16. Kapan dia datang?

Kelopak mataku berkedut. Pertama-tama, peringkat satu di angkatan ini ambigu. Lagi pula, aku hanya meraihnya sekali. Jelas, peringkat satu itu bukan aku.

Tapi pria yang dipanggil kakak Lang itu bukankah Ji Lang?

Orang yang tidur dengannya di rumah tadi malam memang aku.

Selangkah lebih maju, aku mendengar suara malas Ji Lang. Dia bertanya kepada lelaki itu, "Apa otakmu sakit?"

Lelaki itu tertawa dan beberapa orang bersama mereka juga tertawa, diskusi yang hidup dengan semua orang berbicara sekaligus, bertanya, "Jadi, apa menyenangkan tidur dengan siswa cerdas?"

"Sangat menyenangkan." kata Ji Lang.

Ada sekelompok orang berdiri di sana. Aku tidak bisa melihat yang mana Ji Lang. Ada beberapa yang bersandar di pagar. Aku hanya bisa mendengar suaranya. Ji Lang berkata lagi, "Cari saja yang lain jika kau ingin."

"Hei, aku tidak bisa menemukannya. Orang seperti Hao Yu sangat langka. Kakak Lang senang sendiri dan hanya membiarkan kami menonton tanpa daya ah?"

Ji Lang mengumpat, "Sialan, ucapanmu seperti kiwi, menjauh dariku."

/ pria gay /

"Hanya bercanda," kata pria itu.

"Kiwi? Shao Ming'an, bukankah itu kau? Kau bermimpi sial di malam hari dan meneriakkan nama Hao Yu? Kau menyukainya kan?" Seseorang bertanya dengan keras.

Aku pikir orang yang bernama Shao Ming'an sangat malu. Bagaimana jika dia tidak mau keluar dari lemari.

/Reveal his sex orientation/

“Shao Ming'an?” Ji Lang mengulangi.

Aku berjalan masuk ke toilet dan benar-benar tidak tahu apakah para bocah di samping menyadari keberadaanku.

Namun, suara gosip mereka terlalu keras, dan aku masih bisa mendengar mereka berbicara ketika mulai buang air kecil.

Shao Mingan bertanya pada Ji Lang. "Kenapa kakak Lang?"

"Apa yang kau mimpikan saat memanggil nama Hao Yu?” Nada bicara Ji Lang agak acuh.

"Tidak ada ... aku bermimpi kalau aku ingin bertanya materi padanya ..."

Seseorang menertawakan di sebelahnya, "Kentut, kau memimpikannya bertanya materi? Aku pikir kau sedang bermimpi ingin berbicara dengannya? Hao Yu ~ Hao Yu ~ Hao Yu ~"

Suara orang ini benar-benar menjijikkan, membuat laju urinku terputus-putus...

Bocah lelaki bernama Shao Ming'an itu tampaknya sangat malu, "aku tidak berani bicara ... Dia selalu diikuti Ruan Xuehai, sangat galak. Orang yang tidak pandai belajar ingin dekat dengan Hao Yu langsung ditatap sengit olehnya."

Ji Lang menanggapi, "Ruan Xuehai? Ck, si konyol."

Aku tidak tahu bahwa ini adalah imej Ruan Xuehai di sekolah, dan aku juga tidak tahu bahwa dia selalu memberi tatapan sengit jika ada seseorang yang ingin berbicara denganku.

Namun, Shao Mingan, kau memberi tahu begitu banyak orang kau ingin berbicara denganku yang juga lelaki? bukankah itu tidakterlalu baik? Bukan masalah aku belok atau tidak, tetapi itu mudah membuat orang salah paham.

Selesai buang air, aku mencuci tangan, dan keluar dengan tenang.

Tidak ada dua langkah. Tiba-tiba seseorang mengarahkan senter di punggungku. Kulihat bayanganku membias di dinding koridor. Itu cukup tipis. Bayangan itu terlipat menjadi dua, setengah di lantai dan setengah di dinding.

“Hei, aku baru saja melihat seseorang seperti Hao Yu, ini benar-benar Hao Yu kan? Bukankah kau tinggal bersama dengan kakak Lang kami? Kenapa kau tidak menyapanya?” Nada suara pria itu benar-benar tidak senang.

Aku tahu bahwa banyak orang tidak dapat memahamiku. Siswa cerdas biasanya acuh tak acuh. Di mata para penjahat ini, mereka dirangkum dalam empat kata: pura-pura keterlaluan.

Banyak orang bahkan mungkin ingin memukulku.

Watak remaja begitu tidak bisa dipahami, tidak nyaman melihatmu, dan menangkapmu ketika kau sendiri lalu memukulmu. Aku sudah melihat banyak hal yang seperti ini.

Aku belum punya waktu untuk membiarkan orang itu mematikan senter. Ji Lang tampaknya sudah merampoknya. Dia terdengar jengkel. "Berapa banyak kata sialanmu?"

Lalu aku mendengar dia berbisik kepada orang-orang di sekitarnya, "Kapan dia datang?"

Kurasa, Ji Lang pasti menghadap ke koridor, dan tidak melihatku sampai seseorang mengenaliku.

Aku tidak mengatakan apa-apa dan bergegas kembali ke ruang kelas.

Nada acuh Ji Lang saat bercanda dengan mereka membuat hatiku merasa sedikit dingin.

Ketika belajar mandiri malam selesai, aku adalah orang terakhir yang mengunci pintu. Saat kembali ke loteng, Ji Lang sudah selesai mencuci muka.

Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kami. Ketika memasuki pintu, kami berubah asing satu sama lain dan perang dingin yang tidak dapat dijelaskan. Kami bahkan tidak memiliki hubungan yang lebih dekat tetapi mulai mengasingkan diri seperti orang yang sangat dekat.

Dia berbaring di tempat tidur bermain dengan ponsel, dan aku langsung mematikan lampu setelah mencuci muka.

Setelah beberapa saat, ia melepaskan ponselnya, dan satu-satunya cahaya diruangan ini lenyap, tetapi cahaya diluar jendela tampak terang.

Ketika tidur, aku suka berbaring di sisi kanan, aku takut akan menekan kerja jantung jika tidur disisi kiri, tetapi aku terkejut dengan tindakan yang begitu biasa ini.

Begitu berbalik, aku melihat Ji Lang, di bawah meja belajar kami.

Meja belajar lebih tinggi tempat tidur jadi kami bisa memandang satu sama lain ketika berbaring di tempat tidur, perspektif dan nasib yang aneh sekali.

Apa kalian bisa tahu bagaimana ngerinya melihat film horor, rasanya seperti saat ini, mata Ji Lang menyala ditengah kegelapan.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

Post a Comment