8. Sungguh perhatian

Jing Ji memalingkan wajahnya, jeda beberapa saat, bulu matanya bergetar, mencoba untuk tenang dan berkata, "Dari, dariku."

"Apa?"

"Bangun dariku ..."

Ying Jiao tersenyum miring, puas, dan melepaskannya dengan senang hati.

Jing Ji bangkit dan duduk di tempat tidur, tanpa ekspresi di wajahnya, tetapi pipinya sedikit merah, dan dumb hair di kepalanya sedikit miring.

*kek rambut karakter anime yang berdiri ditengah kepala

Dia merasa sedikit tidak nyaman, tidak tahu di mana harus meletakkan tangan dan kakinya.  Dia mengambil gelas teh susu dan memegangnya, merasa lebih baik.

*salah tingkah

Ponsel di sakunya berdering, dan Jing Ji seperti menangkap jerami penyelamat, mengeluarkan ponsel dan melihat ke bawah.

*Secara harfiah berarti melihat secercah harapan antara hidup dan mati. 🤔😅

Itu pesan dari Li Zhou yang telah tiba di asrama dan bertanya dia dimana

Jing Ji mendesah lega, berdiri dan berkata kepada Ying Jiao. "Teman sekamarku sudah kembali, aku akan kembali dulu."

Ying Jiao bersandar malas di pagar tangga, dan ketika Jing Ji berjalan ke pintu, dia membuka suara. "Makan bersama besok pagi."

Langkah Jing Ji berhenti, sangat enggan.

Dia tidak tahu apa yang salah, jelas dia ingin menjaih dari Ying Jiao, tetapi jika seperti ini, bagaimana dia bisa merealisasikan niat awalnya?

"Aku...," Dia secara halus mengekspresikan penolakannya. "Aku bangun pagi-pagi sekali."

“Kebetulan, aku bangun lebih awal setiap hari.” Ying Jiao menatapnya sambil tersenyum, “Aku diam-diam termotivasi oleh diriku sendiri, tetapi teman sekelas tidak diperbolehkan mengikuti, teman sekelas kecil, ada yang salah dengan pikiranmu.”

Jing Ji menatapnya dengan sulit dijelaskan dalam beberapa kata (idiom); rumit dan tidak mudah untuk diungkapkan secara ringkas, menusuk kebohongannya dengan dingin. "Bukannya kau sering bolos di pagi hari?"

Menurut buku aslinya, Ying Jiao sangat kesal dibangunkan dari tidur sehingga tidak ada yang berani memanggilnya dan hanya bisa membiarkannya terus tidur.

Tatapan Ying Jiao terpana, cukup masuk akal kalau Jing Ji seharusnya tidak tahu tentang itu ...

Dia menekan keraguan dalam hatinya, memiringkan kepalanya dan menatap Jing Ji, tersenyum, "Kau benar-benar memperhatikanku."

Jing Ji berbalik dan pergi.

Di belakangnya, suara Ying Jiao terdengar pelan. "Aku masih berpikir kau banyak berubah, sejak kapan? Mari kita lihat.……”

Jing  Jimengertakkan giginya dan berbalik, "Aku akan bangun pukul enam besok."

Ying Jiao terkekeh, merasa puas. "Oke."

Spekulasi aneh dihatinya semakin lebih kuat, dari setiap godaannya, jika itu adalah Jing Ji yang asli, mungkin sudah akan menerjangnya.

Ada sekitar empat puluh orang disetiap kelas. Asrama secara seragam dialokasikan ke kelas oleh sekolah. Karena perkelahian antar kelas pernah terjadi di asrama, bahkan jika asrama kelas tidak memuaskan, orang-orang dari kelas lain tidak akan dibawa masuk untuk menghindari kontradiksi semacam itu.

Ada beberapa orang di kelas 7 yang tinggal, dan satu-satunya yang tinggal di 301 adalah Jingcl Ji dan Li Zhou.

“Dimana saja kau?” Begitu Jing Ji memasuki asrama, Li Zhou bertanya. “Apa kau tidak langsung kembali ke asrama?”

“Aku lupa membawa kunci, aku pergi ke asrama lain sebentar.” Jing Ji hanya menjawab, takut pada Li Zhou bertanya, dan dengan cepat mematikan topik. “Apa kau melihat kunciku?”

Li Zhou bertanya-tanya sejak kapan Jing Ji punya teman lain di asrama. Mendengar pertanyaan Jing Ji, dia segera mengesampingkan keraguan itu dalam benaknya. "Seharusnya ada di laci, bukankah kau sudah membawa kunci belakangan ini?"

Jing Ji membuka laci, dan melihat kunci putih tergeletak di dalam.

Dia menghela napas lega, menyimpan kunci itu ke sakunya, jangan sampai dia lupa besok pagi.

“Pergilah, mandi di ruang air.” Li Zhou mengeluarkan baskom plastik dari dasar tempat tidur, mendesak Jing Ji. “Kalau tidak, ketika kelas lain kembali, ruang air akan penuh sesak.”

Tidak ada kamar mandi terpisah di asrama, ada ruang air di setiap lantai, dan para siswa sedang mencuci di sini. Jika ingin mandi terpisah, mereka harus pergi ke pemandian sekolah.

"Oke."

Begitu kedua pria itu selesai mandi, pasukan besar kembali setelah belajar mandiri pada malam hari.

Li Zhou melirik dengan bangga pada Jing Yu. "Kau lihat kan, kau tidak bisa mengambil tempat kalau pergi ke ruang air sekarang."

Dia memiringkan kakinya, berbaring di tempat tidur, menemukan soket di dinding, mengisi daya ponsel, dan mengoceh. "Sialan, Su Guan menyebalkan, nebeng soket lagi, entah berapa lama dayaku akan penuh."

Percobaan provinsi tidak mengijinkan membawa ponsel ke sekolah, pemeriksaan sangat ketat. Soket di asrama semua ditutup. Jika ketahuan di kamar tidur mana yang membuka soket secara pribadi, poin akan dikurangi.

Aturan ini berguna untuk siswa di kelas lain, tetapi tidak berguna untuk siswa di kelas 7.

Poin dikurangi, siapa yang peduli?

Panggil orangtua? Itu tidak masalah.  Ponsel itu dibeli oleh orang tua untuk bisa menjaga komunikasi. Siapa tahu diculik atau semacamnya, apa jadinya jika tidak bawa ponsel?

Karena itu, sekolah membuka satu mata dan menutup satu mata, dan tidak terlalu peduli dengan asrama kelas 7.  Paling-paling, ketika mereka terlalu sombong, guru yang bertanggung jawab atas asrama akan mengambil alih soket.

“Apa kau butuh isi daya?” Li Zhou bertanya pada Jing Ji. “Kau bisa menggunakannya sebentar.”

Jing Ji menggelengkan kepalanya. "Kau gunakan saja, ponselku masih ada daya."

Dia tidak bermain game atau chatting, hanya memegang ponsel untuk melihat jam, dan menghubungi teman sekelas bila perlu.

Li Zhou senang. "Oke, kalau begitu aku akan bermain game sambil mengisi daya."

Li Zhou tenggelam dalam permainan, tidak mengangkat kepalanya. Jing Ji membuka kabinet, membiasakan diri dengan barang-barang tubuh asli.

Pada pukul sebelas, lampu asrama dimatikan serentak.

Jing Ji berbaring di tempat tidur, kemudian menutup matanya.

Besok adalah hari baru, kehidupan baru.

Jing Ji telah membentuk jam biologis, terbangun dengan sendirinya tanpa menunggu dering jam alarm. Dia mengambil ponsel dan melihat waktu, itu kurang dari jam enam.

Dia beranjak dari tempat tidur, mendorong pintu keluar untuk mencuci muka.

Setelah kembali, Li Zhou sudah bangun, duduk dengan linglung. Melihat penampilan Jing Ji yang rapi, dia ketakutan. "Fck, kau sudah bersiap? Kau benar-benar akan menjadi murid yang baik?"

Dia tadinya ingin menggulung selimut dengan asal dan melemparkannya ke tempat tidur, namun secara tidak sengaja melirik selimut Jing Ji yang terlipat rapi tampak seperti tahu. Tiba-tiba dia merasa malu dan mulai melipat selimut.

“Kau pergi duluan, jangan tunggu aku.” Dia menguap dan menggosok matanya. “Pergi ke kantin lebih awal tanpa harus mengantri.”

Jing Ji bergumam merespon dan bertanya kepada Li Zhou. "Mau aku membawakanmu sarapan?"

Li Zhou dan Jing Ji telah menjadi teman sekelas selama lebih dari setahun dan tidak pernah menikmati pelayanan ini. Dia tiba-tiba merasa bahwa perubahan Jing Ji cukup baik.

Dia menyerahkan kartu makan kepada Jing Ji. "Oke, bawakan aku dua kue kentang, telur teh, dan secangkir susu kedelai."





"Oke."

Dia berjalan keluar dari asrama, ragu-ragu, dan mengetuk pintu 303.

Setelah menunggu sebentar,  tidak ada yang datang untuk membuka pintu.

Jing Ji memperkirakan bahwa Ying Jiao belum bangun, kusut sebentar, dia mengetuk lagi.

Setelah satu menit, Ying Jiao yang mengenakan piyama, membuka pintu dengan wajah suntuk.

"Kau ..." Melihat penampilannya masih seperti ini, Jing Ji merasa senang, menyeringai, "Kau belum siap, jadi aku bisa pergi duluan kan?"

“Siapa yang membiarkanmu pergi?” Ying Jiao mengulurkan tangan dan menyeretnya ke masuk, menekannya ke tempat tidur. “Duduk dan tunggu aku.”

Dia membawa baskom, dan berjalan ke ruang air seperti zombie.

Ketika bangun pagi, ruang air penuh dengan orang dan berisik. Begitu Ying Jiao memasuki pintu, ruang air segera menjadi sunyi. Seorang laki-laki di samping segera mengambil baskom dan pergi, memberinya tempat.

Ying Jiao berjalan mendekat dan meletakkan baskomnya di wastafel.

Orang-orang yang tadinya mengobrol dan berdebat juga berubah tenang, menyusutkan bahu, bahkan tidak berani membuat suara berisik ketika berkumur.

Setelah mencuci, Ying Jiao kembali segar, bersiap lalu berkata pada Jing Ji. "Pergi."

Jing Ji memandang tempat tidurnya yang berantakan, sedikit terjerat, dia menahan diri berulang-ulang, dan akhirnya bergegas untuk merapikan.

Melihat itu, bibir Ying Jiao sedikit terangkat.

“Makan dikantin, oke?” Ying Jiao mengunci pintu dan berbalik untuk bertanya kepada Jing Ji.

Jing Ji mengangguk. "Oke."

Dia melihat Ying Jiao yang hanya mengenakan kaus hitam. "Kau tidak mengenakan seragam sekolah?"

Eksperimen provinsi menetapkan bahwa seragam sekolah harus dipakai selama sekolah.

Ying Jiao melirik ke bawah dan mengangkat alis. "Kenapa aku tidak mengenakan seragam sekolah, kau tidak tahu? Siapa yang mengotori pakaianku kemarin?"

Jing Ji tidak bodoh, "Ada dua set seragam sekolah."

“Satu set lagi di rumah,” Ying Jiao menjelaskan, mengambil bahu Jing Ji untuk mendorongkan ke depan. “Ayo jalan, tidak apa-apa.”

Sudah diingatkan, tidak mau mendengarkan, jika dihukum, jangan salahkan dia.

Jing Ji tidak membahas lagi, memisahkan diri dari tangan Yingjiao, dan meninggalkan gedung asrama bersamanya.

Ada dua kantin di SMA percobaan, satu kantin milik sekolah, makanannya enak dan harganya sangat murah. Sedangkan untuk kantin kedua outsourcing, tidak hanya mahal, tetapi juga hidangan berwarna gelap mirip dengan daging goreng oranye.  Oleh karena itu, sebagian besar siswa di eksperimen provinsi memilih kafetaria saat makan.

Menu sarapan di kantin ini sangat bervariasi, dengan nasi goreng, kue, pasta, dan lain-lain.

Tidak banyak orang di kafetaria. Hanya ada dua atau tiga orang yang mengantri.

"Aku makan nasi goreng," Jing Ji menatap Ying Jiao. "Bagaimana denganmu?"

Karena bangun terlalu pagi, Ying Jiao tidak punya nafsu makan banyak. Dia melirik menu dikaca dan berkata, "Sup."

"Baiklah, kalau begitu kita beli secara terpisah."

Jing Ji mengemas pesanan Li Zhou lebih dulu. Setelahnya, mengambil nasi goreng dan dua potong tahu. Setelah memikirkannya, dia antre lagi dan membeli secangkir susu kedelai.

Ketika berbalik untuk menemukan tempat duduk, dia melihat Ying Jiao sekilas.

Ying Jiao bersandar pada pilar dan memainkan ponsel. Bahkan jika dia terlihat seperti pemalas, dia sangat tampan dan menyilaukan. Dia sangat menarik perhatian di antara kerumunan. Gadis-gadis yang melewatinya diam-diam mencuri pandang.

Ying Jiao mendongak ketika seseorang mendekat, “Makan begitu sedikit?” Memperhatikan bahwa Jing Ji yang datang, dia meletakkan ponselnya di sakunya dan melirik ke piringnya. “Apa ini cukup?”

Jing Ji hanya mengambil beberapa sendok nasi goreng, yang sebenarnya tidak banyak untuk anak laki-laki yang dalam masa pertumbuhan.

“Aku tidak suka makan banyak di pagi hari,” Jing Ji duduk dan menjelaskan, sambil mendorong cangkir susu kedelai panas di depan Ying Jiao. “Untukmu.”

Ying Jiao menatapnya dengan heran.

Jing Ji tidak suka berutang budi kepada orang lain, dan menjelaskan kepadanya dengan tegas. "Kau membelikanku teh susu tadi malam. Aku tahu susu kedelai lebih murah, aku ..."

"Sungguh perhatian." Ying Jiao menatapnya dengan senyum miring, menusuk sedotan dan menyeruput, "Apa kau ingin sup?"

Dia membeli dua porsi sup beras ketan dan mendorong salah satunya ke Jing Ji. "Makan."

Jing Ji menolak dengan cepat. "Tidak, aku tidak bisa menghabiskannya."

"Tidak perlu sampai habis." Ying Jiao memberinya sendok di mangkuk. "Makanlah."

Merasa sulit, tetapi Jing Ji tidak bisa menolak lagi jadi dia hanya bisa berterima kasih dan memakannya.

Dia tumbuh di panti asuhan, tidak pernah punya cukup makanan dan tidak ada sisa makanan. Seiring waktu, itu menjadi kebiasaan makan sampai bersih.

Ying Jiao melihatnya makan dengan terpaksa, mengulurkan tangan untuk menyeret mangkuknya, "Jangan makan lagi kalau tidak bisa kau habiskan."

“Tidak bisa menyia-nyiakannya,” Jing Ji memblokir tangannya dan menjepit sumpit dan kembali mengigit sesuap.

Ying Jiao tidak bisa melarang dan melihatnya makan dengan serius dalam satu tegukan, rasanya ingin membuang setengah dari bubuk itu tanpa sadar.

Selesai sarapan, keduanya langsung menuju gedung pengajaran.

Jing Ji berpikir apakah akan melanjutkan meringkas garis besar dalam pembelajaran mandiri awal, atau mengerjakan soal, tiba-tiba suara teriakan datang dari belakang. "Kau! Ya! Itu kau! Berhenti! Kelas yang mana? Kenapa tidak mengenakan seragam sekolah?"

Direktur pengajaran dengan marah, berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa, berhenti di depan Ying Jiao, dan bertanya dengan tajam.

Ying Jiao memasukkan satu tangan ke sakunya dan dengan malas berkata, "Tingkat dua, kelas tujuh, seragam kotor."

“Yang satu kotor lalu satu set lagi dimana?” Direktur pengajar tidak percaya.

“Di rumah,” Ying Jiao melirik ke samping, dan ketika melihat Jing Ji hendak menyelinap pergi, dia dengan cepat menyeretnya kembali. “Teman sekelas ini dapat membantuku bersaksi.”

Dibawah tatapan Ying Jiao dan direktur pengajaran, Jing Ji merasa jika kau menunggang harimau, sulit untuk turun (idiom); tidak mungkin berhenti di tengah jalan. Ditambah dengan fakta bahwa seragam sekolah Ying Jiao memang berlumuran darah dan tidak bisa dipakai, dia mengangguk dan berkata, "Ya, benar."

Direktur pengajaran tersenyum mengejek, berkata kepada Ying Jiao. "Aku tidak tahu, kau punya hubungan baik dengan orang lain. Saat ini, masih ada orang bodoh yang mau bersaksi untukmu."

Dia berbalik ke Jing Ji, meninggikan volume suara, berteriak, "Apa kau pikir aku akan percaya omong kosongmu?!"

..."Oke, karena kau teman yang setia, berdirilah bersamanya juga di sini, dan lihat bagaimana aku akan mengurus kalian nanti!"

Jing Ji yang bodoh, "..."


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments