Posts

51. Malam Pertama

       Para guru dalam percobaan provinsi juga bangun lebih awal untuk menunggu hasil Jing Ji.      Guru Liu duduk di sofa pagi-pagi sekali, menatap ponsel dengan mata tajam, menunggu Zhao Feng melapor kepadanya.      Akhirnya, ketika hampir jam delapan, pobselnya berdering.      Begitu terhubung, tanpa basa-basi Guru Liu langsung bertanya, "Berapa?"      Napas Zhao Feng berat, tidak bisa lagi menahan kegembiraan di hatinya, hampir meraung, "226! Jing Ji mendapat 226!"      Guru Liu tidak terlalu memperhatikan Olimpiade Matematika Nasional, namun semenjak Jing Ji masuk kelas kompetisi, ia telah banyak belajar tentang kompetisi matematika. Mendengar angkanya, dia tiba-tiba melompat dari sofa, tidak percaya, "Berapa banyak? Berapa banyak yang kau katakan?"      Provinsi Donghai adalah provinsi yang terkenal lemah dalam kompetisi.      Secara umum, dalam kompetisi lima mata ujian masuk perguruan tinggi tingkat nasional, minimal tiga sampai lima orang d

50. Menginap

      Jing Ji tidak mendengar konotasinya, tetapi merasa ekspresinya agak salah, tetapi untuk sesaat dia tidak mengerti apa yang salah, jadi dia mengangguk dengan bodoh, "Ya, itu kurang satu sentimeter."      Ying Jiao tidak bisa menahan tawa.      Jing Ji melirik ke layar lagi dengan bingung. Apakah tinggi dan berat badannya sangat lucu?      Ying Jiao membungkuk dan membisikkan beberapa kata ke telinganya.  Wajah Jing Ji memerah dalam sekejap, dia bergegas ke ruang belajar untuk melarikan diri.      Ying Jiao memasukkan satu tangan ke sakunya, dan mengikutinya perlahan.  Ketika Jing Ji menundukkan kepalanya untuk berpura-pura menjadi ayam hutan, dia duduk di sampingnya dan menyentuh lengannya, "Bantu aku menyelesaikan pertanyaan?"      Ying Jiao memiliki pemahaman menyeluruh tentang Jing Ji, dan paling tahu cara menenangkan diri setelah menggodanya. Benar saja, setelah mengucapkan kata-kata ini, Jing Ji segera mengangkat kepalanya, menahan rasa malu dan berka

49. Ditakdirkan untuk kekurangan 1

       Sampai dia duduk di jok belakang sepeda Ying Jiao, telinga Jing Ji masih merah.      Dia menunduk dan bernapas sedikit cepat. Mengapa Ying Jiao berkata bahwa dia merindukannya?      Apakah ... Apakah itu bercanda?  mungkin. Ying Jiao adalah karakter seperti itu, sering membuat lelucon antar teman-temannya.      Dia menepuk wajahnya yang panas, berhenti memikirkannya, dan memaksa dirinya untuk mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.      Baik rumah keluarga Jing dan rumah Ying Jiao berada di dekat sekolah, jadi tidak jauh.      Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, keduanya sampai ke tujuan.      Ini kali kedua Jing Ji datang ke rumah Ying Jiao. Dibandingkan dengan rasa canggung saat pertama kali, ia lebih malu dan gugup saat ini.      “Mau minum apa?” Ying Jiao membuka lemari es, “Air atau minuman?”      "Air."      Ying Jiao memperhatikan bahwa dia sedikit tidak wajar, berjalan duduk di sofa dengan dua botol air ditangannya, kemudian menepuk posisi di sam

48. Aku sangat merindukanmu

    Hati Zheng Que adalah yang paling tebal di antara ketiganya. Di waktu normal, dia terlalu malas untuk peduli bagaimana Ying Jiao pamer keuwuan dengan Jing Ji. Pada saat itu, ia lebih baik menundukkan kepala dan bermain game.      Tapi hari ini, dia sedikit tidak bahagia, dan ingin mengalihkan perhatikan. Namun baru saja berbicara, tanpa diduga, dia seketika cengo dengan respon Ying Jiao.      Zheng Que duduk lagi, menggali kentang tumbuk dengan perasaan tertekan dan memasukkannya ke dalam mulut.      Ying Jiao chat dengan Jing Ji sebentar, merasa segar, mengambil sepotong Okonomiyaki, ingin melanjutkan makan. Namun melihat wajah Zheng Que yang tertekan, dia membuka ponsel lagi, mengirim chat pribadi ke Zheng Que.      Zheng Que tidak memahaminya untuk beberapa saat, berpikir bahwa Ying Jiao akan pamer keuwuan lagi, dia bertanya dengan waspada, "kakak Jiao, apa artinya ini?"      “Kode kunci pintu.” Ying Jiao menyesap teh hitam grapefruit panas, dan berkata dengan san

47. Sekarang aku bahkan bisa mengetik pesan?

     Ketika Jing Ji kembali ke asrama, baru pukul 10.40, dan lampu di asrama belum dimatikan.      Li Zhou sedang berbaring di tempat tidur dengan kaki terangkat dan bermain game. Mendengar gerakan itu, dia menoleh dan menoleh ke belakang, "kau baru kembali dari belajar mandiri?"      Jing Ji menjawab dengan samar, "hm."      “Kalian Xueba benar-benar bukan manusia.” Li Zhou baru saja mengakhiri permainan, meletakkan ponselnya dan berkata, “sangat betah duduk diam di kelas.” Dia menepuk kepalanya, dan tiba-tiba dia memikirkan sesuatu, dan berkata, “Oh ya, tadi Wu Weicheng datang mencarimu, sepertinya dia punya pertanyaan."      “Hm?” tangan Jing Ji berhenti ketika akan melepas jaket seragam, dia menarik ritsleting tertutup lagi, “Kalau begitu aku akan pergi melihatnya.”      “Hei?!” Li Zhou ingin menghentikannya, memberitahunya bahwa dia telah mengirim pesan WeChat ke Wu Weicheng mengatakan dia sudah kembali, tapi Jing Ji sudah pergi begitu cepat.      &q