9. Siapa ini? Sangat terampil memberi pelukan

Direktur pengajaran adalah Feng Mao, yang baru saja menjabat semester ini.

Sebagai pejabat baru membuat perubahan berani pada kantor asumsi (idiom), dia sangat antusias tentang disiplin. Tanpa makan sarapan, dia sudah berdiri dengan ganas memegang speaker selama lima belas menit, dan akhirnya menangkap Ying Jiao.

Mengetahui bahwa mereka berada ditingkat dua kelas tujuh. Feng Mao langsung membawa kedua orang itu ke hadapan Guru Liu kantor guru. "Ini siswa kelasmu?"

Guru Liu yang sedang makan roti, melihat mereka, mengerutkan kening, "Ya."

Dia berdiri, mendorong kursi kantor ke samping, matanya terfokus pada Jing Ji, emosi terpendam, "Kesalahan apa yang mereka berdua lakukan?"

“Ini--,” Feng Mao menunjuk ke Ying Jiao. “Tidak mengenakan seragam sekolah.” Dia berbalik untuk menunjuk Jing Ji, mencibir. “Adapun yang ini, bersaksi untuk temannya kalau alasan tidak mengenakan seragam sekolah adalah karena kotor."

Mendengar bahwa itu bukan perkelahian atau bolos kelas, Guru Liu merasa lega. "Direktur, jangan khawatir, aku akan mengurus mereka dan membiarkannya mengenakan seragam sekolah."

Feng Mao sangat tidak puas dengan sikapnya yang ringan, menepuk-nepuk meja dan berkata, "Tuan Liu, murid-murid di kelasmu harus bertanggung jawab! Siswa harus mengenakan seragam sekolah, yang merupakan peraturan! Selama mereka masih di sekolah, harus taat! Orang yang tidak terorganisir dan tidak disiplin seperti dia akan menjadi calon kriminal di masa depan!"

Dia kemudian memandang Jing Ji. "Dan yang ini bukan hal yang baik! Datang untuk memberitahuku sebuah kebohongan, dilihat sekilas jelas itu tidak bermoral!"

Ying Jiao mengangkat kelopak mata, meliriknya.

Feng Mao tersulut oleh api tak dikenal yang dilihatnya saat ini. "Apa yang kau lihat? Mengapa? Tidak terima? Apa guru salah? Lalu bagaimana dengan seragam sekolahmu? Kenapa tidak pakai?"

Ying Jiao bersandar di meja, dengan malas merespon, "kotor."

Feng Mao meledak seketika. "Tuan Liu, lihat murid-murid di kelasmu! Bagaimana sikapnya?! Apakah masuk akal untuk tidak mengenakan seragam sekolah? Yang begini bisa ikut ujian masuk perguruan tinggi? Omong kosong! Pulanglah dengan tas sekolahmu!"

Ying Jiao tersenyum miring, berdiri tegak, dan berbalik pergi.

"Kau--" Feng Mao sangat marah. "Ada apa denganmu, murid?! Berhenti! Kau mau kemana?!"

Ying Jiao tidak melihat ke belakang, sama sekali mengabaikan Feng Mao di belakangnya. "Pulang dengan tas sekolah."

Feng Mao berlari maju dua langkah. "Kau kembali, kembali! Kau dengar aku?!"

"Maaf, calon kriminal tidak pernah kembali."

Guru-guru lain yang menguping di kantor tidak bisa menahan tawa.

Feng Mao terpana dan hampir pingsan di tempat.

"Kau! Kau ingat terlalu banyak! Kau juga perlu menulis ulasan tiga ribu kata! Saat mengibarkan bendera pada hari Senin, bacakan di podium di depan para guru dan siswa sekolah!"

“Tidak!” Guru Liu tiba-tiba melompat seolah disengat lebah. "Ying Jiao tidak bisa membaca ulasannya!"

Terakhir kali ketika dia dihukum seperti ini, dia dengan blak-blakan mengubah ulasan menjadi konferensi pidato pribadi.

Ada tepuk tangan meriah dan teriakan selama pidato. Guru Liu tidak ragu bahwa jika dia tidak menyeretnya ke tengah jalan, dia mungkin sudah menerima tanda tangan dari para siswa.

Mengingat adegan di mana Ying Jiao berdiri di podium, dengan wajah tampan, dan perlahan berkata kepada para siswa yang menginginkan tanda tangannya. "Jangan terburu-buru, perlahan, satu per satu, ada bagian."

Wajah Guru Liu seketika menjadi gelap.

Dia sekali lagi menekankan. "Tidak bisa membaca ulasan."

Feng Mao berpikir bahwa Guru Liu melindungi murid-murid kelasnya, dengan wajah gelap dia siap untuk berdebat namun seketika mengingat nama Ying Jiao.

Insiden yang luar biasa itu telah didengar, dan segera cocok dengan yang ada di depannya.

Katanya, Ying Jiao memiliki latar belakang keluarga yang keras dan bahkan memukul guru?

Feng Mao membandingkan fisiknya dan fisik Ying Jiao, nyalinya menciut.

Dia menutup bibirnya dengan kepalan tangan, terbatuk-batuk, mengambil jalan keluar dari situasi memalukan. "Baiklah jika tidak membaca ulasan, kau bisa urus sendiri siswa di kelasmu! Hari-hari ini, ada pemeriksaan dari pemimpin Biro Pendidikan, siswa harus berpakaian seragam!"

Guru Liu mengangguk, bergumam dan akhirnya mengirimnya keluar dari kantor.

Begitu berbalik, senyum di wajah Guru Liu menghilang. Dia memandang Jing Ji dan berusaha sebaik mungkin. "Kau kembali untuk kelas mandiri, masalah ini tidak ada hubungannya denganmu."

Jing Ji merasa lega, sedikit tersenyum pada Guru Liu, membuka pintu kantor dan pergi.

Menghadapi Ying Jiao, Guru Liu tidak memiliki temperamen yang baik.

"Ikut denganku," Guru Liu berwajah hitam, dan menarik Ying Jiao ke sudut koridor, sakit kepala. "Watakmu ini... tidak bisakah emosimu dikendalikan? Ya, dia tidak berbicara dengan baik, tetapi bagaimanapun dia itu direktur, kau tidak bisa menahan diri? Apa yang sudah kau lakukan?"

Ying Jiao bersandar santai di ambang jendela, mengangkat matanya dan tersenyum, "Aku emosi padanya? Bukankah aku hanya mengikutinya?"

"Kau!" Guru Liu tidak bisa berkata apa-apa, sakit kepala. "Katakan, mengapa kau tidak mengenakan seragam sekolah?"

Guru Liu mengajar Ying Jiao selama lebih dari setahun dan mengenalnya dengan sangat baik.

Meskipun dia tidak suka belajar, dia tidak seagresif siswa berandal lainnya. Selama itu tidak memprovokasinya, Ying Jiao sangat mudah diatur.

"Benar-benar kotor.” Ying Jiao merentangkan tangannya. “Aku tinggal di sekolah tadi malam dan tidak mengganti pakaianku.”

"Kau ..." Guru Liu memijat dahinya. "Kalau begitu, aku akan menemukan satu set yang masih tersisa untukmu ..."

“Aku tidak memakai pakaian orang lain,” Ying Jiao memotongnya.

"Keras kepala sekali!” Guru Liu sangat kesal sampai ingin menggaruk tembok. “Jadi apa yang kau inginkan? Bertarung dengan direktur? Kelas kita memiliki begitu banyak pengurangan poin minggu ini dan akan terus berkurang. Ini membuatku kehilangan muka!"

“Bagaimana mungkin?” Ying Jiao tersenyum dan menepuk punggung Guru Liu. “Jangan marah, aku akan menyuruh orang membawakan seragam sekolahku kesini."

"Cepatlah!"

Ying Jiao mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan.

Guru Liu meliriknya, pura-pura tidak melihatnya.

“Seragam sekolahku yang kotor tidak bisa dipakai lagi, jadi aku perlu membeli yang baru.” Ying Jiao menyimpan ponselnya dan berkata kepada Guru Liu, “Apa kau bisa memesan untukku?”

"Ya." Guru Liu melambaikan tangannya, "aku akan menghubungi staff pengajaran untuk mengirimkan sesegera mungkin."

Masalah selesai, Guru Liu bersiap menyuruhnya kembali namun Ying Jiao tiba-tiba berkata, "Guru, aku ingin mengubah tempat duduk."

Guru Liu menatapnya dengan waspada, "Ubah dimana?"

Ying Jiao tertawa kecil. "Meja yang sama dengan Jing Ji."

Guru Liu mengerutkan kening, "Sejak kapan hubungan kalian begitu baik?"

"Kami harus belajar bersama, membuat kemajuan bersama, dan memenangkan kejayaan untuk kelas tujuh. Bunuh 211, melampaui 985, dan buat legenda eksperimen provinsi."

Guru Liu, "..."

..."Bicara bahasa manusia."

Ying Jiao terkekeh, "Persahabatan pria terjalin begitu cepat."

Guru Liu tidak tahan lagi, kepalanya hampir meledak. "Buang-buang waktu menanggapimu! Kau kembali ke kelas!"

"Bagaimana dengan ubah tempat duduk ...?"

Guru Liu sekarang merasakan sakit di matanya ketika dia melihatnya. "Jika Jing Ji setuju."
.
.

Ying Jiao perlahan kembali ke ruang kelas, melewati Jing Ji dan menemukan bahwa dia sedang menulis bahasa Inggris. Tulisan kaku itu halus dan indah, bahkan jika dia belum pernah melihat tulisan Jing Ji sebelumnya, Ying Jiao tidak berpikir bahwa seseorang yang tidak pernah belajar mempunyai tulisan tangan seperti itu.

Dia membuka kursinya dan duduk, mulutnya sedikit terangkat.

Entah itu trik terbaru atau perubahan tak terduga yang terjadi para orang ini, itu membuatnya merasa tertarik.

Ketika bosan, dia berhasil menemukan hobi, tetapi dia tidak bisa melepaskannya dengan mudah.

"Apa yang kau pikirkan, tersenyum begitu berlebihan?” He Yu menghampirinya, bercanda, “Gadis mana yang akhirnya membuat kakak Jiao kita jatuh cinta? Apa kau berkencan?"

Zheng Que di sampingnya memutar mata. "Jangan bicara omong kosong, bukankah kakak Jiao aseksual?"

He Yu tertawa, "Ya, ya, aku salah."

Ying Jiao tumbuh dengan baik, sejak awal sekolah menengah pertama, ia telah menerima banyak pernyataan cinta, baik laki-laki maupun perempuan.

Tapi Ying Jiao tidak pernah memandang mereka, dan tidak peduli dengan mereka.  Seiring waktu, teman-teman yang akrab dengannya menggodanya menyebutnya aseksual

“Bukan urusanmu." Ying Jiao melemparkan sepotong permen karet ke mulutnya, dan dengan tidak sabar mendorong wajah besar He Yu, "Minggir, kau menghalangi cahaya."

He Yu berkata serius, "Kenapa bukan urusanku, jika benar ada kakak ipar, apa aku tidak bisa melihatnya?"

Yoling Jiao tersenyum mengejek, meliriknya, "Lihat lalu apa? Membandingkannya dengan tinggi badanmu?"

“Kau!” He Yu sangat kesal, berbalik dan mengabaikannya.
.
.

Berbeda dengan belajar mandiri di malam hari yang berisik. Belajar mandiri pagi hari kelas 7 sangat tenang. Kebanyakan orang berbaring di meja untuk menebus tidur, dan kadang-kadang bisa mendengar suara dengkuran.

Akibatnya, gerakan Ying Jiao terdengar luar biasa berisik membuat Jing Ji tidak bisa menahan diri untuk melirik ke belakang.

"Hei," Li Zhou tidak bisa menahannya dari tadi, Jing Ji serius membaca, dan sama sekali tidak berbicara dengannya. Ketika Jing Ji berhenti membaca, dia segera mengambil kesempatan untuk bicara, "Kau membaca sepanjang pagi, apa kau bisa mengerti?"

Jing Ji mengangguk. "Ya."

Li Zhou tertawa, meliriknya, tidak percaya. "Tidak mungkin."

Jing Ji tersenyum, tidak menanggapi.

“Kau makan siang dimana?” Li Zhou lanjut bertanya, “Apa kau ingin keluar?”

Eksperimen provinsi tidak memungkinkan siswa memesan takeaway, tetapi ada kebijakan dan tindakan pencegahan.  Setelah beberapa bulan belajar, orang-orang dikelas 7 ini akhirnya menemukan titik lemah di sudut dinding barat sekolah, mengklaim sebagai tempat eksklusif kelas 7 untuk take away.

Jing Ji menatap jam dinding di dinding. Itu kurang dari jam delapan dan dia sudah berpikir untuk makan siang.

Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku akan makan di kafetaria."

Li Zhou berpikir sejenak. "Aku akan pergi juga, aku lelah take away." Dia menabrak bahu Jing Ji dan melanjutkan, "Kalau begitu kita harus bergegas setelah sekolah. Orang yang pergi ke kafetaria sangat banyak, kita tidak bisa mendapat bagian jika tidak bergegas."

Jing Ji mengangguk dan setuju, "Oke."
.
.

Empat pelajaran di pagi hari adalah fisika, bahasa Inggris, matematika, dan kimia.

Eksperimen provinsi layak menjadi sekolah menengah terbaik di provinsi ini. SMA sebelumnya cukup bagus, tetapi gurunya tidak dapat dibandingkan dengan eksperimen provinsi.

Jing Ji semakin bersemangat, dan merasa bahwa ini mungkin kompensasi terbesar yang diberikan kepadanya setelah memakai buku ini.

Beberapa guru telah mengatakan pada Guru Liu bahwa Jing Ji telah berubah namun dia tidak percaya, tetapi pada saat ini  dia sangat senang melihat Jing Ji mendengarkan kelas dengan cermat.

Guru Kimia adalah pria gemuk pendek yang memegang Guru Liu saat memarahi Jing Ji di kantor waktu itu. Nama keluarganya adalah Wang. Dia memiliki temperamen dan hati yang baik. Khawatir Jing Ji tidak bisa memahaminya, dia sengaja menerangkan materi sedikit lebih detail.

Jing Ji sangat tertarik pada pengetahuan, ketika menyadari guru melihat ke arahnya, dan mengubah gaya ceramahnya, dia merasa hangat.

Bahkan jika guru menerangkan materi tentang semua yang telah dia pelajari sebelumnya, dia masih mendengarkan dengan sangat hati-hati.

Begitu bel kelas terakhir di pagi hari berdering, Li Zhou buru-buru menarik Jing Ji dan bergegas keluar. "Cepat, atau kita tidak bisa mendapat bagian!"

..."Setiap hari, setiap kali aku pergi ke kafetaria, itu terlihat seperti pertandingan Olimpiade."

Jing Ji juga dikejutkan oleh kerumunan yang berlari di lapangan. Sekolahnya yang sebelumnya tidak pernah mengalami situasi seperti ini  "Apa kalian berlari seperti ini setiap hari?"

“Jika tidak?" Li Zhou mengangkat celananya. "Kau tidak tahu, setiap kali mengantri di akhir, semuanya habis."

Li Zhou berkata, kecepatan di kakinya semakin cepat, dan Jing Jing bahkan tidak dapat mengikutinya.

Li Zhou curiga dia lamban, "Aku akan lari duluan! Pergi dan ambil tempat." Dia megap-megap, dan berbalik ke Jing Ji. "Kau, kau pergi ke jendela 9 untuk menemukanku ketika kau masuk, masuk timku!"

Jing Ji kehabisan napas jadi dia hanya mengangguk sebagai jawaban.

Pada saat ini, Ying Jiao sedang menuju ke ruang kelas. Sopir di rumah mengirimkan seragamnya dan bibi memasak membawakan makanan untuknya.

Dia membawa seragam sekolahnya di satu tangan, dan rantang ditangan lain. Untuk menghindari siswa yang berlari ke kafetaria, dia hendak berbelok ke arah berlawanan, namun pergerakannya terhenti.

Di sisi yang berlawanan, Jing Ji berlari dengan terengah, pipinya memerah, dan terlihat sangat lucu.

Sudut bibir Ying Jiao terangkat, segera membalik arah langkah kakinya, berjalan lurus ke arah Jing Ji.

Jing Ji mati-matian berlari ke depan, dan tiba-tiba merasa gelap, seolah ada sesuatu yang menghalangi, tetapi sudah terlambat untuk berhenti pada saat ini. Meskipun upaya terbaiknya untuk mengendalikan, kepalanya telah menabrak seseorang.

“Maaf, maaf.” Jing Ji segera meminta maaf.

Sebuah suara yang tidak asing terdengar dari atas kepalanya, rendah, dengan sedikit menggoda, "Siapa ini? Sangat terampil memberi pelukan."


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments