10. Begitu akurat, apa kau menatap itu sejak tadi?

Ying Jiao menatap pusar rambut di kepalanya, mata tersenyum, "Terampil ini berapa lama kau memendamnya sampai kini tidak tahan, ckck."

Jing Ji membuka sedikit jarak, masih terengah. "Aku tidak bersungguh-sungguh, aku hanya tidak melihat dengan jelas."

Dia mendorong pergi Ying Jiao. Namun, karena baru saja berlari kencang, kekuatannya terkuras, jadi mendorong beberapa kali, Ying Jiao masih tetap berdiri diam.

"Oh~~~" kata Ying Jiao bernada, "Kau menyatakan cinta padaku setiap hari, mengekoriku, bertarung untukku, ada begitu banyak orang dilapangan dan kau malah menabrakku. Tapi aku tahu, kau tidak bersungguh-sungguh, itu hanya kebetulan."

Pipi Jing Ji memerah, dia mencoba menjelaskan, "Maaf, jangan salah paham, aku benar-benar tidak sengaja."

Dia berhenti sejenak, takut Li Zhou akan menunggu terlalu lama, dan mendorong Ying Jiao lagi. "Kau lepaskan dulu, aku akan minta maaf padamu ketika kembali, Li Zhou masih menungguku di kafetaria."

Semakin cemas Jing Ji, Ying Jiao semakin tidak akan melepaskan, dia bahkan dengan agresif melilit pinggang Jing Ji dan mengikat langsung ke pelukannya.

“Apa aku memelukmu lebih dulu?” Ying Jiao memperhatikan dari atas. Entah bagaimana, dia semakin ingin membully-nya dengan penuh semangat. “Tidak, teman sekelas kecil, kau yang mengambil kesempatan malah penjahat menuntut mereka terlebih dahulu.”

*Mengacu kepada orang jahat atau orang yang melakukan kesalahan untuk secara preemptive mengubah fakta.

Cuacanya sangat panas, dan tepat siang hari, kedua bocah lelaki itu saling berpelukan begitu lama, setelah beberapa saat, mereka berkeringat.

Sudah gerah ditambah tidak bisa menjelaskan, hati Jing Ji kesal. Dia mengambil napas dalam-dalam, menenangkan diri, dan mencoba meyakinkan Ying Jiao. "Aku benar-benar ingin pergi makan siang, bisa tidak kau membiarkanku pergi?"

“Katakan sesuatu yang bagus dulu baru aku akan melepasmu.” Suara buruk Ying Jiao datang dari atas kepalanya.

Jing Ji memejamkan mata, berada di ambang ledakan, "Lepaskan!"

“Tidak.” Ying Jiao berkata dengan malas, “Bagaimana aku bisa membiarkanmu pergi tanpa kau katakan lebih dulu?”

Jing Ji menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba mengulurkan tangan untuk meraih kain pakaian dipunggung Ying Jiao. Sebelum lelaki itu bisa bereaksi, Jing Ji menghentak lututnya ke atas—

"FCK!" Ying Jiao menarik napas, dan wajahnya berubah. Dia sedikit membungkuk, menatap Jing Ji, "Kau ..."

Jing Ji balas menatapnya dengan dingin, dan berkata ringan, "Aku kenapa?"

Dia tahu bahwa dia sudah menyinggung Ying Jiao kali ini, jadi dia berencana setelah makan nanti, dia akan pergi ke kios untuk membeli rautan pensil. Jika Ying Jiao datang untuk memukulnya, dia akan menunjukkan darahnya.

Seragam sekolah Jing Ji yang berantakan, mata yang sedikit sempit penuh provokasi dan sedikit mengerutkan bibirnya, tampang keras kepala itu tiba-tiba imut.

Batin Ying Jiao yang emosi seketika tidak tahu harus melampiaskannya ke mana.

"Kau ..." Dia mencoba mengabaikan rasa sakit di bawah tubuhnya dan menatap Jing Ji.

Jing Ji masih menatapnya.

Ying Jiao kemudian terkekeh, "Begitu akurat, apa kau menatap itu sejak tadi?”

*anu

Wajah Jing Ji memerah.

Dia mendelik, mengutuk, “Dasar sakit!” Lalu berbalik dan berlari.

Bibir Ying Jiao berkedut, melihat ekspresi kesal, dia merasa rasa sakitnya telah berkurang banyak.

Reputasi Ying Jiao dalam percobaan provinsi cukup tinggi. Saat ini, Lapangan penuh dengan orang-orang. Dia dan Jing Ji menarik banyak perhatian. Ying Jiao menyaksikan Jing Ji melarikan diri, lalu matanya menyapu sekeliling tanpa ekspresi, orang-orang segera membuang pandangan mereka.

Dengan rantang nasi ditangan, dia berjalan ke sudut tanpa seorang pun dan akhirnya tidak bisa menahan lagi.

Sial, sangat sakit, si abnormal kecil ini benar-benar kasar.
.
.

“Kenapa kau lama sekali?” Ketika Jing Ji memasuki kafetaria, dia bertemu Li Zhou di pintu.

Li Zhou menyeretnya ke meja makan. "Aku sudah mengambilkan nasi, jamur goreng dan tahu mapo untukmu, oke?"

“Ya, aku suka semuanya.” Jing Ji berterima kasih kepada Li Zhou dan duduk di meja makan. “Berapa harganya? Aku akan memberikannya padamu.”

"Tidak perlu," Li Zhou melambaikan tangannya, tidak melihat 6 yuan. "Kau bisa membeli untukku nanti."

"Oke." Jing Ji mengingat itu dengan hati-hati dan berjanji dengan cermat. "Aku akan membawakanmu sarapan lagi besok."

Li Zhou merasa terhibur olehnya, merasa bahwa karakter Jing Ji menjadi lebih baik dan lebih baik, sambil menyeringai. "Kalau begitu aku serahkan sarapan masa depanku padamu."

Jing Ji mengangguk dan berkata, "Kau bisa mengandalkanku."

Keduanya saling memandang dan tersenyum, lalu menunduk untuk makan.
.
.

Istirahat makan siang adalah satu jam, dan hanya butuh dua puluh menit untuk makan. Kelas sangat berisik membuat jing Ji tidak bisa tidur. Dia mengeluarkan wusan matematika dan lanjut menyelesaikan pertanyaan.

Tampilan belajar keras di mata siswa di kelas tujuh, dapat digambarkan sebagai hal yang luar biasa.

He Yu menabrak Peng Chengcheng dengan sikunya, menunjuk ke arah Jing Ji dan berbisik, "Lao Peng, kau lihat dia dengan gila terus menulis sejak kemarin. Apa menurutmu dia benar-benar menulis pertanyaan atau hanya tulis secara membabi buta?"

Peng Chengcheng melirik bagian belakang Jing Ji tanpa ekspresi dan sampai pada kesimpulan tanpa berpikir. "Tulis secara membabi buta."

"Tapi ..." He Yu bingung. "Aku lihat dia tampak menulis dengan jelas dan logis ..."

Dia kemudian berdiri. "Tidak ... Aku penasaran, aku akan mengetesnya."

Ying Jiao mengerutkan kening, dan hendak menendang He Yu, namun entah bagaimana dia kembali menarik kakinya, matanya mengikuti pergerakan He Yu.

"Jing Ji," He Yu berjalan mendekat dengan buku latihan dan membuka halaman dengan santai. "Kau bantu aku menjawab pertanyaan."

“Pertanyaan yang mana?” Jing Ji selalu serius dalam belajar. Dia meletakkan penanya dan melirik pertanyaan yang ditunjuk He Yu, hampir dengan segera berpikir.

Li Zhou tidak ada di kursi, Jing Ji bergeser dan memberi isyarat kepada He Yu untuk duduk dibangkunya, mengambil kertas kosong dan mulai memberitahunya. "Pertanyaan ini sebenarnya sangat sederhana, ingat formulanya ..."

Dia dengan cepat menulis beberapa rumus fungsi di atas kertas, dan menunjukkannya kepada He Yu dan menuliskan langkah-langkah perhitungan secara terperinci. "Jadi C adalah jawaban yang benar, apa kau mengerti?"

Dari saat dia berbicara, He Yu menjadi blank.

Dia sangat shock bahkan tidak mendengar apa yang dikatakan Jing Ji.

Jing Ji benar-benar melakukannya!  Bukankah dia siswa biasa seperti dirinya?!!  Bagaimana siswa biasa bisa menjawab pertanyaan seperti orang ber IQ tinggi???

“Tidak mengerti?” Jing Ji mengganti kertas kosong dan dengan sabar berkata, “Tidak masalah, aku akan memberitahumu lagi.”

Gagasan Jing Ji sangat jelas dan terperinci, dan pengetahuan yang terlibat dalam pertanyaan ini dicantumkan satu per satu.  Dia berbicara tiga kali berturut-turut, dan He Yu bisa memahaminya.

Dia memegang buku latihan, kembali ke tempat duduknya, matanya kosong dan jiwanya melayang.

"Bagaimana? Dia benar-benar melakukannya?" Bising di kelas, suara Jing Ji tidak terlalu keras, bahkan jika Zheng Que mengangkat telinganya, dia tidak mendengar apa yang dikatakan keduanya.

..."Bicaralah! Apa yang salah denganmu?"

He Yu memutar leher, matanya buram. "Perubahan aneh dan luar biasa, simbol melihat kuadran."

Zheng Que, "..."

Dia menatap He Yu dengan ngeri, meraih pundaknya dan mengguncangnya heboh. "Lao He! Lao He! Ada apa denganmu?! Apa kau sadar?"

“Jangan goyang, jangan goyang.” He Yu menepis tangan Zheng Que dan mengusap wajahnya dengan tatapan rumit. “Kau tahu tidak, hanya…” Dia menunjuk ke Jing Ji dan berkata pelan, “Melihat sekilas saja, dia tahu jawabannya, hanya lihat sekilas Lao Zheng! Apa kau mengerti bagaimana perasaanku?"

"Fck!" Zheng Que tidak menahan kata-kata umpatan. "Dia benar-benar melakukannya?"

"Tidak hanya itu," Pandangan He Yu mengungkapkan rasa kehidupan yang meragukan. "Apa kau tahu Lao Zheng? Ketika dia melihat pertanyaan lalu menatapku, aku selalu merasa bahwa dia memberitahuku dengan pikiran: Pertanyaan sederhana ini saja kau tidak bisa melakukannya, seperti itu."

Zheng Que masih berpikir ini tidak benar. "Mungkin hanya kebetulan?"

Dia mengeluarkan buku latihan dari laci meja yang seperti kandang, dan menemukan materi parabola yang kelihatannya sangat sulit. Dia tidak bisa menahan diri untuk mengatakan. "Aku akan bertanya juga."

Dia segera berlari ke meja Jing Ji, "Jing Ji, maukah kau menjawab pertanyaan ini?"

Jing Ji masih asing dengan situasi baru ini dan tidak tahu sejauh apa pengetahuan Zheng Que pada materi matematika. Dia mengambil buku latihan dan berkata dengan serius, "aku akan melihat dulu."

Pertanyaan ini jauh lebih rumit dari apa yang He Yu tanyakan sebelumnya. Bagi sebagian besar siswa sekolah menengah, itu adalah rintangan yang sulit. Tapi untuk Jing Ji, itu hanya hal kecil.

Dia menghitungnya di kertas konsep, dan segera muncul dengan metode pemahaman dan jawaban. Dia mengangkat matanya untuk memberi isyarat kepada Zheng Que untuk memeriksa. "Pertanyaan ini terlihat rumit, tetapi tidak sulit untuk menemukan metode yang tepat."

Dia dengan cepat menggambar parabola dan menandai koordinat. "Lihat pertanyaan pertama dan temukan koordinat Pn. mari kita cari informasi yang diberikan dalam subjek ..."

Seperti yang dia katakan, dia menulis langkah-langkah di atas kertas dan dengan cepat menemukan jawabannya.

Pertanyaan He Yu sederhana, ditambah dia masih bisa menyerap pelajaran, sehingga bisa mengerti. Sementara Zheng Que berbeda, jangankan mengerti, dia bahkan tidak bisa memahami subjek.

Dia memandangi Jing Ji dengan kaku dan menghitung jawaban atas tiga pertanyaan kecil itu. Sebelum Jing Ji bertanya kepadanya apakah dia mengerti, dia mengambil kertas konsep dan membuka kunci jawaban di bagian belakang buku latihan.

Benar, tidak ada perbedaan dari jawaban standar.

Dia menyeret kedua kakinya dan kembali ke tempatnya dengan tidak bernyawa.

"Dia melakukannya? Sudah ku bilang dia bisa melakukannya kan?" He Yu terus mendesak Zheng Que seolah-olah dia telah menemukan benua baru. "Dia melakukannya, kan?"

Zheng Que mengangguk dengan bodoh, "Ya. Dan tidak perlu berpikir lama! Ketua kelas kita yang selalu peringkat pertama, bukankah Guru Liu selalu mengatakan dia tidak selalu bisa menyelesaikan pertanyaan yang rumit?"

"Damn!" He Yu menutup dadanya, matanya membelalak, "Apa maksudmu ... Jing Ji lebih baik dari ketua kelas?"

Hal ini sangat menakjubkan sehingga Peng Chengcheng, yang selalu irit bicara, tidak bisa tidak berpartisipasi dalam topik. "Masa sih, sejak kapan dia menjadi begitu serius?"

He Yu ketakutan, "Apa mungkin dia ..."

Ying Jiao menginjak bangku He Yu dan berkata dengan dingin, "Apa gunanya, bukankah dia selalu mengumpul kertas kosong saat ujian?"

Zheng Que mengangguk, "Ya, tapi aku selalu berpikir dia agak aneh akhir-akhir ini ..."

“Apa yang aneh?” ​​Ying Jiao berkata dengan alami, “Aku mendengar Lao Liu mengatakan kedua orang tuanya telah menikah kembali dan memiliki anak ...”

Dia kemudian mencibir, "Untuk menarik perhatian orang tua, tidak heran dia melakukan sesuatu yang konyol."

Ucapannya ini segera mendistorsi pemikiran yang lain.

He Yu menepuk meja. "Benar! Itulah alasannya! Tidak heran!"

Dia tiba-tiba menyadari. "Tidak heran dia selalu menyerahkan kertas kosong ketika ujian. Lao Liu terus menegurnya namun tidak mengubah apa pun. Tenyata dia adalah raja harus berpura-pura menjadi perunggu."

*Tampak biasa namun ternyata sangat luar biasa, mengejutkan orang.

Hubungan Zheng Que dengan orang tuanya tidak terlalu baik, tiba-tiba terinspirasi. "Aku dengar nilai ujiannya sangat buruk. Ayahnya mengeluarkan banyak uang untuk memaksanya masuk ke eksperimen provinsi. Hahahaha, jika ayahnya tahu dia berpura-pura menjadi bajingan, pasti akan marah kan?!"

..."Begitu banyak uang yang dihabiskan dengan sia-sia! Hah, ​​sayangnya aku tidak memiliki kekuatan itu, kalau tidak aku akan melakukan hal yang sama! Xueba adalah Xueba, kerugian seperti itu dapat dipikirkan!"

*top student

Peng Chengcheng menggelengkan kepalanya. "Tidak kerugian, sekunder dua."

*Kesadaran diri tertentu yang tidak wajar dari remaja di kelas dua.

“Dia tdak lagi pura-pura kan sekarang?” He Yu sementara bertindak sebagai juru bicara Jing Ji. “Sebenarnya, aku merasa itu cukup masuk akal."

Ketiganya berkumpul untuk berdiskusi, bahkan ada sedikit raut kagum terhadap Jing Ji di wajah mereka.

Melihat bahwa ketiganya tidak lagi memikirkan hal lain, Ying Jiao tidak lagi terlibat dalam topik, memilih berbaring dan mulai mengerjakan soal.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments