4. Tulis surat jaminan

Jing Ji tidak menyadari makna tersirat dari pertanyaan Ying Jiao. Karena lelaki itu berulang kali mempertanyakan membuatnya hanya menatap dingin, tidak berbicara.

Ying Jiao menyentuh dengan lututnya, berkata malas, "Aku bertanya, ayo jawab."

Melihat waktu terus terbuang, Jing Ji tidak ingin terus meladeninya, dia dengan tidak sabar merespon. "Lalu aku harus bagaimana agar kau percaya?"

Melihat reaksi kesal Jing Ji, Ying Jiao merasa baru dan ganjil.

Dia kemudian meminta kertas dan pena pada dokter sekolah kemudian melemparkannya ke Jing Ji, "Tulis surat jaminan."

"... Ini tidak harus diperlukan."

Ying Jiao tersenyum, "Jika kau tidak menulis, kau harus ..."

Jing Ji menatapnya, menunggu kalimat berikutnya.

Ying Jiao melanjutkan, "Mulai sekarang, ke mana pun kau pergi, dengan siapa kau berbicara, dan apa yang kau katakan, kau harus melaporkannya padaku. Misalnya, sebelum pergi ke toilet, beri tahu aku apa kau buang air besar atau kecil dan berapa lama. Setelah waktu habis, kau harus menjelaskan alasan, jadi aku bisa menganalisis jika kau mengambil kesempatan untuk mengumbar rahasia."

Jeda sejenak, dia melanjutkan. "Bila perlu ... Aku pribadi akan memeriksa apa alasanmu masuk akal."

Jing Ji menatapnya dengan ragu.

"Kenapa, adik kecil," Ying Jiao tersenyum miring. "Kau sebelumnya selalu menulis surat cinta untukku. Saat ini hanya jaminan saja, kau masih bertahan?"

... "Apa kau ingin aku menuliskannya dengan tanganmu?"

Jing Ji dengan wajah datar merespon, "... Oke, aku akan menulis."

Dia membuka tutup pena dan mulai menulis sesuai dengan permintaan Ying Jiao.

Mata Ying Jiao jatuh pada gesekan pena diatas kertas. Tulisan bocah itu sangat indah, pada pandangan pertama, ini merupakan upaya yang hebat.

Pandangan Ying Jiao semakin dalam.

"Sudah." Jing Ji meletakkan pena dan menyerahkan surat jaminan padanya. "Tidak ada yang lain, aku pergi."

Ying Jiao memperhatikan bahwa Jing Ji meletakkan pena tidak miring dan itu membentuk sudut yang tepat dengan atas meja.

Dia menatap Jing Ji dengan serius dan melambai padanya, menunjukkan bahwa Jing Ji bisa pergi.

Jing Ji lega, dengan cepat berjalan keluar dari klinik sekolah.

Ying Jiao kembali menatap surat jaminan di tangannya.

Untuk waktu yang lama, dia tiba-tiba tersenyum miring. Jing Ji sebelumnya tidak pernah menulis surat cinta kepadanya.

Sekolah eksperimental provinsi sangat luas dan dibagi menjadi dua bagian.

Bagian pertama adalah gedung sekolah baru untuk tingkat satu dan dua, sementara bagian lainnya adalah tingkat tiga dan rute halamannya begitu rumit.

Jing Ji harus berkeliling beberapa kali sebelum menemukan gerbang sekolah.

Ada banyak toko kecil di luar sekolah dan saling berjejer rapat. Sekali memandang, dia menemukan beberapa salon rambut, dia memilih papan nama yang enak dipandang dan langsung masuk.

Ini adalah waktu kelas, tidak ada bisnis di toko. Begitu melihatnya masuk, seorang pria tukang salon segera menyambutnya dan bertanya apakah dia ingin potong rambut atau mewarnai.

Jing Ji menyapu rambutnya dengan tangan. "Potong pendek, lalu warnai hitam, berapa banyak?"

Karena melakukan bisnis di sekitar sekolah, ketika mendengar permintaan ini, tukang salon tahu bahwa itu adalah permintaan dari guru. Dia tidak terkejut, tersenyum dan berkata. "Paket potong rambut dan mewarnai ada 98, 198, dan 298."

"Aku ingin 98."

Si tukang salon mencoba membujuknya. "Tidak perlu 298, 198 sudah cukup. Pewarna 98 tidak baik untuk rambutmu. Rambutmu terlihat halus, sayang sekali kalau rusak."

Jing Ji tidak tergerak dan dengan tegas berkata, "98."

Bagaimanapun, hanya beberapa sentimeter, jika rambutnya rusak, dia bisa memotongnya lagi ketika panjang.

"Ayo mulai." Tukang salon memberinya bib dan menunjuk ke cermin. "Gaya rambut seperti apa yang diinginkan adik tampan?"

Jing Ji tidak mengerti hal-hal ini, dia tidak peduli, dengan santai berkata. "Terserah, yang penting guru tidak menegurku lagi."

Si tukang salon tersenyum. "Oh, kalau begitu aku akan melakukannya."

Biasanya, siswa SMA yang mengecat rambut merasa penting untuk melihat gaya rambut mereka sendiri. Ini pertama kalinya dia melihat siswa yang tidak peduli.

Namun...

Si tukang cukur memandangi cermin dan mendesah dalam hati.

Dengan memiliki fitur wajah seperti ini wajar saja jika tidak begitu peduli dengan gaya rambut. Bahkan jika mencukur sampai botakpun tetap sangat menarik.

Si tukang cukur memperhitungkan preferensi guru dan mulai memotong rambut kuning Jing Ji, mengungkapkan telinga, meninggalkan poni kecil di atasnya, ini gaya rambut yang sangat rapi.

Setelah menyelesaikan pewarnaan dan mengeringkan rambut Jing Ji, tukang cukur melihat hasilnya di cermin dan merasa iri.

Warna hitam rambut sangat pekat seperti tinta, dan terlihat agak tidak biasa pada orang kebanyakan, tetapi tidak ada yang salah jika itu Jing Ji.

Miliki wajah yang bagus, warna apapun tetap cocok.

Jing Ji memandangi rambut barunya yang hitam dan pendek. Itu terlihat seperti orang normal. Dia segera membayar dan berjalan keluar dari salon.

Saat itu hampir pukul tujuh malam, jadi Jing Ji menghabiskan delapan yuan untuk membeli semangkuk nasi daging babi Yuxiang.



Setelah bergegas makan, ia kembali ke sekolah, tepat pada waktunya untuk sesi pertama dari belajar mandiri malam.

Eksperimen provinsi memiliki topik yang lebih ringan, dan ada 12 kelas dalam sains. Di antara mereka, satu kelas adalah kelas super, tiga hingga enam kelas adalah kelas kunci, dan enam kelas sisanya adalah kelas paralel.

Kelas seni liberal memiliki satu kelas tambahan dan dua kelas kunci dari kelas sains. Seluruh tahun ditambahkan bersama, total dua puluh satu kelas.

Ada banyak kelas berarti banyak guru, dan ruang kantor tidak cukup. Saat itu sekolah baru saja membangun gedung pengajaran baru, ruang itu cukup untuk kantor guru seni liberal secara terpisah.

Jing Ji sebelumnya dari kantor sains di lantai 3. Ketika dia berdiri di koridor, dia memperhatikan bahwa ruang yang paling dekat dengan kantor itu adalah kelas super sains: tingkat dua ( kelas 1).

Jika mengurutkan berdasarkan kelas, ruang kelas tujuh tingkah dua harusnya berada di lantai yang sama.

Seperti perkiraannya, ruang tujuh berada di tengah lantai tiga.

Sepanjang jalan dari ruang satu, suasana tampak tenang, termasuk kelas paralel ruang delapan di sebelah ruang tujuh.

Lagi pula, dengan kualitas eksperimen provinsi, siswa yang dari kelas paralel, itu mungkin merupakan calon untuk masuk universitas ternama.

Sementara, ruang kelas tujuh, tidak seperti kelas lain, sebagian besar dari kelas ini merupakan siswa koneksi dari keluarga berada dan pikiran mereka sama sekali tidak pada pembelajaran.

Oleh karena itu, ketika kelas-kelas lain belajar mandiri dengan serius, siswa diruang tujuh hampir sebanding dengan kuda-kuda liar yang terkilir. Dari luar pintu sudah terdengar hiruk pikuk.

Di ruang kelas, He Yu memblokir wajahnya dengan buku ujian simulasi wusan, berbalik untuk mengumpat. "Fck, Li Shi si keparat itu benar-benar mencari bahaya, menemui kakak Jiao secara langsung untuk membuat masalah."

Zheng Que fokus bermain game diponsel, merespon tanpa minat. "Lalu kenapa, kakak Ge tidak mengurusnya."

"Apakah Laozi peduli hasilnya? Ini adalah proses! Proses ini sangat menjengkelkan, apa kau mengerti?" Dia berkata sambil menarik Peng Chengcheng yang duduk disebelahnya, "Bagaimana menurutmu, Chengcheng?"

Peng Chengcheng dengan wajah gelap berkata, "Coba kau memanggilku ChengCheng sekali lagi?"

He Yu mengangkat tangannya dan menyerah, "Mulutku salah! Lidahku salah! Kita disini berjuang demi kakak Jiao melawan Li Shi. Lao Peng, di mana perhatianmu? Kesadaran ideologismu tidak cukup tinggi."

Peng Chengcheng menatapnya, "Lebih tinggi darimu."

He Yu adalah bocah gemuk pendek, Peng Chengcheng saat ini tepat menusuk titik menyakitkannya.

He Yu sangat marah dan melompat untuk menerjang Peng Chengcheng. Zheng Que baru saja menyelesaikan game, meletakkan ponsel untuk menghentikannya, "Apa yang kau lakukan? Bukankah tadi membahas kakak Ge yang mengurus Li Shi?"

Ying Jiao yang sedang bermain lipat kertas, mendengar itu, dia merobek kertas sambil berkata. "Jangan gunakan kata itu, terima kasih."

He Yu menutup mulutnya dengan tangan, tertawa buruk. "Apa yang terjadi dengan kakak Jiao, bicaramu meleset kemana?"

Ying Jiao menatapnya dengan serius, "Aku berpikir, game konsolmu disita oleh Lao Liu pagi tadi..."

Senyum He Yu perlahan menghilang, seketika marah dan menunjuknya, "Apa kau masih manusia? Adik melawan ketidakadilan untukmu!"

Ying Jiao bersandar di dinding, tersenyum. "Bagaimana kau berteriak, aku akan mendengarnya."

He Yu benar-benar meledak, dia berdiri bersiap menerjang Ying Jiao.

Pada saat yang sama, pintu ruang kelas tiba-tiba didorong terbuka, He Yu sangat ketakutan sehingga daging seluruh tubuhnya bergetar. Sudah terlambat untuk berbalik. Dia terburu-buru membuat alibi, memandang Zheng Que "Lao Zheng, penaku jatuh, tolong ambilkan."

Tidak direspon.

Wajah He Yu menggelap, menjerit sebal. "Lao Zheng?!"

Zheng Que mengabaikannya dan menatap kedepan dengan merana. "Menurutmu, kalau aku juga memotong gaya rambut, apa bisa memiliki efek seperti itu?"

Orang yang datang bukan Guru Liu, tetapi Jing Ji.

Dia memotong rambut pendek dan diwarnai hitam tampak rapi dan benar-benar mengungkapkan wajah tampan yang tak terucapkan. Seperti poplar putih kecil, dia hanya berdiri tegak di podium.

He Yu berbalik dan kaget. Dia merespon jujur. "Kau tidak bisa melakukannya, Lao Zheng, perlu kesadaran diri, kau harus mengubah kepalamu untuk mencapai efek ini."

Teman-teman sekelas lainnya juga terkejut, setelah beberapa saat hening, seperti meneteskan air di wajan minyak panas, mereka tiba-tiba meledak.

"WTF! apa itu Jing Ji? Bagaimana dia tiba-tiba menjadi begitu berkelas?"

"Jing Ji ternyata setampan itu?"

Siswa diruang kelas tujuh tidak memahami Jing Ji, seperti lem 502 mencari kesepatan untuk menempel pada Ying Jiao setiap hari. Bagi Teman Ying Jiao bersikap patuh secara berlebihan tetapi dangkal, mendesah kesal: kalau pada orang lain, Jing Ji hanya berwajah gelap, secara tidak sengaja menyentuhnya. Dia akan mengutuk untuk waktu yang lama.

Namun, sekarang, aura itu telah menghilang, dan kini terlihat menyegarkan dan dingin, sangat tampan sehingga membuat orang tidak dapat menutup kaki mereka.

"Hei, aku sudah mengkonfirmasi mataku, gaya rambut ini, aku akan memotongnya besok."

"Oh, sepertinya aku terpesona."

Jing Ji tidak memperhatikan diskusi teman-teman sekelas di bawah podium, ia khawatir tentang bagaimana menemukan bangku tubuh asli.

Dia pikir hanya akan tersisa satu bangku kosong di kelas, dan itu pasti miliknya. Namun, pemikirannya terlalu sederhana. Karena pada saat ini ... Sebagian besar bangku masih kosong.

Jing Ji tidak punya pilihan selain berdiri dan mencoba mendapatkan petunjuk dari bawah.

"Tidak," He Yu bingung, "Apa yang dia lakukan hanya berdiri disana? Pamer gaya rambut barunya?"

Zheng Que, "Mungkin dia sengaja menunjukkannya pada kakak Jiao."

Peng Chengcheng yang tidak banyak bicara, mengangguk setuju.

Sementara Ying Jiao berusaha untuk menahan senyum, menikmati situasi si wajah dingin yang sedang dalam kesulitan didepan sana.

Ketika mata Jing Ji mengarah padanya, Ying Jiao tampak memberi isyarat dengan pandangan menunjuk ke sebuah bangku kosong di depannya.

Menyadari itu, Jing Ji merasa lega, berterima kasih. Dia turun dari podium dan langsung duduk.

He Yu membuka mulutnya dan berteriak dengan wajah aneh. "Jing Ji, kenapa kau tidak kembali ke tempat dudukmu dan duduk dibangku orang lain?"

Tubuh Jing Ji kaku, dia menoleh dengan raut tidak percaya melihat Ying Jiao.

Ying Jiao membenamkan kepala di lengannya, tertawa terbahak.

Si cabul kecil ini benar-benar menarik.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments