6. Maukah kau mencium?

Guru Liu berpikir tentang Jing Ji dan tidak makan dengan baik saat makan malam. Berusaha keras menahan diri hingga tiba jadwal kelas mandiri malam, dia mebawa botol airnya yang besar dan berjalan cepat ke kelas.

Ketika mencapai ruang kelas enam, dia sengaja memperlambat langkahnya dan diam-diam mengintip dari jendela belakang ruang kelas tujuh.

Dia seketika sangat senang.

Jing Ji dengan patuh ​​duduk di posisinya, dan sedang mengerjakan sesuatu dengan buku wusan di depannya. Meskipun kecepatannya sangat cepat, terlihat seperti tidak serius menyelesaikan soal, tetapi melihatnya mau menulis saja, itu sudah baik.

Guru Liu mengangguk puas dan berjalan masuk dari pintu depan.

Ketika dia muncul, ruang kelas yang berisik seketika sunyi, mereka yang berisik dengan bingung mencari buku.

Guru Liu menggulung buku teks matematika di tangannya lalu mengetuk satu per satu kepala mereka dan berteriak marah. "Kalian merasa diri monyet yang suka melompat-lompat? Apa kalian ingin menunjukkan padaku pertunjukan monyet di podium? Ah? ”

Para siswa yang telah ia pukuli duduk dengan patuh, dan mereka tidak berani bicara.

Guru Liu setinggi 1,9m, dan tubuhnya penuh dengan otot. Tangan besar itu sama dengan kipas daun palem. Rambutnya dicukur botak dan mengenakan kalung emas, tampak seperti bos mafia, siapa yang berani menghadapinya.

"He Yu! Zheng Que! Aku lihat kalian berbicara sangat panas, punya banyak waktu, kan?" Guru Liu mencibir. "Kerjakan 'Pipa Xing' dalam minggu ini! Aku akan memeriksanya pada hari Jumat!"

· Lagu Pemain Pipa, puisi panjang karya Tang penyair Bai Juyi.
   
He Yu mendesah, tangan yang memegang buku bahasa bergetar. "Guru, aku tidak bisa melakukannya, aku tidak tahu, tetapi kau ingin aku mengerjaknnya, aku benar-benar tidak bisa."



Sementara Zheng Que tidak tahu apa itu Pipa Xing.


Dia masih di luar situasi, ketika mendengar nama itu, dia pikir itu mungkin puisi kuno, segera menepuk dadanya dan berjanji, "Tidak masalah."

Kurang dari seratus kata, empat hari, dua puluh kata sehari, bagaimana bisa mengerjakannya.

He Yu memelototinya, rasanya ingin menutup mulutnya dengan lem. Dia membuka halaman Pipa Xing dan meletakkan buku itu di bawah mata Zheng Que.

"Tidak masalah? Apa menurutmu ini baik-baik saja?"

Zheng Que melihat halaman padat kata-kata itu, seketika bodoh.

"Tidak mau..." Guru Liu tampak tidak marah. Dia memandang He Yu. "Konsol game di pagi hari ..."

He Yu menyerah dalam satu detik. "Aku lakukan! Aku lakukan!"

Setelah mengurus beberapa orang, Guru Liu pergi ke sisi Jing Ji dan menatap topik matematika yang sedang dilakukannya.

Guru Liu awalnya ingin memberitahunya, jangan mencoba berada di arah yang salah. Mulailah belajar dan fokus pada dasar-dasar. Jangan terburu-buru.

Secara tidak sengaja menyapu pertanyaan pilihan ganda, dia menemukan bahwa itu benar.

Guru Liu hampir berpikir bahwa dia buta, dan terus menunduk mengamati sampai akhir dari pertanyaan pilihan ganda dan bahkan tidak melihat pertanyaan yang salah.

"Kau ..." Guru Liu melihat Jing Ji dengan tatapan yang rumit.

Jing Ji merasa mendengar bel alarm, berpikir bahwa Guru Liu curiga sesuatu, dan bersiap menyusun kalimat yang meyakinkan namun Guru kembali bicara.

"Apa kau yang menjawab semua soal ini?"

Guru Liu menepuk bahu Jing Ji dan mencoba yang terbaik untuk mendorongnya. Setelah beberapa lama, dia akhirnya menghela nafas lega. "Ingatan yang bagus, upayamu saat ini meningkat tapi jangan sampai menurun lagi di masa depan."

Jing Ji, "..." dia kemudian merespon, "Baik."

“Jika ada yang salah, pergi ke kantor untuk mencari guru, dan guru punya waktu luang saat belajar mandiri malam.” Guru Liu mengembalikan buku kerja ke Jing Ji dan berkata dengan lega. “Kau bisa juga bertanya guru-guru lain di kantor. Jangan malu, jika ada yamg tidak kau mengerti, kau harus bertanya. Kau harus rajin belajar. Kelas kita tidak jauh dari kantor. Berjalan sebentar tidak membuat menderita."

Jing Ji merasa sedikit hangat, dia mengangguk, "Aku tahu, terima kasih guru."

“Ayo belajar.” Guru Liu menyemangati dia lagi, mengangkat kembali botol air besarnya, dengan waspada melirik ke kelas dan melangkah keluar dari ruang kelas.

Setelah Guru Liu pergi, Jing Ji mengambil pena dan terus mengerjakan topik pertanyaan. Dia selalu menyelesaikan semua latihan dalam satu unit. Dia merasa penuh dengan listrik, dan dia sangat ingin menemukan buku catatan dan mulai mengatur garis besar pengetahuan dari masing-masing subjek.

Ying Jiao melihatnya sebentar dan berbalik.

He Yu dengan setumpuk kartu bermain, mencari seseorang untuk 'Fight the Landlord'. "Kakak Jiao, kemarilah. Sial, lao Zheng sungguh menyebalkan. Aku harus mencari hiburan, atau aku akan mati lemas. Mengerjakan Pipa Xing? Bukankah Bai Juyi gila? Menulis hal-hal ini untuk membahayakan generasi masa depan!"

Zheng Que bermaksud menebus kejahatan seseorang dengan tindakan berjasa, mendekat, "Sini bawa aku satu, aku akan main."

“Enyahlah!” He Yu mendorongnya ke samping, menarik Peng Chengcheng yang sedang berbaring di atas meja untuk bergabung, berteriak. "Kau bodoh, aku menolak."

Zheng Que sangat marah, "Aku bodoh? Aku bisa menarik kakak Ge ketika aku tidak melawan tuan tanah! Langsung dikirim ke pintu sebagai umpan meriam, siapa yang bodoh?"

He Yu menggelengkan kepalanya. "Aku memang bersedia!"

Zheng Que memutar mata, melemparkan ponselnya ke laci di meja. Dia menunjuk He Yu dengan emosi. "Aku pantau kau dari samping bagaimana kau akan kalah!"

Ying Jiao sangat jago bermain poker, hampir tidak pernah kalah dan dia tidak selalu mau bermain dengannya.

“Dua Qs.” Ying Jiao bersandar di meja dan melemparkan dua kartu dengan malas.

He Yu menatap wajahnya dan menyelinap ke Peng Chengcheng. Peng Chengcheng sangat waspada dan segera meletakkan kartu di atas meja. He Yu menarik kembali tatapannya. "Dua 2."

Peng Chengcheng menggelengkan kepalanya dan berkata bahwa dia tidak turun.

He Yu dengan senang membanting kartu baru, "Tiga tiga."

Peng Chengcheng, "Tiga delapan."

Ying Jiao menyipitkan mata tidak merespons, kartu-kartu di tangan dimiringkan dengan tajam, membuat lawan bisa melihat.

Pikirannya tidak pada bermain kartu, hanya nama Xue Jinxing yang penuh dibenaknya.

Agak akrab, sepertinya sudah pernah mendengarnya ...

He Yu mencoba memanggilnya, "Kakak Jiao, giliranmu."

Ying Jiao melirik ke meja, tampak linglung: "Dua delapan, kan? Aku dua sembilan."

"Lao Peng membanting tiga delapan." He Yu mengoreksinya, "Kakak Jiao, apa yang terjadi padamu? Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Kalian ..." Ying Jiao mengikat kartu di atas meja. Dia berubah serius, "Apakah kalian kenal Xue Jinxing?"

"Aku pernah mendengar nama ini," He Yu berpikir keras dengan memiringkan kepalanya. "Tapi aku tidak ingat."

Zheng Que mengikuti, "Aku sepertinya pernah mendengar itu dari kelompok kelas dua yang abnormal. Sepanjang hari Guru Liu selalu membanggakan jadi aku merasa akrab."

Ying Jiao mengetuk pelan permukaan meja, "Mungkin."

“Apa yang terjadi, Kakak Ge?” He Yu tidak lagi tertarik bermain kartu, dan meletakkan kartu-kartu itu di tangannya. “Apa dia memprovokasimu? Mari kita mainkan dia?”

"Lupakan," He Yu tersenyum, "Bukan apa-apa."
.
.

Batas kelas malam untuk tingkah satu dan dua berakhir pada pukul 9:45, dan tahun ketiga adalah 10:25.

Pada jam 9:45, siswa di tahun pertama dan kedua dapat kembali ke asrama, tentu saja, mereka dapat belajar hingga 10:25 seperti yang dilakukan siswa tahun ketiga.

Tetapi untuk ruang kelas tujuh, jangankan jam 9:45, sebagian besar dari mereka sudah pulang pada jam 9:11.

Jing Ji sudah lebih dulu berkata kepada Li Zhou untuk kembali ke asrama bersamanya. Namun, ponsel Li Zhou bergetar sepanjang waktu. Dia bersembunyi di bawah meja dan menerima telepon. Setelahnya dia berkata ada Jing Ji, "Kau kembalilah dulu, temanku datang dengan seorang gadis!" Dia langsung pergi melarikan diri.

"Hei--" Jing Ji mengulurkan tangan untuk meraihnya. Tetapi tidak menangkapnya dan hanya bisa melihatnya menyelinap pergi.

Hatinya diam-diam khawatir, bagaimana dia bisa menemukan asrama nanti?

Ying Jiao mengerutkan kening melihat Jing Ji yang mencari riwayat chat dengan Li Zhou berulang-ulang, dan mulutnya perlahan tersungging.

Melihat bahwa ruang kelas hampir kosong, He Yu tidak bisa duduk diam. "Kakak Jiao, ayo pergi keluar untuk bersenang-senang? Lao Zheng sudah membooking ruang di 1982."

Itu adalah klub hiburan di dekat sekolah.

"Kalian saja yang pergi." Ying Jiao menolak, "Aku ada urusan lain hari ini."

Peng Chengcheng mengerutkan kening, "Tidak pulang kerumah?"

Ying Jiao mengangguk, dengan senyum di matanya, "Malam ini tidur di asrama."

Zheng Que ragu, "Bagaimana Kakak Jiao tiba-tiba tinggal di asrama? Bukankah kau bilang ranjang di asrama tidak nyaman untuk tidur?"

Ying Jiao membalik pena di tangannya, secara tidak sengaja membuka topik. "Ya, ada sesuatu. Kalia  bersenang-senanglah, tagihan malam ini masukkan di akunku."

He Yu seketika menggila, segera menyanjung. "Jelas Kakak Ge, hangat dan pengertian! Begitu peduli pada adik!"

Zheng Que menyengir dan melemparkan ciuman, "Terima kasih, baba!"

"Jangan betingkah konyol." Ying Jiao menendangnya dan tersenyum merutuk. "Menjijikkan, cepat pergi."

Zheng Que tidak peduli, meraih bahu He Yu dan Peng Chengcheng untuk berjalan pergi.

Jing Ji awalnya ingin berjalan dengan para siswa dari kelas tujuh, setidaknya menemukan asrama terlebih dahulu. Namin para siswa di kelas tujuh pada dasarnya tidak tinggal di asrama. Ketika mereka keluar dari gedung sekolah, mereka langsung pergi ke gerbang sekolah untuk pulang dan tidak pergi ke arah lain.

Hampir dalam sekejap mata, Jing Ji ditinggalkan sendirian di depan gedung sekolah.

Jing Ji merenung apakah dia harus mencari sendiri atau menunggu kelas lain untuk pergi ke asrama setelah kelas. Tiba-tiba ada suara berat di belakangnya. "Hei."

Jing Ji menoleh dan melihat Ying Jiao berjalan kearahnya dari belakang. Lelaki itu tinggi dan ramping, dan wajahnya terkesan malas. Mengenakan T putih yamg longgar menempel pada tubuh, angin berhembus, mengungkapkan garis tubuh yang tipis dan indah.

Jing Ji tampak kosong, "Apa yang ..."

“Ayo jalan bersama,” Suara berat yang dalam kembali terdengar.

Jing Ji tidak berbicara, juga tidak bergerak. Dia tidak melupakan Ying Jiao yang mengerjainya tadi dikelas.

“Ada apa?” Ying Jiao mengangkat alisnya, tersenyum malas. "Apa kau tidak kembali ke asrama? Kenapa tidak jalan?”

Dia membungkuk dan mendekat, "Takut aku mengerjaimu?"

Jing Ji menatapnya dan merutuk dalam hati bahwa orang ini masih memiliki wajah untuk mengatakan itu?

Ying Jiao tertawa rendah, dan suaranya luar biasa magnetik dalam kegelapan. "Teman sekelas kecil, tidak, sangat kecil, betapa kotornya pikiranmu itu. Apa yang bisa kau lakukan agar aku tidak mengerjaimu? Bisakah kau mengucapkan kata-kata lembut? Maukah kau mencium? Bisa ..."

“Diam!” Jing Ji menggertakkan giginya, telinganya merah, dia kemudian mengambil langkah besar ke depan.

Ying Jiao menyeringai, ikut menyusul.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments