi bercampur dengan dering bel, dan dengan cara ini mudah diidentifikasi. Ia pergi ke ruang kelas, tanpa melihat, meninggalkan jawaban yang realistis, “Menyukai hal yang dangkal ini, biasanya dimulai dari penampilan. Jika aku tidak memiliki wajah ini, apa dia akan menyukaiku? ”

Hua Guyu tidak menyangka Shi Xi akan menjawab seperti ini, dalam persepsinya, menyadari dan mengetahui ada siswa laki-laki menyukai dirinya, hanya ada tiga jenis reaksi: jijik, penolakan dan penerimaan. Tetapi seringkali skala reaksi pertama yang diperhitungkan sangat tinggi, reaksi kedua karena tidak menyukai orang itu, dan kemungkinan reaksi ketiga sangat langka jika dibandingkan poin pertama.

"Karena dia laki-laki?" Tanya Hua Guyu.

Shi Xi berbalik kali ini, ekspresinya tidak bisa terlihat. "Aku tidak melihat pada gender. Aku melihat pada perasaan."

Hua Guyu membeku. Tidak ada emosi dalam diri Shi Xi. Pupilnya melihat pada sisi alami manusia, tidak menerima dan tidak melawan, hanya memperhatikan, tidak mengambil langkah ke dalam jurang perasaan.

Dan Guo Zhi memiliki terlalu banyak emosi, matanya yang polos hanya dapat melihat keindahan, semua dalam genggamannya, dia tersenyum dan menikmatinya dengan penuh perasaan.

Mereka berdua adalah pasangan yang serasi.

.
.

Mulut Guo Zhi berkedut, mulai menghafal rumus matematika, dia tidak menyadari ia melupakan sesuatu. Seperti rumus yang seharusnya ada dipikirannya, namun ia malah memikirkan Shi Xi yang benar-benar baik, tidak ada yang lebih baik dari Shi Xi.

Walaupun mereka dibawah langit malam yang sama, mereka dibatasi dinding, dibatasi deretan meja, dibatasi siswa lain, dibatasi sekuler, dibatasi oleh banyak hal. Bahkan jika Guo Zhi ingin mendekat, tidak mungkin lagi untuk melangkah.

Kapan cinta ini akan menjadi seperti cinta biasa yang tidak lagi istimewa?

Dia menghibur dirinya sendiri hari itu tidak bisa dihindari dan pada saat yang sama, ia juga mengejek dirinya sendiri.

Tuhan tidak baik, Tuhan tidak akan memuaskan keinginan semua orang.

.
.

Malam harinya. Guo Zhi yang berbaring di tempat tidur tiba-tiba duduk. "Ujian masuk universitas akan segera dimulai, aku tidak boleh banyak pikiran!" Dia menepuk pipinya sendiri, "Pikirkan sesuatu yang lebih baik, cepat pikir sesuatu yang lebih baik." Guo Zhi menghipnotis dirinya sendiri, dia jatuh kembali ke tempat tidur sambil menarik selimut menutupi kepalanya. Ia menutup matanya dengan erat dan memikirkan hal baik.

Kemudian dalam pikirannya, Shi Xi muncul. Ia berada di tangga mengambil topi Shi Xi. Ia duduk di kelas melihat penampilan Shi Xi. Ia memandang Shi Xi dari seberang danau di taman kecil, semuanya tentang Shi Xi. Rasa jengkelnya memudar, tetapi tiba-tiba bergegas menjadi lebih bergejolak. Kenapa seperti ini? Perasaan aneh ini, Guo Zhi tidak bisa menjelaskan, hanya berpikir bahwa dia sedang sakit.

.
.

Guo Zhi tidak bisa tidur dengan lelap sepanjang malam. Ia masuk kedalam kelas dengan mata panda dan langsung merebahkan kepalanya diatas meja.

"Sangat mengantuk."

"Apa yang kau lakukan semalam?"

"Memikirkan sesuatu." Mendengar itu, Wang Linlin mengalihkan mata dari bukunya untuk menatap Guo Zhi.

"Apa yang kau pikirkan?"

Guo Zhi mengangkat wajahnya dan dengan serius bertanya, "Apa kau tahu, ketika aku memikirkan masa lalu aku merasa cukup bahagia, memikirkannya sekarang aku merasa kesal, ini di sini terasa tertekan." Guo Zhi menunjuk ke hatinya sendiri.

Wang Linlin mengangguk mengerti, memegang tangannya, "Aku sudah pernah merasakannya. Setiap kali guru mengatakan hari libur, aku merasa sangat senang, tetapi setiap kali guru mengatakan waktunya untuk ujian, aku merasa kesal. Hatiku juga tertekan. Jangan khawatir, aku sudah mengalaminya, perasaan itu akan menghilang seiring berjalannya waktu." Wang Lilin menepuk bahu Guo Zhi berbagi pengalaman. Seakan-akan ia memang orang yang berpengalaman.

"Ternyata seperti itu." Guo Zhi bertanya pada orang yang salah, dan mendapat jawaban keliru. Ia salah berpikir waktu bisa mengkonsumsi sentimennya. Ia tidak tahu, bahwa hanya Shi Xi yang bisa meningkatkan dan mengkonsumsi sentimennya.

Ini pertama kalinya Shi Xi melintasi pintu belakang kelas Guo Zhi dan melihat Guo Zhi sedang merebahkan kepalanya diatas meja.

Dia seharusnya tidak terganggu, ini adalah urusan Guo Zhi sendiri, suasana hatinya yang buruk tidak ada hubungannya dengan dia, Guo Zhi gagal masuk ke universitas pun itu urusannya sendiri. Guo Zhi, orang ini tidak pernah peduli dengan urusannya, urusan Shi Xi.
.
.

Kelas mandiri malam, suasana kelas sangat tenang. Guo Zhi memegang buku ditangannya sambil memikirkan kenapa Shi Xi tidak membantunya. Tiba-tiba ia merasakan kekuatan besar membuatnya bersandar kebelakang. Tangan Shi Xi menarik bangku Guo Zhi dan menyeretnya keluar kelas.

Guo Zhi tidak sempat bereaksi, Shi Xi menunduk, mengulurkan tangan kanannya memegang sisi kiri bangku. Guo Zhi mendongak dan bisa melihat wajah ShI Xi dengan jelas.

"Dengarkan baik-baik, aku punya banyak hobi singkat. Walaupun aku tinggalkan semua tetapi menulis fiksi selalu tersimpan dalam hidupku." Mungkin orang lain tidak bisa mengerti maksud Shi Xi, tetapi Guo Zhi mengerti. Sesuatu yang ditinggalkan itu tidak terlalu disuka, yang tersisalah yang paling disukai.

Guo Zhi mengangguk kuat. Rasa iritasinya dengan cepat menghilang.

Matanya bersinar di bawah cahaya oranye, senyumnya lebih kuat dari cahaya oranye, jari-jarinya yang hangat menangkap tangan kiri dingin Shi Xi, menggenggam dengan erat, "Shi Xi, aku rasa suatu hari nanti aku akan menjadi fiksimu."

Shi Xi yang terbiasa menjadi dingin tiba-tiba diserbu oleh kehangatan Guo Zhi, refleks tubuhnya menolak, dia menarik tangannya, berbalik untuk pergi. Guo Zhi berdiri dari kursi, bergegas ke bawah tangga untuk memanggil Shi Xi, "Sampai jumpa, terima kasih. Shi Xi, kau selalu begitu hangat."

Shi Xi bersuara pelan, "Siapa yang hangat?"  tanyanya lebih kepada diri sendiri.
.
.

Guo Zhi menyeret kembali bangkunya kedalam kelas. Ketika melewati deret Hua Guyu, ia menepuk kepalanya. "Hua er, belajar yang rajin."

"Bodoh, jangan merusak rambutku!"

"Tidak masalah, bahkan jika rambutmu berantakan, kau masih begitu tampan."

Mendengar pujian itu, Hua Guyu memutar matanya, "Sepertinya kau sudah membaik."

"Aku tidak mengerti maksudmu, aku memang selalu seperti ini."

Guo Zhi duduk dibangkunya, menatap Wang Linlin lalu tiba-tiba berkata, "Kau terlihat sangat cantik hari ini."

"Benarkah?" Wang Linlin langsung mengeluarkan cerminnya dan berkaca. Dia tersenyum. "Apa kau pikir Hua Guyu akan menyukaiku?"

"Ya, semua orang akan menyukaimu."

Guo Zhi kembali fokus pada bukunya. Ia menepuk pipinya keras membuat pikirannya lebih ringan. Saatnya belajar dengan giat.

Ketidak-acuhan Shi Xi memang membawa Guo Zhi lebih antusias.


Cinta benar-benar buruk, membawa semua emosi tidak ada yang bisa melarikan diri, bahkan jika itu adalah Guo Zhi yang optimis.
.
.


Shi Xi yang kembali apartemen dan membuka pintu kamar, dia berdiri dalam kegelapan tiba-tiba mengangkat tangan kirinya. Di sana, datang kehangatan dari Guo Zhi yang masih menolak untuk pergi, tersisa di tangan kirinya.


"Aku memang seharusnya tidak terganggu." Shi Xi menutup pintu.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments