7. Dia benar-benar bosan

Aku tidak tahu Ji Lang melihat atau tidak air liurku menetes, tapi wajahku jelas terpantul cahaya lampu yang tepat di atas kepalaku. Air liurku pasti terlihat, dan mungkin menusuk matanya.

Ji Lang tidak menanggapi, tetapi pria dibelakangnya tiba-tiba maju dan membungkuk padaku dan berteriak, "Halo, Hao Yu Ge!"

"..." Teman Ji Lang ini sangat mengejutkan, aku sedikit salah tingkah, menelan saliva, "Halo ..."

Pria itu berdiri tegak.

Aku akhirnya melihat penampilannya. Dia temen sekelas Ji Lang, juga terlihat di toilet, bibir merah dan gigi putih, tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak sama tingginya denganku.

Wajahnya tidak perlu digambarkan, aku rasa aku yang paling tampan.

"Dengar dari Langgou (anjing serigala) ... Cuih, Lang Ge bilang teman sekamar barunya adalah kau, aku tidak bisa menunggu ..." Dia mengatakan itu masih dengan tersipu dan mengangguk hormat, "Suara paling keras yang bersorak pagi ini saat kau berpidato adalah aku! Namaku Chen Haokong."

Aku agak malu dan benar-benar bingung, tadi siang aku diejek Ruan Xuehai karena memiliki penggemar pria, dan ternyata malam ini aku bertemu dengannya.

Chen Haokong menatapku malu dan berjalan mendekat, "Lang Ge bilang kalian belum makan malam, keluargaku baru saja memasaknya. Ini sangat lezat!"

Chen Haokong dan Ji Lang adalah tipe yang sama.

Dia mendorong salah satu dari nasi ayam padaku, "Silahkan makan Hao Yu Ge," dan mendorong yang lain ke Ji Lang. "Silahkan makan Lang Ge, makasih Lang Ge sudah memberiku kesempatan untuk bertemu idola!"

Idolanya yang lapar, "..."

Ji Lang tidak mempedulikan temannya itu. Dia merobek kantong plastik dan meletakkan nasi di atas meja. Buka tutupnya dan campur kotak nasi ke dalam ayam, aduk sebentar dan siap makan.

Dia jelas menggunakan sendok, tetapi aku memiliki ilusi bahwa dia sedang menggunakan tangannya.

"Terima kasih." Aku menerimanya. Aku benar-benar lapar. Ketika aku punya uang, aku akan mengembalikan makanan ini.

Pada akhirnya, aku tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Chen Haokong disini. Dia pulang dengan kepuasan setelah makan, dan meninggalkan meja penuh sampah dan tisu toilet.

Ayam astragalusnya terlalu pedas, well, aku rasa akan mengingat Chen Haokong.

Hehe, aku pikir dia cukup bagus sekarang.

Kurasa dia hanya ingin menjernihkan perasaannya, atau ingin aku memberinya catatan saat ujian.

Tapi dia tidak akan berada di ruang ujian yang sama denganku.

Setelah Ji Lang selesai makan, dia meletakkan sumpitnya di mangkuk plastik, dan kembali berbaring lagi di tempat tidur.

Seperti babi pemalas.

Kesenjangan yang sangat besar.

Dia menghabiskan dua kotak nasi, ayam astragalus dan sayuran dalam mangkuk juga dimakan, bahkan supnya tidak ada yang tersisa, hanya tulang-tulang, Ji Lang benar-benar sampah.

Chen Haokong tadi yang membawakan makan, aku juga malu untuk mendesak Ji Lang mengambil sampah jadi aku bangkit dan meletakkan sampah di pintu, siap turun tangga.

Sekarang sudah jam sembilan malam. Aku ingin bermain ponsel tetapi aku rasa sebaiknya menyelesaikan pekerjaan rumah.

Sangat mudah untuk memiliki rasa bersalah, dan merasa khawatir, kecuali belajar.

Jadi aku lanjut menulis tugas matematika.

Ji Lang bolak-balik di tempat tidur, dan gerakan besar itu membuatku curiga bahwa dia sakit perut.

Aku menatapnya dan bertanya dengan ekspresi apa tidak perlu mengirimnya ke rumah sakit untuk keadaan darurat. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya saja tampak tulisan besar tercetak jelas di kepalanya, bosan.

"Tidak ada TV di sini?" Tanyanya padaku, nadanya penuh dengan ironis.

Aku balik bertanya, "Di asramamu juga tidak ada kan?"

Dia tidak berbicara.

Mungkin ada banyak orang di asrama, begitu ramai, dan juga dia sibuk berkelahi jadi disini dia tidak terbiasa.

Hanya kami berdua dan dia masih belum memukulku. Si tuan rumah ini bisa mengumpulkan cukup banyak orang, tapi entah mengapa dia hanya membiarkan Chen Haokong saja yang datang.

Akhirnya Ji Lang bangkit dan pergi ke kamar mandi.

“Hei, bagaimana kau mandi?” Dia bertanya padaku dari kamar mandi dan berkata, “Kenapa tampak seperti tidak ada apapun?”

Pertanyaan ini membuatku bingung.

Kamar mandi ada toilet kecil usang, dan wastafel kecil berwarna putih juga keran yang berkarat.

Aku menunjuk ke balkon terbuka di luar jendela, "Bawa ember keluar dan mandi."

Ji Lang tertegun sejenak, "Bukankah itu tidak baik? Aku rasa ada para gadis yang tinggal di gedung sebelah."

"..." Dia benar-benar percaya, lagipula kenapa aku membuat lelucon begitu canggih, membosankan, "Bukankah ada ember plastik biru besar di kamar mandi? Tambahkan sepanci air panas dan tambahkan ke air dingin, jongkok lalu mandi."

Aku belajar untuk menghargai waktu, mandi sangat cepat, dan juga sangat ekonomis, terutama ini adalah loteng, fasilitasnya tidak lengkap, tidak ada shower. Yang terpenting aku bisa tinggal.

Ji Lang terkejut dengan metode mandi yang kasar dan primitif ini yang tidak jauh lebih baik dari sekarang.

“Bagaimana kau merebus air?” Dia mondar-mandir dengan panik didalam rumah, dia bahkan tidak melihat ketel air yang sudah berlumut.

Sepertinya dia lupa kami masih punya dapur yang kecil.

Ruang tamu sangat kecil. Setelah Ji Lang berdiri, aku merasa tidak punya tempat, dia seperti mengisi semua ruang untuk mencekikku. Tentu saja, dia tidak gemuk sama sekali. Sebaliknya, tubuhnya bagus. Sekarang aku masih ingat fakta bahwa burungnya sangat besar, meskipun saat itu kami masih sama tinggi.

Aku sama tak berdaya seperti ibu tua yang pergi ke dapur untuk mengisi ketel dengan air dan mencoloknya. "Setelah mendidih, secara otomatis akan mati."

Ji Lang bergumam "oh" sambil keluar dari dapur dan duduk di tempat tidur menyender di dinding, menunggu air mendidih dengan wajah seakan tidak ada yang tersisa untuk hidup.

Dia benar-benar bosan.

Seperti anjing.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments