1. Dasar Sampah

Kesanku tentang Ji Lang tidak terlalu baik, tentu saja, bukan karena dia terlihat tampan, aku juga tampan. Hal utama karena dia telah buang air kecil di sepatuku, dan tidak meminta maaf membuatku merenung sejauh ini.

Itu sepatu putih baruku, aku sudah lama mengidamkannya. Ketika memakai sepatu itu saat kelas olahraga, aku akan berlari sedikit lebih cepat karena takut diinjak oleh para siswa lain di belakangku. Aku sangat menjaganya.

Ketika itu jam istirahat, aku pergi ke toilet, Ji Lang berdiri di sampingku. Dia datang saat aku lebih dulu tiba. Sambil menjepit rokok dimulutnya, dia menurunkan celana olahraga lalu mengeluarkan burungnya dan mulai kencing. Sementara aku mengenakan celana jins dengan ikat pinggang yang sangat sulit dibuka, jadi aku belum mulai membuka celana, dia sudah hampir selesai kencing.

Ikat pinggang itu membuatku malu beberapa saat, awalnya aku hanya sekedar membelinya. Setelah kesulitan membukanya dan hampir membuatku kencing celana, aku akan membuangnya ketika pulang nanti.

Disaat Ji Lang mengguncangkan burungnya, seseorang di luar koridor tiba-tiba berteriak kepala sekolah datang.

Kepala sekolah Lao Liu akan menangkap siswa yang merokok di toilet. Lagi pula, aku tidak merokok jadi biasa saja. Aku melihat Ji Lang panik dengan cepat mengguncang burungnya dan menyimpannya kembali ke dalam celananya lalu melemparkan rokoknya ke dalam urinoir.

Aksinya agak chic membuat urinnya terciprat di kakiku.

Jatuh tepat diatas sepatu putihku.

Saat ini, memikirkan itu membuatku kesal.

Jadi aku hanya punya dua kesan tentangnya: kencingnya berantakan, burungnya besar.

Namun, aku tidak sekelas dengan Ji Lang. Nilainya bahkan lebih buruk. Dia adalah siswa yang buruk. Selalu menetap di ruang guru sepanjang waktu. Dia suka berkeliaran dilapangan dan gang gelap. Memikirkan ini, aku pikir tidak perlu lagi berurusan dengannya.

Tanpa diduga, aku diberi kesempatan untuk membalas dendam. Hal ini dimulai setelah aku memposting sebuah info sewa.

"Hao Yu, apa kau bisa cepat sedikit? Aku hampir kering kepanasan!"

Teriakan Ruan Xuehai membuat kelopak mataku berkedut. Baru juga bulan April, tidak begitu panas, dia saja yang lebay. "Aku sudah bilang kau kesini dan mendinginkan diri, bantu aku bersih-bersih, kau malah tidak datang."

Aku harus melakukannya sendiri.

"Aku tidak pergi, kipas yang rusak tidak cukup untuk mengeringkan keringat naik ke lantai enam."

Aku tengah memegang sapu di tanganku saat ini jadi hanya bisa menjepit ponsel di antara telinga dan bahu. "Tunggu, aku akan menyelesaikannya."

"Kau masih harus membereskan lemari untuk teman sekamar, kau pekerja keras, apa gunanya membersihkan, kau begitu sibuk dan tidak mendapat manfaat apapun, tetapi menguntungkan orang lain."

Aku rasa membencinya karena tidak memompa spons keluar dari pikiranku dan memeras airnya.

"Kau pasti emosi."

Benar-benar tidak berdaya. Ketika teman sekamar tiba, dia pasti akan membawa orang tuanya. Aku tidak bisa membiarkannya membersihkan. Aku setengah tuan rumah, tapi tidak ada kemampuan untuk membuat penilaian yang tajam.

"Tumpukkan saja sampah di tengah rumah dan biarkan dia datang dan sapu sendiri. Kau cepat turun, atau aku akan pergi ke lapangan duluan untuk bermain bola. Kau benar-benar lambat!" Ruan Xuehai mungkin tidak bisa menunggu, dia pasti berdiri di lantai bawah dengan jengkel.

Aku terlalu malas untuk berdebat dengannya, "Yah, aku akan menyelesaikannya jadi tutup telepon."

Bagaimana bisa begitu cepat, masih ada yang harus dibereskan.

Ruan Xuehai tiba-tiba mengumpat, "WTF!!! Tunggu sebentar..."

"Apa yang terjadi? Aku mau menutupnya!"

"Aku baru ingat. Kau tebak siapa yang baru saja kulihat?"

"Siapa?"

"Ji Lang, kelas tiga Ji Lang! Baru saja membawa ibunya ke gedungmu, lantai enam dari unit keenam!"

Mau tak mau aku mengerutkan kening, "Apa urusannya denganku? Kau cepat pergi ke lapangan..."

Suara membuka pintu terdengar saat aku belum menyelesaikan ucapanku dan langsung menutup telepon.

Aku tidak menyangka teman sekamar datang secepat ini. Aku berdiri diam menatap pintu masih memegang sapu, lupa untuk bereaksi.

Tampaknya pemilik gedung telah menyerahkan kunci cadangan.

Pintunya belum dibuka, dan suara seorang wanita terdengar di koridor, "Apa kau bisa diam tanpa terus mengeluh tidak mau tinggal disini?"

"Apa salahnya aku tinggal di asrama? Aku kira apartemen bagus. Ternyata hanya loteng yang rusak! Terus juga masih harus sewa bersama, aku tidak mau tinggal disini!" Suara seorang laki-laki datang dari celah pintu, tampak terdengar familiar.

"Kau masih ingin tinggal di asrama? Kau sudah memukul tujuh teman sekamarmu, kau pikir pihak sekolah masih mau menampungmu?" Wanita itu merasa kesal karena gagal memenuhi harapan. Sepertinya itu adalah ibu dari laki-laki itu.

Wanita itu masuk disela mengoceh.

Tampak sangat cantik dan masih muda.
Ketika dia melihatku, dia terkejut. Sepertinya tidak menyangka ada orang didalam, "Oh, pemuda yang terlihat seperti bintang, halo!"

Bibi itu menghampiriku.

Sangat ramah.

“Halo bibi, aku ... Hao Yu.” Aku berusaha membuat diriku dengan sopan menyapanya, tetapi itu agak canggung, tidak dapat dihindari bahwa itu orang tua dari orang lain.

“Aku tahu, kau pasti teman sewa sekamar kan?” Wanita itu menyampirkan rambutnya ke telinga dan tersenyum sangat lebar, “Lang bodoh, kau masuk, teman sekamarmu tampan.”

"..."

Lang bodoh? Apakah dia benar-benar Ji Lang ...?

Orang diluar tidak merespons.

“Ji Lang! Apa kau tuli?” Bibi tampak marah.

Laki-laki itu muncul di pintu dan menatapku. Setelah beberapa saat dia akhirnya membuka mulutnya, "Hao Yu?"

"Hm." Ruan Xuehai benar-benar ¹paruh gagak, bagaimana bisa teman sekamarku Ji Lang?

¹orang yang telah membuat pernyataan tidak menguntungkan.

Namun, dia sepertinya mengenalku juga.

“Kalian saling kenal?” Bibi bahkan lebih terkejut, dan bertanya dengan cepat.

Aku bergumam, "Satu sekolah, sering melihatnya ..."

Aku tidak bisa bilang kalau aku memiliki kebencian sepihak pada putranya.

Dan kami memang berada di SMA yang sama, tingkat yang sama, dan dilantai gedung yang sama, tentu saja, sering melihat satu sama lain.

"Kenal, tentu saja, aku kenal. " Kata Ji Lang ketika dia masuk. "Bukannya kau peringkat satu seangkatan?"

"..."

Mulut orang ini sangat beracun.

Kata-katanya membuatku merasa malu. Peringkatku biasa hanya berada disekitar 20 atau 30. Pada ujian simulasi terakhir, peringkatku tiba-tiba melonjak dan naik ke posisi satu. Ini sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mendengar itu, aku merasa tidak nyaman karena sangat mungkin peringkatku akan jatuh pada ujian berikutnya.

Begitu mendengar aku yang peringkat pertama, sikap bibi langsung tersulut dan menjerit bahagia. "Oh, Hao Yu, kau sangat pandai. Ji Lang, masuk dan bawa barang bawaan. Ini adalah kesempatan yang baik, berapa banyak orang yang ingin tidur dengan peringkat satu, ayo cepat!"

Apanya yang tidur ah ... Bibi, bisakah kau memperhatikan kata-kata untuk digunakan...

Ji Lang tidak mendengarnya. Matanya menelusuri penampilanku. Begitu mendapati dirinya lebih tinggi dariku, ekspresinya lega.

Apa yang sangat menyenangkan tentang lebih tinggi, aku juga akan berkembang nanti.

"Ji Lang ah, kau bilang padaku tidak mau tinggal di rumah ini. Tiba-tiba mencari rumah sewa di paruh kedua semester. Apa kau pikir itu sangat mudah ditemukan? Yang lain memesan kamar setahun sebelumnya, atau kau mau tinggal di jalan, kalau benar-benar tidak mau, kau pulang kerumah." Bibi mengamuk.

Ji Lang memandangiku atas ke bawah, dan akhirnya berhenti di wajahku, kebetulan yang aneh, "Oke, bertahan seperti ini dulu."

“Kau tidak boleh membully orang di masa depan,” Bibi mengingatkan.

Kemudian, bibi memberiku kartu nama dengan nomor ponselnya, mengatakan jika Ji Lang berani membullyku, aku bisa menghubunginya.

Aku ragu antara mengambilnya atau tidak.
Tampaknya kasar jika tidak menerimanya, tetapi jika aku ambil, itu terkesan aku akan mengeluh.

Ji Lang sangat bermurah hati. Dia mengambil kartu nama ibunya dan melemparkannya langsung ke tempat tidurku. Matanya masih menatapku. Tampak mengungkapkan: aku akan lihat apa kau memiliki keberanian untuk menghubungi ibuku.

Aku hanya bisa meresponnya dengan senyum sopan: Ck, dasar sampah.

.

Note:

/ Sampah ~> 辣雞 - laji artinya ayam pedas atau bahasa gaul internet dari SAMPAH, itu permainan kata pada 垃圾 - juga dibaca laji yang artinya sampah, poor quality.

Itu bahasa digunakan untuk mengumpat pada orang yang dianggap tidak berguna. /

Jadi judulnya itu aku tulis Trash Roommate artinya Teman Sekamar yang Tidak Berguna.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments