11. Kakak menebus kesalahan

He Yu secara sadar menemukan rahasia Jing Ji dan menghormatinya. Sikapnya terhadap Jing Ji berbelok 180 derajat.

Suatu kali, Ying Jiao bahkan melihat He Yu mengambil inisiatif untuk memberi jalan.

He Yu itu gemuk tapi tidak berhati besar. Dia berjalan terus dan terus. Ketika bertemu orang di jalan sempit, mereka akan langsung berbalik mundur. Orang yang dia beri jalan hanya menghitung jari.

He Yu menyentuh perutnya yang besar dan menghela nafas, “Kau tidak mengerti Kakak Jiao, operasi Jing Ji dari gelombang Xiu Xiu ini adalah impian seumur hidupku.” Dia melirik Jing Ji yang serius membaca, berbisik, "Dan tidakkah menurutmu dia terlihat tampan?"

Ying Jiao mencemooh, "Dia tampan atau tidak, apa hubungannya denganmu?"

He Yu hanya ingin mengatakan bahwa itu tidak masalah, lagipula, ada lagi orang tampan di kelas, dan mengatakan itu hanya bentuk respek.

Ying Jiao kemudian berkata, "Mau aku mengingatkanmu, siapa orang yang dia sukai?"

He Yu, "..."

... "Kakak Jiao, kau sedikit aneh, bukankah kau membenci Jing Ji yang sering menghantuimu?"

Ying Jiao menyeringai dan tidak mengatakan apa-apa.

Dia secara acak mengambil buku latihan di atas meja, membuka halaman, dan pergi ke meja Jing Ji.

Ketika Li Zhou melihatnya, dia segera berdiri dan menyerahkan tempatnya.

Ying Jiao duduk dengan tidak sopan dan mendorong buku latihan di depan Jing Ji. "Teman sekelas kecil, bantu aku jawab pertanyaan."

Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Jing Ji terus mewaspadai Ying Jiao. Rautan pensil selalu dia bawa selama beberapa hari ini untuk mencegah pria itu membalas dendam. Namun, tidak ada tindak apapun dari Ying Jiao. Apakah akan terjadi disini hari ini?

Setelah kejadian itu, Jing Ji tidak menutupi sikapnya lagi.

Dia melirik ke dalam buku latihan dan berkata dengan seadanya, "Pertanyaan ini terlalu mudah."

Ying Jiao terkekeh, tidak marah, dia beralih ke pertanyaan rumit di belakang. "Kalau begitu, pertanyaan ini."

Suara Jing Ji masih tidak antusias. "Pertanyaan ini terlalu sulit, kau tidak akan memahaminya."

Ying Jiao mendengus dan melemparkan buku latihan ke samping, berbaring di atas meja dan memandang Jing Ji. "Kau menjawab ketika mereka bertanya, kenapa aku tidak? Kau beritahu aku ..."

Jing Ji meliriknya, tidak menyangka pria ini begitu berkulit tebal dan tidak sadar diri.

Namun, detik berikutnya, dia dipukuli diwajah..

Ying Jiao tersenyum, "Teman sekelas kecil, kenapa kau begitu tidak biasa?"

Jing Ji, "..."

Ying Jiao mengatakan itu, tapi dia sedikit khawatir.

Kelainan kecil ini sangat enggan melihat dirinya sekarang sehingga mustahil untuk setuju berada di meja yang sama dengan dirinya, jadi dia harus menemukan cara ...

"Marah?" Ying Jiao bergegas bicara lagi. "Berbicara tentang alasan, aku sangat kesakitan saat kau menyerangku hari itu, tapi aku tidak marah."

Mengingat ini, Jing Ji juga merasa agak bersalah. Dia benar-benar cukup kasar hari itu. Dia juga seorang pria dan tahu betapa rapuhnya itu.

*anu

Jing Ji menggigit bibirnya, meraih buku latihan. "Aku akan melihat masalahnya dulu."

“Jangan, kita berdua bicara.” Ying Jiao menahan buku latihan dan tersenyum, “Aku pikir kau sangat baik sekarang.”

Jing Ji bertanya-tanya, "Hah?"

"Meningkat, bekerja keras, serius ..." Ying Jiao menyebut kelebihan Jing Ji satu per satu.

Jing Ji sedikit malu dengan pujian yang berlebihan. "Tidak juga."

"Buat aku sangat iri ..."

Jing Ji dengan cepat menghiburnya, "Kau harus belajar keras mulai sekarang. Suatu saat kau tidak akan merasa iri."

"Jadi ..." Ying Jiao menyatakan tujuan sebenarnya. "Untuk termotivasi, aku pikir aku harus duduk di meja yang sama denganmu, bagaimana? Dekat Zhu Zhechi?"

*dekat dengan orang baik, akan menjadi lebih baik.

Jing Ji, "..."

Jing Ji menurunkan matanya. "Tidak perlu, kursi tidak mudah diubah, jika kau memiliki pertanyaan, kau dapat datang kepadaku kapan saja."

Ying Jiao tidak menerima saran ini. "Tapi aku masih merasa lebih nyaman berada di meja yang sama."

“Aku sudah lama duduk di meja yang sama dengan Li Zhou,” Jing Ji menolak dengan sopan.

“Itu sebabnya kita membutuhkan teman satu meja yang baru.” Ying Jiao bersikeras. “Terlalu lama sudah tidak segar.”

Jing Ji menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja dengan Li Zhou."

Dia beralih ke buku teks di tangannya, lanjut membaca dengan serius, tidak lagi peduli pada Ying Jiao.

Disaat bersamaan, bel kelas berbunyi. Ying Jiao melirik Li Zhou yang gemetaran di lorong, dia kemudian kembali ke tempat duduknya.

*jalan antar deret meja

.
.

Ketika istirahat makan siang, Jing Ji mengeluarkan ponselnya dan melihat permintaan teman baru.

Melihat nama akun Jiao dengan sekilas, dia sudah tahu itu siapa.

Jing Ji takut bahwa Ying Jiao akan membahas untuk menjadi teman semeja lagi, ditambah tekadnya untuk menjauh dari plot. Dia melirik ke sekeliling, tidak ada yang memperhatikan, dengan perasaan bersalah menghapus permintaan teman ini dan pura-pura seakan tidak melihatnya.

Ying Jiao yang dari tadi diam-diam mengawasi seketika tersenyum melihat gerakannya.

Dia mengetuk jarinya dua kali di layar, dan dengan lembut menggosok giginya. Ini baik-baik saja. Kali ini, itu bukan niatnya, tetapi si kelainan kecil ini memaksanya.
.
.

Di malam hari, ponsel Jing Ji kehabisan daya. Ketika mengisi daya, dia menyalakan layar dan menemukan ada permintaan teman lagi.

Bukan Ying Jiao kali ini.

Namanya Liu Shichen, dan avatarnya adalah 👨.

Jing Ji dengan cepat menerima dan menyapanya, [ Guru Liu. ]

Nama guru Liu adalah Liu Shichen.

Di kamar sebelah, Ying Jiao mendengus dingin. Tentu saja, dia tidak salah. Kelainan kecil ini hanya tidak ingin menambah dirinya.

Dia mengetik dengan cepat--

[ Selamat malam. ]

[ Malam guru. ]

Jing Ji tampak dingin pada dirinya, tetapi sangat menghormati si tua Liu Shichen ...

Ying Jiao menggerutu dalan hati sambil terus mengetik -

[ Kau sangat meningkat baru-baru ini. Ya, itu telah membawa suasana baru ke kelas tujuh kita. ]

[ Aku sangat senang, dan aku harap kau dapat membawa siswa lain. ]

[ Kau juga tahu situasi kelas kita saat ini, dan terutama membutuhkan seseorang sepertimu untuk menjadi panutan. ]

Jing Ji merespons dengan cepat -

[ Oh, jika ada yang bisa aku lakukan, katakan saja guru. ]

Ying Jiao tersenyum.

[ Apa pendapatmu tentang Ying Jiao? ]

Jing Ji, "..."

Jing Ji memiliki beberapa pendapat tentang Ying Jiao, tapi dia tidak punya kebiasaan gibah di belakang orang. Setelah memikirkan, dia dengan susah payah membuat kalimat—

[ Sangat baik. ]

Ada balasan cepat dari sana--

[ Aku juga merasa Ying Jiao sangat baik, begitu baik. ]

[ Watak yang baik, kepribadian yang baik, dan motivasi diri, bukankah begitu? ]

Jing Ji menatap layar, hampir berpikir bahwa dia telah kehilangan matanya.

Watak yang baik, kepribadian yang baik, dan motivasi diri?

Ini tentang Ying Jiao?

Ying Jiao yang dia kenal?

Jing Ji mengambil napas dalam-dalam dan menjawab -

[ Ya. ]

[ Hm? ]

[ Memang ... sungguh, Ying Jiao sangat baik. ]

[ Benar, jadi biarkan dia menjadi teman satu meja denganmu, apa kau setuju? ]

Jing Ji diam, tidak membalas untuk waktu yang lama.

[ ?  ?  ? ]

Jing Ji adalah anak yang baik. Selain itu, Guru Liu mengungkapkan kebaikannya sejak dia datang ke buku ini. Dia bisa menolak Ying Jiao tanpa ragu, tetapi dia tidak bisa menolak Guru Liu.

Dia tidak punya pilihan selain menelan keengganan dan mengetik perlahan -

[ Setuju. ]

[ Guru yang memberi perintah, aku mendengarkan. ]

Ying Jiao akhirnya mendapatkan kalimat ini, segera memotong riwayat obrolan, mengolesi konten, menyoroti beberapa chat dari Jing Ji, beralih dari WeChat ke QQ, dan mengirimkannya ke Guru Liu.

[ Jing Ji setuju. ]

[ Lihat. ]

[ Sebagai seorang guru, kau tetapi janji. ]

[ Perlu kau ingatkan? Sudah menyelesaikan PRmu hari ini? ]

[ ………… Oh. ]

.
.

Begitu Jing Ji memasuki ruang kelas keesokan paginya, dia melihat Ying Jiao sudah pindah ke mejanya.

Jing Ji, "..."

Secepat itu?

Li Zhou yang tiba-tiba diberitahu untuk mengganti kursinya, masih tidak bisa bereaksi. Setelah pindah, dia nenyusut dibawah meja dan mengirim pesan ke Jing Yu dengan panik—

[ WTF! Situasi apa ini? Kenapa kakak Jiao pindah satu meja denganmu? Kalian berdua ...? ]

[ Tidak ada. ]

[ Jangan menipuku! Aku pikir kakak Jiao sedikit berbeda, kemarin dia datang untuk menanyakan pertanyaan, sejak kapan kakak Jiao belajar?!! Katakan! Apa kalian memiliki ikatan? ]

[ ... Jangan bicara omong kosong, tidak. ]

[ Lalu apa yang terjadi? ]

[ Guru Liu mengirim permintaan temab ke WeChat tadi malam dan memberi tahuku tentang berganti tempat duduk. ]

[ WeChat??? Bagaimana mungkin?! Guru Liu tidak punya WeChat untuk komunikasi dengan siswa, apa kau lupa? ]

[ Guru Liu hanya punya QQ! ]

Jing Ji segera keluar dari kotak obrolan, dan membuka catatan obrolan tadi malam.

Tadi malam, pria bernama Liu Shichen, mengenakan avatar 👨, telah mengubah namanya menjadi Jiao dan avatarnya berubah ...

Baru saat itulah Jing Ji memahami dia dipermainkan Ying Jiao.

Dia meletakkan ponsel dan menatap orang di sebelahnya, "Apa itu kau tadi malam?"

Ying Jiao meluruskan meja, meletakkan jaket seragam sekolahnya di kursi, mengangkat sudut bibirnya. "Ya, aku."

Raut wajah Jing Ji tenggelam, "Apa kau sengaja mempermainkanku?"

"Di mana." Tentu saja Yingjiao tidak akan mengakuinya. "Aku hanya mengubah nama sementara, siapa sangka kau memperlakukanku sebagai Guru Liu ..."

“Kenapa kau tidak mengingatkanku?” Jing Ji marah dan menolak untuk menerima penjelasannya sama sekali. Dia kembali, tidak peduli apapun yang dikatakan Ying Jiao, dia tidak akan lagi peduli padanya.

Ying Jiao tersenyum, melihat Jing Ji yang acuh tak acuh, hatinya sedikit tak berdaya.

Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya, tidak bisa tidak menggoda Jing Ji.  Tapi dia benar-benar membuatnya marah, dan dirinya merasa sedikit kesal.

Ying Jiao menghela nafas dan memutar bolpoin dengan asal.

Sudah membuatnya marah tetapi tidak bisa menahan keinginan untuk Jing Ji menjadi lebih baik dengannya.
.
.

Belajar mandiri pagi hari selesai, kelas pertama adalah kelas fisika.

Ying Jiao keluar dan tidak kembali ketika bel berbunyi.

Guru fisika bertanya siapa di kursi kosong itu, dan setelah mengetahui bahwa itu adalah Ying Jiao, dia tidak peduli lagi.

Di tengah kelas berlangsung, guru fisika menulis di papan tulis. Ada laporan malas dari luar.

Guru fisika meletakkan kapur dan melihat keluar pintu, Ying Jiao berdiri di luar pintu dengan tas plastik di tangannya, dan ada sedikit keringat di dahinya.

Guru fisika mengerutkan kening, mencoba mengatakan sesuatu, tetapi masih tidak mengatakan apa-apa, hanya melambaikannya untuk menyuruhnya masuk.

Di bawah pengawasan seluruh kelas, Ying Jiao berjalan masuk, membuka bangkunya sendiri dan duduk.

Sementara Jing Ji tidak menoleh, seakan tidak ada seorang pun di samping, dan perhatiannya sepenuhnya terfokus pada papan tulis.

Setelah satu menit, sebuah kertas kecil didorong...

Jing Ji tidak ingin melihat teks itu, tetapi Ying Jiao terus mendorong ke arahnya, jadi akhirnya menurunkan matanya—

[ Jangan marah, aku salah. ]

Jing Ji mengabaikannya.

Setelah beberapa detik, sebuah kertas kecil kembali didorong—

[ Tidak ada maksud lain, aku hanya ingin berteman denganmu. ]

Mengikuti catatan ini, ada secangkir teh susu, dan catatan lainnya——

[ Kakak menebus kesalahan. Teh susu gandum, sedikit gula, terakhir kali kau tampak menyukainya. ]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

Post a Comment