12. Tidak, guru menyuruhku untuk terus menggendongmu.


Zhou You melolong dengan sangat keras, Tong Tong terperangah menatapnya.

Tidak butuh waktu lama, Zhou You diam,  menyentuh bagian belakang kepala, merangkak naik duduk di sofa, berhimpitan, menghadap Tong Tong, "Kau harus membuatnya jelas hari ini."

Tong Tong terjepit di tepi sofa, mengerutkan kening. "Apa yang harus dibuat jelas."

“Menurutmu?” Zhou You menyipit padanya.

“Aku tadi memukulmu dimana?"

"Di lengan." Zhou You merentangkan lengannya, "Aku tidak membahas itu. Yang maksud, mengapa kau mengumpat padaku."

"........."

Tong Tong dengan hati-hati melirik lengannya dan tidak melihat ada bekas pukul.

“Kau tidak perlu memikirkan bekasnya di tubuhku yang kuat dengan kekuatanmu.” Zhou You membungkuk dan menekan Tong Tong.

Tong Tong terus tergeser ke tepi sofa, mendorong Zhou You beberapa kali namun nihil.

Orang lain tidak pernah kontak fisik dengannya seperti yang dilakukan Zhou You, apalagi sok akrab dan ramah.

Teman-teman lamanya dulu mustahil melakukan kontak fisik dengannya ketika baru beberapa hari kenal.

Ataupun bisa mendengar langkah kakinya yang keluar di tengah malam.

"Katakan." Zhou You semakin menekannya, "Kenapa mengumpat padaku?"

Tong Tong sedang larut dalam pikirannya sehingga lambat merespon tekanan Zhou You dan akhirnya terjatuh ke karpet.

Zhou You, "........."

Tong Tong mendongak, membelalakkan matanya.

Zhou You menyusut ke belakang, mengosongkan lebih dari setengah sofa, dan menepuknya dengan bersalah. "Kau kembali lagi."

“Kau bisa kembali pulang,” Tong Tong menghela nafas dan bersandar di sofa dengan posisi nyaman di atas karpet.

"Baiklah." Zhou You meliriknya, "Tapi aku harus memberitahumu dulu, aku punya hobi."

“Apa?” Tong Tong memandangnya.

"Tinju," kata Zhou You, "Dapatkan beberapa medali. Ibuku mengirimku ke Amerika Serikat tahun lalu."

"Diam." Tong Tong memelototinya dan merentangkan lengannya, "Pukul."

Zhou You melompat dari sofa dan duduk di sebelahnya. Dengan seringai serius, dia mengangkat tangannya.

Tong Tong tersentak mundur.

"Aku hanya menakutimu." Zhou You menyengir, "Aku tidak akan memukulmu."

Tong Tong tergerak. "Aku juga tidak akan sengaja memukulmu."

Setelah berbicara, dia memiringkan kepalanya dan memandangi langit yang terang di luar jendela dan bertanya, "Jam berapa sekarang?"

"Lima tiga puluh." Zhou You melirik ponsel dan melompat kaget, "WTF! Pagi!"

Tong Tong menatap celana panjangnya yang kusut dan kemeja putih yang penuh dengan lumpur.

Lumpur itu sudah kering sekarang.

"Aku akan mandi." Tong Tong berdiri namun jatuh di sofa, meringis kesakitan, "Aw..."

Setelah tidur malam, pembengkakan pergelangan kaki hilang, tetapi memar pada kulit tampak menakutkan.

“Aku akan menggendongmu kesana,” kata Zhou You.

Pergi ke kamar mandi, Tong Tong dengan susah payah bersandar dinding, siap membuka baju.

Namun bertanya-tanya mengapa pria ini masih belum keluar.

Setelah satu menit berlalu, tidak ada yang berbicara lebih dulu.

"........."

"........."

Mata besar Tong Tong menyipit.

"Oh!" Zhou You tiba-tiba menyadari, "Apa kau ingin aku membantumu mandi?"

Zhou You bergegas melepas celana Tong Tong.

Tong Tong menampar telapak tangannya.

“Ku bilang jangan memukulku!” Zhou You berteriak, masih melepas celananya dengan hati-hati.

Kemudian mengambil bangku kecil ke samping, "Duduk! Manusia sampah!"

Tong Tong memegang celananya di satu tangan, dan shower yang diberikan di satu tangan. "............"

Tong Tong mandi, berpakaian sendiri, dengan mata merah, mengertakkan gigi, berjalan keluar dari kamar mandi.

"Lihat dirimu." Zhou You menyipit padanya, "Mengumpat padaku untuk melampiaskan emosimu, kan?"

Tong Tong tertawa dengan marah dan duduk langsung di lantai.

Melihat tingkahnya, Zhou You tiba-tiba memikirkan putra kakaknya, ketika dia marah, dia duduk di lantai menunggu seseorang untuk menggendongnya.

Zhou You menatap Tong Tong dengan hati-hati, dan akhirnya menemukan mengapa dia memiliki perasaan khusus untuk Tong Tong.

Mata Tong Tong terlihat seperti keponakan kecilnya.

Mata besar dan bulat, ketika melihat orang, menimbulkan perasaan ingin diperhatikan.

Melihatnya ...

Zhou You tidak tahan dengan cara ini, terutama ingin mencubitnya.

Hati tidak sebagus aksi, Zhou You segera berdiri dan mengangkat Tong Tong dari lantai, meletakkannya di sofa dan bersiap mencubitnya beberapa kali.

Baru juga menyentuhnya.

"Ah! Jangan pukul! Hei! Tunggu! Jangan pukul wajahku!" Zhou You lari sambil memegang kepalanya.

Ketika keduanya selesai berkemas, sudah jam enam. Kelas mandiri pagi baru akan dimulai pukul tujuh.

Tetapi karena juga tidak tahan tidak sarapan, mereka harus pergi sekarang.

Tong Tong akhirnya tamak dengan kesenangan, tidak tahan dengan rasa sakit,  jadi dia benar-benar tidak bisa turun tangga.

Zhou You menatapnya dengan wajah hitam sambil melipat tangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tong Tong berpikir berulang kali dan membuka tangannya, "Merepotkan sister."

“Baik gadis kecil,” Zhou You tersenyum dan menggendongnya sepanjang menuruni tangan sampai ke kedai sarapan tanpa terengah.

Mereka membeli sarapan lalu naik bus.

Zhou You dengan hati-hati mendudukkan Tong Tong dibangku. Lalu dia mengambil susu kedelai, menusuk sedotan dan menyerahkannya.

Raut wajah Tong Tong rumit.

Sebenarnya, dia bertanya-tanya bukankah sikap Zhou You terlalu berlebihan.

Jika dia biasanya tidak bisa menebak, tetapi setelah mimpi itu, bagaimana dilihat, dia pikir ada yang salah.

Dia dulu tidak percaya pada mimpi, tetapi Zhou You memperlakukannya dengan sangat baik, terlalu aneh.

Keduanya baru saling kenal selama beberapa hari, bahkan jika Zhou You tidak mengenal siapa pun, hanya mengenalnya dan merasa akrab dengannya.

Tidak mungkin berlebihan seperti ini.

Hanya satu yang mungkin.

Tong Tong curiga bahwa Zhou You punya sesuatu padanya.

Seperti naksir ...

Tapi seandainya Tong Tong punya pikiran untuk jatuh cinta pada laki-lakipun, Zhou You bukan tipenya.

Dan yang paling penting, itu persis sama dengan apa yang dia impikan.

Jika apa yang terjadi kemudian dalam mimpi itu juga terjadi dalam kenyataan.  Tong Tong merinding.

Jangan sampai terjadi.

Tong Tong terjerat dalam lamunan beberapa kemudian berkata ragu, "Apa kau percaya pada mimpi?"

Zhou You menggigit roti dan berpikir, "Itu tergantung pada mimpinya."

"Seperti apa?" Tong Tong penasaran.

"Jika bermimpi tentang Perang Dunia dan dikejar zombie, aku tidak percaya." Zhou You menyesap susu kedelai dan meraih roti Tong Tong. "Jika memimpikan nomor lotre, menginjak kotoran sebelum keluar. Keesokan harinya ayahku memukulku, aku akan percaya ini."

“Maksudmu kau percaya jika terhubung dengan kenyataan?” Tong Tong berpikir sejenak, “Baru-baru ini aku bermimpi tentang sebuah mimpi, tidak hanya terkait dengan kenyataan, tetapi juga ada bagian yang telah terjadi."

"Benarkah? Maka kau harus mempercayainya." Zhou You dengan santai berkata, "Mimpi seperti ini harus dipercaya. Ayahku bermimpi seseorang akan membunuhnya, dan dia bermimpi selama beberapa hari berturut-turut, begitu ketakutan. Kemudian mengundang para normal, dan ternyata seseorang benar-benar menginginkannya."

“Bisakah itu diselesaikan?” Mata Tong Tong berbinar, “Bagaimana mengatasinya?”

"Mimpi tidak bisa dihindari, kau tahu," kata Zhou You, "tapi, kau bisa mematahkannya terlebih dahulu. Jika kau melakukan hal sebaliknya dari mimpi itu, bukankah akan patah?"

"Ya." Tong Tong mengangguk sambil berpikir.

“Apa yang kau impikan?” Zhou You bertanya dengan santai.

"... Tidak ada," Tong Tong mendorong pangsit ke dalam mulutnya.
.
.

Baru pukul 6.20 ketika bus antar-jemput tiba di gerbang sekolah, mereka datang lebih awal, tetapi sudah ada siswa yang tersebar di gerbang sekolah.

“Bagaimana kalau piggy back?” Tong Tong dengan keras kepala tidak mau keluar dari bus.

"Tidak." Tolak Zhou You.

“Itu ... kalau begitu aku bisa jalan sendiri.” Tong Tong menggertakkan giginya, tidak apa merasakan sakit daripada kehilangan wajah.

Jika begitu banyak orang menyaksikannya digendong /bridal style/, mau taruh dimana imej Xiaocao-nya?

*siswa cogan, populer. Q lebih suka nyebutnya school beauty 😁

“Tidak ada alasan.” Zhou You langsung menggendongnya turun dari bus dan berjalan ke gerbang sekolah.

Tong Tong berontak dua kali, begitu melihat siswa yang lewat, dia seketika diam.

Tapi sekarang tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Tong Tong merutuki Zhou You sambil langsung menutupi wajah dengan tas sekolah.

Hatinya mulai berdoa dengan putus asa.

Semoga tidak ada memperhatikan!

Tidak ada yang bisa melihat!

Semuanya buta!

"Kalian berdua! Berhenti!" Suara lantang seorang guru terdengar.

Zhou You menghentikan langkahnya, Tong Tong tahu bahwa dia dalam masalah.

Zhou You memandang guru yang bertugas di depannya, dan melihat sekeliling, hanya mereka berdua jadi dia dengan patuh mendatangi guru yang bertugas.

“Kenapa tidak mengenakan seragam sekolah?” Guru yang bertugas memandang mereka berdua dengan curiga.

"Guru, aku siswa baru. Ketika pergi ke kantor logistik untuk mengambil seragam, guru disana bilang tidak ada celana untuk ukuranku." Zhou You dengan patuh menjelaskan.

"Oh," guru tugas itu mengangguk, dan kemudian memandang orang yang ada dalam pelukan Zhou You, "Apa hubungan kalian?"

"Good sisters!” Zhou You dengan bangga mengumumkan.

“Good sisters?” Guru yang bertugas melongo, "lalu kenapa berpelukan...”

Tong Tong menurunkan tas, hanya memperlihatkan matanya. "Guru, kakiku—"

"Sister penuh kasih sayang!" Kata Zhou You.

“Tong Tong?” Wajah Guru yang bertugas seketika berubah setelah mengenalinya.

Wajah Tong Tong juga berubah, dia kembali memblokir matanya dengan tas.

Dia memukul seorang siswa di podium kelas guru ini terakhir kali.

"Apa kalian tahu sekolah melarang berpelukan! Turun sekarang!" Guru tugas memelototi mereka.

"Maaf guru, kedua kaki teman sekelasku terkilir." Zhou You tampak tidak bercanda, dan dengan sopan berkata, "Kakinya bengkak. Jika dipaksa menginjak tanah, akan menyebabkan cedera sekunder."

“Kenapa terkilir?” Tanya guru yang bertugas.

“Ketika terkilir, harus menggendongnya.” Zhou You berkata.

Guru yang bertugas tak bisa berkata-kata. "........."

Kemudian marah, "kau terus menggendongnya selama satu pelajaran dikelasku nanti."

"Oke. Tidak masalah sama sekali." Zhou You tertawa.

“Apa?” Tong Tong panik.

"Sama-sama, hanya kita berdua." kata Zhou You.

/Hubungan antara dua orang sangat baik, terlepas dari satu sama lain./

"Tidak--"

"Sungguh, tidak apa-apa, aku benar-benar baik-baik saja," Zhou You dengan ramah dan sabar meyakinkan, "Tidak apa-apa, aku bisa menggendong seharian penuh."

"Hah! Menggendong seharian penuh ah!" Guru yang bertugas memiliki keluhan tentang Tong Tong, api amarah menjadi lebih dahsyat. "Jika kau memiliki kemampuan, gendong dia sampai pulang sekolah! Aku akan terus mengawasi kalian seharian ini!"

“Siapa yang tidak mau menggendong cucu!” Zhou You segera menerimanya.

“Brengsek!” Umpat Tong Tong pelan.

“Masih mengumpat?” Guru yang bertugas menatap.

“Lari lari lari!” Tong Tong mulai memerintah Zhou You.

Zhou You dengan patuh melarikan diri, setengah jalan berbalik dan tersenyum pada guru yang bertugas.

Dia kemudian lanjut berlari ke gedung pengajaran.

"Tunggu sebentar, aku harus ke toilet dulu," kata Tong Tong tiba-tiba, "pergi ke toilet di sebelah kiri, tidak ada orang di sana."

Zhou You mengikuti dan memang tidak ada seorang pun di toilet.

Dia kemudian berdiri di depan urinoar.

“Kau turunkan aku.” Tong Tong memandangnya.

"Tidak, guru menyuruhku untuk terus menggendongmu. Kau kencing saja."

“Bagaimana aku bisa kencing kalau kau masih menggendongku!" Amuk Tong Tong.

"Hanya ..." Zhou You menatapnya dengan ragu, "gunakan jj."

*anu

"........."

Zhou You berpikir sejenak, dan menatapnya, "Hm, atau kau bisa mengubah urinmu menjadi uap dan mengeluarkan asap putih dari kepalamu?"

Tong Tong, "............"

Fck.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments