4. Aku mengabaikannya

Ji Lang memindahkan sofa busuk di sebelah tempat tidurku ke kamar tidur kecil, dan sekarang ranjangnya ada sebelah milikku.

Dan meja belajar favoritku berjemur di bawah atap terbuka di luar, terlalu panjang dan lebar, sehingga bisa dijadikan jamuan makan besar.

Ruang tamu terlalu kecil, dan begitu tempat tidur Ji Lang dipindahkan disebelah ranjangku, hanya tersisa ruang kosong untuk satu kaki.

Tapi Laozi adalah peringkat satu disekolah.... Aku tidak peduli kau belajar atau tidak, tetapi aku tidak bisa kehilangan meja belajarku....

Untungnya, ibu Ji Lang pengertian, begitu melihat ekspresiku yang memprihatinkan, dia segera meminta para pekerja untuk menurunkan ranjang.

Kali ini, ibu Ji Lang tidak membelikannya ranjang yang besar, dia membeli tempat tidur kecil.

Sekarang ranjang baru Ji Lang hanya lima puluh sentimeter lebih lebar dari milikku.
Aku merasa sedikit kasihan pada ibu Ji Lang, dia sebenarnya sangat baik.

Akhirnya, meja belajarku ditempatkan di antara ranjang Ji Lang dan milikku. Biasanya aku duduk di tepi tempat tidur untuk mengerjakan PR.

Meskipun memikirkan adegan ini, aku agak merinding.

Ibu Ji Lang tersenyum lebar.

“Yang Manhe, apa ada yang pernah bilang kalau senyummu jelek?” Ji Lang mungkin menyalahkan ibunya karena tidur di ranjang kecil.

Sebenarnya, dengan temperamen Ji Lang, dia bisa memaksa untuk merebut tempat dirumah ini. Kalau aku tidak mau, dia masih bisa memukulku.

Tapi saat ini aku peringkat satu seangkatan. Yang Manhe mungkin sangat takut Ji Lang akan melayangkan jarinya padaku.

Aku pikir, 'Tidak baik bagi Laozi untuk belajar dengan baik.'

Mimpi akan tempat tidur besar sirna, Ji Lang tidak tahan untuk mengeluh. "Aku tidak mau membuat PR, aku hanya ingin tempat tidur besar."

Ibunya, Yang Manhe merespon. "Protes tidak sah."

Ji Lang menatapku galak.

Aku mengabaikannya dan mengambil tas sekolah, kemudian meletakkan semua buku tugas yang menggunung di atas meja. Seakan mengungkapkan: Lihatlah kekuatan peringkat satu yang tergeletak diatas meja belajar ini!!!

Kamar kecil itu akhirnya menjadi pajangan, yang berisi lemari pakaian, sofa, dan sekarang tumpukan pakaian Ji Lang ditumpuk di atasnya.

Jika aku tahu lebih dulu, aku tidak akan membersihkan. Ji Lang tidak peduli. Orang ini lebih buruk daripada orang lain dan tidak memenuhi syarat untuk mengabaikanku.

Dia duduk di tempat tidurnya yang sempit dan memandang sekeliling dengan tatapan tajam, membuat suara mencebik dari waktu ke waktu.

Aku mengabaikan tingkahnya.

Jika dia diabaikan, mungkin saja dia benar-benar ingin meninggalkan tempat ini dan pergi mencari tempat baru untuk ditinggali.

Lagipula aku terjebak disini.

Yang Manhe yang melihat aku menulis pekerjaan rumah, segera mengambil tas sekolah Ji Lang dan meletakkannya di atas meja. "Cepat, kau juga belajar, tidak tahu tanya Hao Yu, aku akan pergi ke supermarket terdekat."

Ji Lang tampak tercengang, "Sekolah akan baru mulai besok, tugas apa yang harus ditulis hari ini."

"Kenapa kau tidak menunggu saja sampai hari ujian masuk perguruan tinggi?"

Aku pikir komunikasi ibu dan anak ini sebenarnya sangat menarik, dan pertengkaran juga sangat hangat. Jika Ji Lang bisa lucu, itu akan baik-baik saja.

Sayang sekali.

Yang Manhe pergi ke supermarket karena terlihat bahwa hubungan kami berdua tidak begitu harmonis, dia ingin memberi kami waktu sendirian.

Benar-benar ibu yang baik, tetapi putranya adalah Ji Lang.

Sifat militan dari lelaki ini sangat mungkin cepat emosi. Dengan diriku yang seperti ini, sangat tidak masuk akal jika Ji Lang tidak akan memukulku.

Aku masih belajar dengan baik, dan tidak tahan dengan perilakunya, tetapi siswa yang baik juga memiliki sifat yang umum, dapat tahan, mungkin setelah beberapa lama aku bisa bergaul dengannya aku akan menganggapnya bukan apa-apa.

Aku harap begitu.

Tidak peduli orang seperti apa Jilang, tapi dia bisa tidur satu kamar dengan peringkat satu, selalu lebih beruntung daripada yang lain. Aku sangat iri padanya.

Yang Manhe sudah lama berada di supermarket, dia bilang akan membeli banyak makanan ringan untukku. Mungkin ingin memberikan kesan yang baik agar aku membantu Ji Lang.

Ibu Ji Lang membuatnya patah hati. Jadi aku melihat Ji Lang duduk di depanku sambil memainkan ponselnya dengan berisik dan itu membuatku frustasi hingga menjawab salah beberapa pertanyaan.

Aku sangat kesal dan memaksakan diri untuk menyelesaikan setengah dari pekerjaan rumah yang tersisa.

Ji Lang kini berbaring di atas meja dan bermain dengan ponselnya, dia sesekali menatapku.

Aku mengabaikannya.

Setelah menyelesaikan tugas ilmu politik, aku mulai menulis makalah sejarah, tiba-tiba terdengar bunyi klik dua kali.

Dia memotretku.

Bukankah ini termasuk licik? Dia memotret tanpa persetujuanku.

Aku menatapnya dengan ekspresi bingung, sedikit marah.

Ji Lang tidak menjelaskan, seperti tidak terjadi apa-apa, dia meletakkan ponselnya dan kembali mengotak-atik.

Aku mencoba menenangkan diri dan berkata, "Apa kau bisa hapus fotonya?"

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments